
| Selasa, 6 Januari 2004 | Berita Utama |
Menatap ''Putri Malu'' dari Ketep''KETEP Pass''. Istilah ini mungkin masih asing bagi sebagian dari kita, meski sudah seringkali disebut-sebut kalangan pemerintahan, khususnya Gubernur Jawa Tengah H Mardiyanto dan jajarannya, saat melakukan sosialisasi pembangunan objek wisata baru yang terletak di Desa Ketep, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang. Ketika itu, awal 2002, proses pembangunannya banyak menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat. Bagaimana kondisi Ketep sekarang, berikut laporan Wartawan Suara Merdeka I Nengah Segara Seni dalam beberapa tulisan berikut. Coba Anda bayangkan, apakah yang akan dilakukan ketika berada di puncak sebuah dataran tinggi? Barangkali Anda akan memandang awan kelam yang membalut puncak gunung, atau kabut putih yang menyelimuti lekukan-lekukan tebing, atau lembah- lembah di dataran rendah. Itulah kesan kita ketika berada di sebuah proyek pembuka isolasi, Ketep Pass, di salah satu kawasan berketinggian 1200 meter dari permukaan laut (dpl) milik Kabupaten Magelang. Dalam dua tahun terakhir ini, proyek yang digagas Gubernur Madiyanto itu makin membuka wawasan kita, bahwa keramahan alam dengan berbagai sumber dayanya itu dapat memberi kenikmatan, sepanjang kita mampu mengelolanya dengan sungguh-sungguh dan arif. Ya, Ketep memang merupakan tawaran baru di dunia pariwisata, yang ''dilempar'' Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng bukan hanya untuk wisatawan lokal, namun juga bersifat nasional --bahkan internasional. Di sana sekarang sudah ada tiga tempat yang bisa kita nikmati. Pertama, Gardu Pandang yang sengaja dibangun sebagai tempat yang nyaman bagi wisatawan dalam memandangi keindahan alam berbukit dan berlembah. Kedua, Ketep Vulcano Centre, sebuah museum mengenai kegunungapian. Ketiga, Vulcano Theatre, yang menjadi tempat pemutaran film berbagai kegiatan Gunung Merapi dan gunung berapi lainnya, mulai dari aktivitas letusan gunung sampai episode pengungsian penduduk. Saat ini, yang menonjol di sana memang masih terpaku pada soal gunung berapi. Mengapa? Jawabannya jelas, karena itulah keistimewaan Ketep. Dari situlah kita bisa menikmati kemegahan gunung Merapi, Sindoro, dan Sumbing, maupun hamparan hijau hutan dan lahan pertanian. Merapi, salah satu gunung berapi paling aktif di negeri ini, seringkali sulit dipandangi keindahan puncaknya dari bawah. Sehingga jika berada di Ketep dalam cuaca terang, kita dapat menikmati keindahan puncaknya, meski dari kejauhan. Warga Ketep dan sekitarnya menjuluki Merapi sebagai ''Si Putri Malu''. Mungkin karena gunung itu sering terselimuti awan. Dan ketika awan menyeruak hilang di tengah cemerlang cuaca siang hari, barulah tersaji sebuah keindahan. Bak putri molek yang membuka kerudungnya, sambil menyajikan keindahan alam puncak Merapi yang biru, menawan, dan menjulang tinggi. SSB atau Sosebo Objek wisata Ketep memang belum banyak dikenal masyarakat. Ini bisa dimaklumi, karena objek tersebut merupakan gagasan baru saat Mardiyanto pertama kali menjadi ''gubernur Jateng''. Bahkan dalam sebuah perbincangan dengan komunitas seniman-budayawan dan bebarapa tokoh masyarakat, dia mengaku Ketep ini adalah sebuah temuan yang sangat tiba-tiba. Pada sebuah kunjungan kerja, dia melalui pertigaan Ketep. Di salah satu puncak dataran tinggi itulah, Mardiyanto berhenti dan menebarkan pandangan: menikmati keindahan alam sekitar. ''Yang terlihat adalah panorama indah. Aroma hutan dan rerumputan usai disiram hujan pun terasa khas. Alangkah baiknya jika di sini ada areal bagi penggemar wisata alam untuk menikmati keindahan ciptaan-Nya,'' katanya waktu itu. Bermula dari ide itulah, kini Ketep berkembang menjadi salah satu objek wisata alternatif, di samping objek-objek lainnya yang sudah dimiliki Jateng, seperti Candi Borobudur, Keraton Surakarta, dan sebagainya. Ketika berada di sana, keindahan alamlah yang bisa kita dapatkan. Selebihnya, masih dalam proses pembangunan dan pengembangan. Masih banyak soal yang harus diselesaikan, seperti membangun hotel (home stay), restoran, fasilitas umum, akses jalan ke berbagai sudut Ketep, dan mengatasi kesulitan air bersih. Akhirnya, tergambarlah sebuah konsep pengembangan Ketep, yang dikaitkan dengan objek wisata sekitarnya. Misalnya dari Solo, melewati Selo (Boyolali), Ketep, dan Borobudur (Magelang). Konsep ini biasa disebut sebagai SSB --sebagian lagi menyebutnya Sosebo-- untuk menggambarkan rute Solo-Selo-Borobudur. Apa pun istilahnya, yang pasti Ketep merupakan objek baru yang perlu ditangani secara terpadu dan berkesinambungan, supaya tidak menjadi bumerang di kemudian hari. Setelah dua tahun berjalan, rintisan Ketep tersebut memang sudah berada pada rel yang benar. Bagi yang memahami dunia pariwisata, tentu inilah jawaban yang pasti, karena Jateng tetap ingin tampil ke depan, baik dalam usaha menjual produk pariwisata maupun menggaet devisa dari wisatawan itu, agar pamor Jateng tak selalu kalah dari DIY. Saya mempunyai pengalaman menarik saat masih sekolah di SMA Saraswati Tabanan, tahun 1976. Dalam perjalanan tur ke Yogyakarta, saya bertanya kepada seorang turis asing di penginapan: Siapa pemilik Candi Borobudur? Jawabannya sungguh mengejutkan: Yogyakarta. Padahal, saya tahu persis, candi Buddha yang juga salah satu keajaiban dunia itu berada di Kabuaten Magelang, Jateng. Ternyata anggapan seperti itu sampai sekarang belum sepenuhnya hilang. Mereka masih menganggap Borobudur merupakan bagian dari industri pariwisata di Yogyakarta. Selama ini, Jateng masih berada di belakang bayang-bayang DIY. Untuk mengusir anggapan keliru ini, perlu dilakukan gerakan menumbuhkan, pengembangan, serta membangun fasilitas wisata di provinsi ini. Ketep rasanya sangat pas dijadikan sebagai simpul jalur wisata. Di Bali, hubungan antara objek yang satu dan objek lain sudah terangkai dengan baik. Dari Besakih, Kintamani, Bedugul, dan Sangeh, terangkai dengan baik. Pun objek-objek wisata di bagian utara Pulau Dewata. Maka masterplan seperti itu harus dibangun pula di Jateng. Memang perlu waktu lama dan biaya besar dalam mengubah citra Jateng agar tidak selamanya menjadi bayang-bayang DIY. Hal ini bukan hanya tugas Pemprov Jateng, melainkan tanggung jawab masyarakat, khususnya komunitas pariwisata (travel tour, pemandu wisata, dan Dinas Pariwisata). Mbah Wiryo, salah seorang penduduk yang ditemui di Ketep, terlihat manggut-manggut tanda kagum. Tunggu! Ia bukannya kagum pada kemegahan puncak Merapi yang sudah sering disaksikannya, tetapi kagum melihat proses pembangunan yang menurutnya sangat cepat. ''Kalau dibangun dengan baik seperti ini, tentu masyarakat akan ikut menikmati kemajuannya. Misalnya, penduduk bisa menjajakan hasil bumi berupa jagung atau yang lain kepada pengunjung, yang mulai ramai pada hari-hari tertentu. Jalan-jalan juga dibangun bagus,'' katanya malu-malu, dengan bahasa Jawa halus. Itu tentu pikiran sangat sederhana dari seorang penduduk kampung yang berada di pelosok, dan berpuluh tahun terisolasi dari kemajuan zaman. Pengembangan ke depan tentu tak sesederhana itu, sebab banyak aspek yang harus diperhitungkan. Mulai dari aspek budaya, sosial, kesimbangan alam, lingkungan, hingga potensi terjadi perubahan kultur masyarakat setempat. Pengaruh wisatawan (pendatang), apalagi dari mancanegara, tentu sangat dahsyat terhadap perubahan budaya setempat. Barangkali untuk tradisi adat, pengaruhnya relatif kecil. Tetapi soal perilaku generasi muda, siapa bisa menangkalnya? Karena baru ''dilahirkan'' dua tahun lalu, Ketep ibarat balita yang belum lama bisa berjalan. Sebagai objek wisata masa depan, dia masih memerlukan sentuhan-sentuhan dari berbagai sisi dan pihak. Tapi melihat posisinya, Ketep nampaknya bisa memecah konsentrasi wisatawan di bagian barat (Yogyakarta-Borobudur) agar melirik ke timur, melalui Ketep dan Solo. Proyek ini juga untuk memperpanjang masa liburan wisatawan asing di Jateng. (48) |