logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 6 Januari 2004 Berita Utama  
Line

Tanpa Batas Ruang dan Waktu

KETEP merupakan suatu wilayah yang sebenarnya ''nyaris terlupakan'' dari sentuhan kemajuan teknologi industri. Lebih-lebih industri pariwisata yang mau tidak mau melibatkan banyak pihak. Artinya, ia bukan sekadar milik pemerintah atau LSM tertentu. Apabila ingin memajukan objek wisata itu, semua pihak harus mau peduli dan mempunyai sense of belonging.

Pemikiran ini perlu dipelihara, agar proses pembangunannya tak berjalan dengan setengah hati. Dalam persoalan Ketep misalnya, Pemprov Jateng sebenarnya hanya berperan sebagai fasilisator dan dinamisator saja. Sedangkan masyarakat dengan fungsi dan peran masing-masing harus menjadi pelakunya.

Dengan demikian, ada sinergi antarpihak dan antarobjek. Kalau terjadi kesamaan pola pikir, pengembangan Ketep bisa dilaksanakan secara terencana, terpadu dan berkesinambungan. Maklum saja, mengembangkan objek wisata --khususnya wisata alam-- bukannya seperti membalik telapak tangan. Boleh dikatakan, pengembangan industri wisata tak mengenal batas dan waktu, termasuk dalam hal pengembangan Ketep.

Secara geografis, objek wisata Ketep yang seluas 8.000 m2 itu dapat dirancang sebagai simpul wisata Jateng bagian tengah. Misalnya dari Borobudur (Magelang) ke Kopeng (Salatiga), Selo (Boyolali) dan ke Solo atau Semarang. Karena itu, apabila ingin menjadikan pariwisata sebagai salah satu sokoguru perekonomian Jateng, setiap pengembangan satu objek harus terkait objek lain. Keterpaduan antarobjek itulah yang kelak bisa menjadikan Jateng sebagai salah satu daerah tujuan wisata utama.

Jalur wisata Solo-Selo-Borobudur (Sosebo) --dengan Ketep sebagai ikon-- harus memacu pembangunan objek wisata lain di jalur tersebut. Kita tahu, pada jalur tersebut terdapat Pesanggrahan Selo yang dikenal sebagai pos pendakian Merapi. Ada pula petilasan Raja Surakarta dan Kedung Kayang.

Keterkaitan erat antarobjek wisata ini bukan hanya memudahkan wisatawan dalam mengatur perjalanan, melainkan juga akan menghabiskan waktu. Efektivitas serta efisiensi merupakan salah satu pertimbangan bagi wisatawan ketika mengunjungi objek wisata. Oleh karena itu, pembangunan objek wisata Ketep harus diletakkan dalam prioritas penting.

Peran Masyarakat

Disadari sejak awal, penggarapan objek wisata baru hendaknya dilakukan secara sungguh-sungguh. Masyarakat sebagai pelaku usaha harus berperan ganda sebagai pemelihara lingkungan, penjamu wisatawan, dan pengelola objek. Mereka harus memfungsikan diri sesuai dengan bidang masing-masing.

Dari fungsi-fungsi yang berlainan itulah, terbentuk sinergi yang kuat dan akan memberi satu andil besar terhadap keinginan yang ingin dicapai.

Salah satu keunggulan Ketep adalah nuansa alamnya yang indah dan nyaris masih ''perawan'', atau belum tersentuh kerakusan masyarakat kota. Prinsip menjual objek wisata berbasis back to nature ini tentunya sangat tepat. Prinsip itu terasa pas, jika kita ingin menangkap animo wisatawan asing saat ini.

Bali, yang dikenal sebagai daerah yang banyak mengandalkan keindahan alamnya, sejak 10 tahun terakhir telah mengembangkan objek wisata pengunungan. Ternyata tawaran tersebut sangat berhasil. Keindahan pantai serta pasir putihnya memang masih menjadi objek utama, namun wisata alam (pengunungan) bukan hanya sebagai alternatif, melainkan sudah menjadi objek pendamping.

Ketep memang bukan Bedugul atau Kintamani, namun ia tetap memliki keistimewaan dan kekhususan, terutama sebagai objek wisata kegunungapian. Kehadiran Museum Vulcano, Vulcano Theatre, dan Gardu Pandang untuk menatap puncak Merapi, jelas memberikan daya tarik tersendiri.

Mungkin saja museum gunung berapi tersebut merupakan satu-satunya objek wisata di Indonesia. Dengan modal ini, setidaknya kita sudah bisa membayangkan, Ketep tidaklah pantas hanya ditawarkan secara lokalan. Aroma nasional, bahkan mancanegara, sudah tercium dari embusan asap hitam, larva Merapi, dan sejuknya hawa pegunungan.

Kini, potensi yang dahsyat itu bukan hanya menjadi masa depan cerah bagi dunia pariwisata Jateng, tapi sekaligus bisa menjadi tantangan bagi masyarakat untuk menjadikannya sebagai aset yang mampu memberi kontribusi pendapatan kepada daerah dari sektor pariwisata dan peningkatan taraf hidup bagi warga sekitar. (48)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA