
| Selasa, 6 Januari 2004 | Olahraga |
Atlet Cacat Indonesia Perlu PembibitanMASYARAKAT pecinta olahraga di Indonesia mungkin banyak yang belum tahu bahwa seusai pergelaran SEA Games bagi olahragawan normal (noncacat) dilanjutkan dengan event yang sama dengan nama ASEAN Para Games dengan peserta 11 negara. Pesta olahraga itu untuk kaum cacat. Kecacatan fisik atlet meliputi tunanetra, amputi tangan, kaki, kursi roda ini pun terbagi berbagai kategori. Tunanetra terbagi menjadi buta total dan rabun. Kemudian, amputi tangan terbagi menjadi putus tangan kiri dan kanan, atas lengan, atau bawah lengan. Juga amputi kaki dan kaki layu. Semuanya bisa lebih dari 25 ketegori. Dalam APG II Hanoi Vietnam yang diselenggarakan 22-26 Desember 2003 dipertandingkan lima cabang olahraga, yakni atletik, renang, angkat berat, bulutangkis, dan tenis meja. Meskipun hanya lima cabang, ternyata tiap nomor yang dipertandingkan meliputi 11 kategori kecacatan yang diikuti atlet putra dan putri. Misalnya, nomor 100 meter lari, klasifikasi kecatatan meliputi buta total, rabun, dan amputi tangan kanan-kiri. Ini pun masih dipisah lagi cacat di atas lengan atau di bawah lengan. Demikian juga klasifikasi kaki. Total sampai 22 event. Dengan berbagai kategori kecacatan, akibatnya panitia harus menyediakan medali total 724 keping, 312 di antaranya medali emas. Di cabang atletik disediakan 124 keping emas, renang 110 medali emas, tenis meja yang mempertandingkan atlet beregu, tunggal, ganda, putra/putri menyediakan 16 emas. Itulah salah satu perbedaan antara olahragawan noncacat dan cacat di event yang sama. Dengan disediakannya medali begitu banyak, bagaimana peluang atlet cacat Indonesia yang tergabung di Badan Pembinaan Olahraga Cacat (BPOC) yang berpusat di Solo? APG I 2001 di Malaysia yang diikuti 10 negara minus Timor Leste hanya mempertandingan dua cabang olahraga, atletik dan renang. BPOC mengirimkan 31 atlet menduduki urutan keenam dengan perolehan 6 emas, 5 perak, 7 perunggu di bawah Vietnam yang mengais 11 emas. Kali ini di Hanoi BPOC mengirimkan 39 atlet dan peringkat Indonesia naik setingkat menduduki urutan kelima dengan 11 emas, 11 perak, 18 perunggu, di bawah Myanmar dengan 24 emas. Adapun Singapura pada APG I mendulang 16 emas, merosot di bawah Indonesia dengan 10 emas. ''Jika kesempatan atlet masuk pelatnas lebih lama, prestasi atlet kita bisa lebih baik,'' kata para pelatih ditemui terpisah. Semula BPOC memanggil 50 atlet dari Nusantara, akhirnya terjaring 40 atlet untuk masuk pelatnas selama sebulan di Solo. Para atlet dibimbing pelatih yang sangat berkualitas. Mereka adalah Drs Rabito (guru SMK 1 Sukoharjo), Tjayeng Wibowo (pelatih Klub Renang Tirta Darma Solo), Mentin Gunarto (mantan pelatih PABBSI Jateng), Nur Rochman (pelatih Pelatcab PB PMS), dan Bejo Kustino (pelatih tenis meja dari Klub Dwi Bengawan). Gangguan Cuaca Selain pelatnas yang dinilai sangat singkat, juga cuaca di Hanoi saat itu tidak mendukung. Dengan suhu udara 12-15 Celsius dan perjalanan yang sangat melelahkan, banyak atlet yang langsung diserang flu dan demam. Akibatnya, harapan perolehan tiga emas dari nomor tunggal, ganda, dan beregu dari Imam Kunarto atlet bulutangkis peraih emas di Fespic Games Busan (2001) akhirnya sirna. Imam selama tiga hari berbaring di kamar karena demam. Prestasi mengejutkan terjadi di cabang renang. Para perenang tersebut masuk Pelatnas di Solo dan mendapat latihan pagi sore oleh Tjayeng Wibowo. Prestasi para perenang itu saat masuk pelatnas di bawah standar. Bahkan, beberapa perenang berteriak-teriak ingin minta pulang karena mendapat porsi latihan cukup berat. ''Jika ingin berprestasi latihan harus serius, tetapi kalau mau pulang silakan,'' kata Tjyaeng Wibowo kepada para perenang. Ternyata dari empat perenang yang dikirim ke APR II, diraih tiga emas atas nama Tangkilisan Steven Sualang dari nomor 50-100-200 meter gaya bebas, satu perak, dan perunggu. Di nomor atletik Indonesia meraih tujuh emas dan angkat besi satu emas Ketua BPOC Senny Marbun mengaku puas atas prestasi atletnya karena bisa lebih baik dibandingkan dengan APG I. Untuk meningkatkan prestasi di event internasional mendatang, seperti Fespic Gamse (setelah Asian Games) dan Paralimpic (Olimpiade cacat di Athena), diharapkan tiap-tiap daerah menyiapkan mulai sekarang dengan terus berlatih. Chief de Mission Kontingen Indonesia Dr H Husain Argasasmita MA juga mengaku puas. Bahkan, karena melihat negara lain mengirimkan atlet wanitanya, dia juga bermaksud membina atlet putri agar bisa tampil. ''Untuk mencari atlet putri, akan kita lihat di POR Canas di Palembang. Atlet putri berprestasi akan kita bina,'' jelasnya. Kebanggaan juga diungkapkan oleh Ketua KONI Pusat Agum Gumelar ketika membubarkan atlet APG II di lantai IX Gedung KONI Pusat. Dia langsung menyerahkan bonus kepada atlet. (Bambang Seto-57e) |