
| Selasa, 6 Januari 2004 | Berita Utama |
Memecah Konsentrasi Ekonomi di BorobudurBETULKAH keinginan Gubernur Mardiyanto, yang mati-matian ingin merintis pembangunan Ketep demi kepentingan masyarakat? Pertanyaan ini beralasan. Sebab saat ide itu dilontarkan kali pertama, muncul pro-kontra di tengah masyarakat. Beberapa LSM menolak pengembangan Sosebo sebagai jalur wisata alam. Intinya, mereka menilai proyek ini kelak tidak melibatkan masyarakat, sehingga penduduk sekitar tidak memperoleh manfaat apa pun dari proyek ini. Terlepas benar dan tidaknya tudingan itu, yang pasti dua tahun setelah proyek berjalan, ada denyut kehidupan lain dari masyarakat sekitar. Misi menjadikan Ketep sebagai bagian integral Borobudur ini ternyata berimbas pada terpecahnya konsentrasi ekonomi dan keuntungan wisata dari candi Buddha itu. Banyak hal yang bisa dibisniskan dari proyek ini. Namun sayang, saat ini belum banyak pengusaha yang menangkap peluang itu. Misalnya dengan membuat bungalow, hotel, restoran, dan fasilitas pendukung lain. Peluang lainnya ialah meningkatnya produk pertanian setelah sentuhan teknologi pertanian masuk. Sehingga bukan tidak mungkin jalur Ketep bakal menjadi salah satu urat nadi hasil pertanian di masa mendatang. Meski belum bisa menandingi Bandungan (Kabupaten Semarang) maupun Tawangmangu (Karanganyar), kehidupan masyarakat di sekitar pasar sayur tradisional Cepogo, Boyolali, mulai bergairah. Pembeli kini tidak hanya masyarakat sekitar, tetapi juga para wisatawan yang melewati jalur Sosebo itu. Selain itu, perajin tembaga Desa Tumbang juga mulai ikut terbantu. Mereka kini tidak lagi hanya memikirkan pemasaran produknya. Tapi yang dijangkaunya adalah bagaimana mengembangkan dan memperluas akses pasarnya. Karena itu, perlu dibangun infrastrukturnya. Untuk pertanian, misalnya, produk dari masyarakat masih berskala kecil, sehingga memerlukan tambahan tenaga jika ingin bersaing dengan pengusaha berskala raksasa. Harus ada solusi, bagaimana hasil pertanian dapat tertampung dalam satu pool, kemudian dengan cepat sampai ke pasar. Sebagaimana masyarakat di sekitar objek-objek wisata lainnya, kehadiran turis lambat laun mengubah perilaku, cara berpikir, bahkan mental kehidupan warga di sekitar Ketep. Misalnya, bagaimana mempertahankan budaya lokalnya sebagai ciri khas objek ini, bagaimana menahan laju transformasi budaya kota yang cepat dan bisa merugikan, serta kemungkinan terjadi perubahan kondisi sosial budaya pada masyarakat setempat. Sejak tahun 1990-an, transformasi budaya barat begitu cepat terasa di kalangan remaja Bali. Maukah jika masyarakat di sekitar Ketep ikut-ikutan seperti itu? Maka dari itu, semua pihak perlu mempersiapkan secara matang. Masyarakat perlu mengembangkan budaya dan sikap kepariwisataan (tourism minded), dengan menyingkapi secara arif setiap perkembangan di daerahnya. Pengelolaan Profesional Kalau semuanya sepakat menjadikan Ketep sebagai salah satu sektor pembangunan ekonomi, maka pengelolaannya harus direncanakan secara profesional. Namun kita terkadang kesulitan dalam merumuskan, apalagi mewujudkan, bentuk pengelolaan yang profesional. Misalnya, bagaimana sistem pemeliharaan, model pengembangan, dan bentuk sajiannya. Di dunia pariwisata, turis dari setiap negara punya ciri berbeda-beda. Turis Jepang, misalnya, sangat memperhatikan kebersihan, kenyamanan, serta keamanan di objek wisata. Mereka biasanya datang musiman, dan berombongan, melalui biro travel. Apabila pelayanan kurang, dan kebersihan fasilitas tak terjaga, jangan harap Ketep bisa terjamah tamu mancanegara. Untuk itu, pembinaan dari pihak terkait terhadap pengelola dan juga penyadaran kepada warga sekitar menjadi tourism minded, merupakan sesuatu hal yang sangat penting. Apakah Ketep bisa bersih? Sampai saat ini, kesadaran masyarakat mengenai hal itu belum cukup menonjol. Bonggol-bonggol jagung bakar, puntung rokok, bungkus makanan kecil, dan sampah plastik berserakan di sana-sini. Ia mengotori nuansa alam yang sebenarnya sangat indah. Secara bertahap, warga perlu disadarkan bahwa pengelolaan Ketep harus dilepas dari tanggung jawab masyarakat secara struktural. Jangan sampai pengembangan Ketep justru berpedoman pada keinginan warga yang merasa masih memiliki secara utuh areal wisata tersebut. Mengapa? Sebab Ketep harus bersaing dengan objek wisata yang lain. Bukan hanya objek-objek di Jateng, tetapi juga objek di luar daerah. Disinilah diperlukan satu badan pengelola yang mampu memahami sistem atau gaya pengelolaan sebuah objek wisata. Targetnya, selain memberi kontribusi kepada pemerintah (provinsi dan kabupaten), juga mampu ''membangunkan'' perekonomian masyarakat. (48) |