logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 6 Januari 2004 Semarang & Sekitarnya  
Line

Panduan Masa Depan Kota

KESIBUKAN seorang pegawai negeri sipil (PNS) Pemerintah Kota dalam melaksanakan tugasnya memang bukan hal yang aneh. Namun, akan terasa lain jika tugas itu menumpuk dan semuanya penting, serta menyangkut masa depan Kota Semarang.

Hari-hari super sibuk pun akhirnya harus dilalui. Tentunya, ketekunan, kehatian-hatian, kesabaran, dan kecermatan menjadi hal yang tidak dapat dipisahkan dalam penyelesaian tugas tersebut.

Ir M Farchan, barangkali bisa digolongkan sebagai staf Pemerintah Kota yang harus melalui hari-hari penuh kesibukan tersebut. Bukan untuk apa dan siapa, namun masa depan Semarang sudah menanti di balik kesibukan yang harus dilakukannya ini.

''Saya kira ini sudah menjadi tugas dan tanggung jawab. Maka, harus saya selesaikan sebaik-baiknya meski menyita waktu sampai malam,'' kata Farchan.

Kasubid Pengembangan Kawasan Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota tersebut selama ini memang dianggap cukup berperan di instansi itu. Tak sedikit orang yang menganggapnya sebagai ''penjaga gawang'' di Bappeda Kota.

Evaluasi RDTRK

Apalagi jika melihat kesibukannya akhir-akhir ini, antara lain aktif dalam setiap pembahasan panitia khusus (pansus) DPRD Kota menyangkut evaluasi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) untuk Bagian Wilayah Kota (BWK) I sampai X.

Persiapan untuk evaluasi Perda No 1 sampai 11 tahun 1999 itu sudah dilakukan sejak lama. Untuk membahasnya pun juga perlu waktu yang tidak sedikit, yakni ulai 29 Desember 2003-26 Februari 2004. Barangkali ini waktu yang cukup lama bagi pansus untuk membahas sebuah evaluasi perda. Maklum, perda tentang RTRW dan RDTRK merupakan rencana masa depan kota. Tanpa panduan itu, perkembangan kota akan berjalan tanpa arah.

Tak hanya itu. Pria asli Semarang yang lahir 42 tahun lalu itu juga akan disibukkan dengan appraisal Urban Sector Development Reform Program (USDRP) pada pertengahan Januari ini.

Sebagai Local Officer program tersebut tentunya cukup banyak waktu yang harus diluangkan.

Semarang memang terpilih dari sekian ratus kota/kabupaten se-Indonesia untuk program tersebut. Dari 240 kota/kabupaten, setelah diseleksi terus mengerucut menjadi 120, 60, dan akhirnya hanya 20. Dari 20 kota/kabupaten, yang 10 mendapat prioritas utama, termasuk Semarang, sedangkan 10 lagi pada tahun selanjutnya. Secara kebetulan pula Semarang masuk tiga kota/kabupaten yang diunggulkan untuk percontohan, selain Kabupaten Sleman dan Kota Blitar.

Belum lagi kaitannya dengan revitalisasi kawasan Pecinan. M Farchan yang juga Sekretaris Eksekutif Dewan Pertimbangan Pembangunan Kota (DP2K) ini juga menjadi fasilitator program tersebut. Rencananya pada 15 Januari mulai sosialisasikan, dan pada 2 Mei hari jadi Kota Semarang, dilakukan pencangangan pembangunannya.(G7-63)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA