
| Selasa, 6 Januari 2004 | Semarang & Sekitarnya |
Gong Xi Fa CaiSiu Hok Bio, Kelenteng TertuaBAGUNAN Kelenteng sebagai tempat ibadah sudah ada di Indonesia sejak 400 tahun yang lalu. Tempat ibadah ini (yang kemudian oleh orang Indonesia disebut kelenteng) merupakan tempat sembahyang penganut Buddha Konghucu dan Tao. Banyak yang berasumsi bahwa kata kelenteng merupakan adaptasi dari bahasa asing. Tetapi ternyata ini merupakan kata asli dari bahasa Indonesia. Ada dua versi cerita tentang asal mula kata kelenteng. Yang pertama adalah kata Kelenteng yang berasal dari kata ''klinting'' atau genta yang dipukul pada saat upacara di kelenteng. Yang kedua, berasal dari kata ''Yin Ting'' dari kata ''Guan Yin Ting'' yang artinya tempat ibadah Dewi Kwan Im. Salah satu kelenteng tertua di Semarang adalah Kelenteng Siu Hok Bio yang didirikan pada 1473. Namun, hingga sekarang siapa yang mendirikan belum diketahui secara pasti. Tidak ada catatan atau dokumen mengenai sejarah kelenteng tersebut. Namun, bila berbicara tentang tempat ibadah yang satu ini tidak terlepas dari sejarah Kota Semarang dan keberadaan orang Tionghoa di kota ini. Ketika itu, warga Tionghoa di Semarang yang sebagian besar adalah pedagang menjadikan kelenteng tersebut sebagai sarana bersembahyang sekaligus berkumpul dan melepas kangen. Sekarang ini meski berada di tengah-tengah bangunan yang menjulang tinggi, kelenteng berlokasi di Jl Wotgandul Timur ini kini masih tampak terawat dan megah. Adapun para Sien Bing (para suci) yang dipuja di kelenteng ini adalah Dewa Bumi, Dewi Kwan Im dan Haow Ciang Kong atau Hok Tek Tjeng Sien/Fu De Zhen Shen, Kwan Sing Tee Koen/ Guan Gong dan Kwan See Im Po Sat. Di antara tempat pemujaan yang ada, lokasi sembahyang yang paling besar adalah Dewa Bumi. Pemujaan yang paling banyak didatangi adalah di patung Dewa Bumi dan Dewi Kwan Im ini. Oleh warga kelenteng, dewa ini merupakan tempat untuk memohon kemudahan dalam hal keuangan dan dagangan, sedangkan Dewi Kwan Im adalah dewi yang penuh welas asih.
''Warga yang datang tidak hanya dari Semarang tetapi dari kota-kota lain seperti Solo, Pekalongan dan Surabaya,'' kata Hendro, pembina Kelenteng Siu Hok Bio. Dibanding Kelenteng Gedung Batu di Jalan Simongan, kelenteng ini masih kalah besar. Namun, bentuk bangunannya hampir sama. Bangunan suci (tempat patung dewa) didirikan di atas podium, dikelilingi pagar keliling, mempunyai letak yang simetris dengan atap berarsitektur Cina. Bangunan ini strukturnya terdiri dari tiang dan balok serta motif dekoratif untuk memperindah bangunan. Satu hal lagi yang tidak dapat dilupakan mereka dalam pencarian lokasi-seperti halnya kelenteng ini- adalah berpedoman pada hong sui (feng sui). Ujung-ujung atap (bumbungan) gedung induk dengan genteng yang bagus melengkung ke atas, dihiasi dengan naga-naga dan berbagai patung porselin. Bagian muka kelenteng ini agak rumit. Pintu ganda utamanya dilukisi gambaran penjaga sedangkan tulisan horisontal pada papan kau diatas pintu masuk menunjukan nama kelenteng ini. Keindahan bangunan dengan ragam legenda dan nilai historis di dalamnya, serta kekhasan kawasan pecinan itu akan ''dijual'' oleh Pemrov Jateng dan KOPI Semawis (Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata) menyambut Imlek 2555. (Arie Widiarto-73) |