logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 6 Januari 2004 Berita Utama  
Line

Longsor di Kaki Ciremai, Ibu dan Tiga Anaknya Tewas

BANDUNG-Empat orang, seorang ibu beserta tiga anaknya, tewas setelah rumah mereka diterjang longsor. Saat kejadian para korban tengah berada di rumah di Desa Wanahayu, Kecamatan Maja, Kabupaten Majalengka atau di arah barat Gunung Ciremai Jabar.

Kejadiannya sendiri berlangsung pada Minggu malam sekitar pukul 21.30 WIB. Selain memakan korban jiwa, longsor juga dilaporkan telah merusak rumah lainnya. Kapolres Majalengka AKBP Muktiono ketika dihubungi membenarkan adanya musibah itu. "Anggota saya dan petugas Satkorlak Bencana Alam serta Pemda setempat sudah meluncur ke lokasi sejak tadi pagi. Tapi saya belum mendapatkan laporan lebih rinci, karena hubungan komunikasi ke sana masih terputus," tuturnya.

Lokasi bencana sendiri berada di daerah pegunungan di sebelah selatan kota Majalengka. "Jaraknya sekitar 40-an km dari kota Majalengka. Saya juga sedang menjalin kontak dengan anggota saya di sana. Yang terdepan ada di Polsek Maja. Hanya itu tadi, komunikasi belum berjalan lagi dengan baik," tuturnya.

Soal korban meninggal yang disebutkan mencapai 4 orang, menurut Kapolres masih belum bisa dikonfirmasikan. "Nantilah, setelah ada laporan lanjutan yang lebih rinci dan lengkap saya informasikan lagi," katanya.

Untuk diketahui, di daerah selatan Majalengka merupakan daerah perbukitan. Selain rawan longsor, di daerah ini juga sering dilanda gempa bumi.

Direktur Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi, Ahmad Djumarma mengatakan, hingga kemarin sebab-sebab terjadinya musibah masih diselidiki. ''Yang jelas longsor terjadi setelah daerah tersebut diguyur hujan deras lebih dari tiga jam," katanya di Bandung Senin kemarin.

Dalam peta zonasi, lanjut Djumarma, daerah itu masuk dalam kategori kuning atau termasuk dalam wilayah yang rawan longsor menengah. Jalur patahan Baribis juga melintas, sehingga selain rawan longsor, juga rawan dilanda gempa bumi.

Tentang apakah longsor kemungkinan dipengaruhi aktivitas Gunung Ciremai yang belakangan dinyatakan berstatus waspada, dia menjelaskan kejadian itu tidak ada kaitannya. "Apalagi sejak 30 Desember lalu, status gunung itu sudah aktif normal kembali dari asalnya waspada," katanya.

Jika sebelumnya gempa vulkanik mencapai 12-18 kali per hari, kini intensitas dari perut Gunung Ciremai jauh berkurang. Gempa sejenis hanya terjadi sehari sekali. Sementara gunung api lain, seperti Semeru dan Ijen masih dinyatakan waspada bersama gunung lain di luar Pulau Jawa, seperti Lokon, Karangetan, Soputan di Sulawesi serta Dakon Halmahera Maluku.

Pengamat Longsor

Sementara itu, daerah-daerah yang dinyatakan memiliki titik-titik rawan bencana tak ada salahnya mempunyai tenaga pengamat longsor. Langkah ini merupakan salah satu peringatan dini guna menghindari dampak yang lebih jauh.

Keberadaan pengamat ini, menurut Djumarma idealnya ditujukan untuk kawasan yang menjadi langganan longsor. Dalam sosialisasi kepada masyarakat, pengamat bertujuan menyamakan persepsi terutama dalam cara melakukan mitigasi (peringatan dini). Sebelumnya mereka akan dibekali pengetahuan tentang kelongsoran dalam pelatihan.

Sang pengamat sendiri paling tidak punya tugas menyurvei retakan tanah yang harus segera ditambal, bukit-bukit, apakah tanamannya cukup kuat, dan apakah sifatnya batuannya lolos air, sehingga dapat dijadikan pemicu terjadinya longsor.

Selain itu, dia juga melakukan pengamatan terhadap daerah permukiman, karena sering sendiri keberadaannya malah membahayakan penghuninya. "Jelas ini memerlukan koordinasi, terutama dengan Pemkab."

Tak hanya itu, adanya pengamat longsor juga akan memudahkan dalam proses pelaporan kejadian ke pihak-pihak terkait. "Selama ini tak ada standar soal itu. Bila lapor, pelapor yang kebanyakan sukarelawan itu malah sering dipingpong," katanya.(dwi,dtc-64)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA