
| Selasa, 6 Januari 2004 | Berita Utama |
Perahu Ditabrak Kapal Kargo
BREBES - Tiga dari 12 ABK (anak buah kapal) Intan Jaya asal Desa Kluwut, Kecamatan Bulakamba, Brebes, hingga kini belum diketahui nasibnya, setelah perahu yang mereka tumpangi ditabrak kapal kargo 45 ribu ton, di perairan Mringge, Lampung Tengah. Sembilan ABK yang selamat, kemarin baru bisa pulang ke kampung melalui perjalanan darat. Mereka yang selamat terdiri atas Samsudin (pemilik kapal), Wakidin, Junaedi, Tomari, Yanto, Daim, Warid, Darto dan Yoyo. Samsudin didampingi Kepala Desa Kluwut, Achmad Muttaqien dan Ketua Kelompok Nelayan Damir mengatakan, musibah yang menimpa perahu nelayan terjadi 23 Desember 2003 sekitar pukul 23.00. Ketika itu, posisi perahu sedang lepas jangkar tengah laut. Para ABK semua dalam posisi istirahat tidur di atas perahu, karena seharian kelelahan mencari ikan di perairan Mringge. Dalam keadaan tertidur, tiba-tiba sebuah kapal besar menghantam kapal nelayan, sehingga perahu pecah berkeping-keping. Semua ABK terlempar ke laut. Sembilan di antaranya berhasil menyelamatkan diri dengan cara berenang 9 jam lebih, sampai akhirnya ada perahu lain yang menolongnya. ''Tapi sejak kejadian itu, tiga ABK seorang di antaranya nakhoda Warkadi (29) belum kembali. Pihak keluarganya menanti kabar mereka,'' kata Kades Kluwut Achmad Muttaqien, kemarin. Berita tentang musibah itu diperoleh Kades Kluwut, Kamis 4 Januari lalu, ketika Samsudin dkk yang selamat memberitahukan lewat telepon dari tempat pendaratan kapal nelayan Kronjo, Tangerang. Samsudin yang diselamatkan teman satu kampung yang sama-sama mencari ikan di Mringge, langsung diangkut ke Kronjo, kemudian pulang lewat perjalanan darat. Menurut Samsudin, kapal penabrak mempunyai ciri-ciri warna cat hijau muda dengan strip merah. Kapal tersebut sangat besar, diperkirakan kapal kargo (barang). Setelah memporakporandakan perahunya, kapal tersebut kabur di kegelapan malam. Atas kejadian tabrak lari itu, pihak paguyuban nelayan Kluwut sudah melaporkan ke Syahbandar Merak dan Tanjung Priok, KPLP Kronjo, dan Keamanan Laut (Kamla) Kalibaru-Jakarta Utara. Namun hingga kini belum ada kabar kapal apa yang menabrak. ''Kami berharap aparat yang berwenang di laut segera dapat menangkapnya. Syukur mereka menyerahkan diri,'' kata Sunarto, penasihat nelayan Kluwut yang tinggal di Kalibaru, Jakarta. Dari Samping Bagaimana Anda dan ABK lain bisa selamat ? ''Semua berkat kekuasaan Allah semata,'' tutur Samsudin. Sebab, saat perahu dihantam dari samping, dia maupun ABK lain dalam posisi tertidur. ''Saya kaget dengan suara benturan keras. Ketika bangun sudah berada dalam air,'' ujarnya sedih. Dalam keadaan setengah sadar, lelaki berkulit hitam itu berusaha meraih kayu serpihan perahu. Teman yang lain juga melakukan hal serupa, sehingga mereka bisa bertahan sembilan jam lebih. ''Yang repot ketika datang ombak besar, serpihan kayu yang saya pegangi lepas, sehingga saya harus berusaha meraihnya kembali,'' kenang Samsudin. Saat berlayar Samsudin bersama anaknya Wakidin yang juga selamat. Dari pukul 23.00 malam (23/12), hingga pukul 09.00 pagi (24/12), Samsudin dkk lima orang, berusaha bertahan menunggu datangnya pertolongan. Untung saja tak lama kemudian muncul perahu nelayan yang dinahkodai Daryono mendekat ke lokasi. Samsudin melambai-lambaikan tangan, yang disambut dengan makin mendekatnya perahu milik Daryono. ''Ketika posisi sudah makin dekat, Daryono melemparkan tali, kemudian satu per satu ABK yang sedang berenang diselamatkan.'' Lima BK yang diselamatkan Daryono adalah, Samsudin, Wakidin, Juaedi, Tomari dan Yanto. Sedangkan empat lainnya, terdiri Daim, Warid, Darto dan Yoyo diselamatkan oleh nelayan dari Mringge yang kebetulan melewati lokasi kejadian. Ke empatnya lalu disinggahkan ke pelabuhan Mringge, kemudian dititipkan perahu yang akan ke Kronjo, Tanggerang. Menurut Samsudin, pencarian ikan di perairan Mringge cukup menghasilkan ikan dalam jumlah besar, karena di perairan itu belum banyak nelayan yang menjamah. Sayangnya di perairan tersebut sering muncul perompak, yang menjarah hasil tangkapan nelayan. Untuk menghindari perompak, mereka melakukan istirahat di tengah laut. Nahas baginya ketika asyik lepas jangkar, muncul kapal besar yang langsung menabraknya.(wh-58) | |||||