logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 6 Januari 2004 Semarang & Sekitarnya  
Line

Meski Hujan, Kedungombo Masih Kritis

GROBOGAN - Waduk Kedungombo di Desa Rambat Kecamatan Geyer Kabupaten Grobogan masih dalam keadaan kritis. Sebab, elevasinya belum ada tanda-tanda naik.

Bahkan sampai kemarin masih bertahan pada angka 76 meter. Padahal hujan terus mengguyur di daerah itu dan bagian hulu Kedungombo.

''Untung ada hujan. Kalau tidak, bisa dipastikan puluhan ribu hektare tanaman padi di Grobogan dan sekitarnya mati kekeringan,'' kata Parjono (40), petani di Purwodadi, kemarin.

Sejak Oktober lalu, elevasi Kedungombo menurun drastis. Karena sebelumnya air digelontorkan untuk kepentingan pertanian tanaman pangan dan air minum. Namun setelah elevasinya pada posisi rawan, oleh Pengelola Sumber Daya Air (PSDA) langsung ditutup. Karena itu, tanggulnya tak terancam retak akibat kekeringan.

Diperoleh keterangan, untuk menaikkan elevasi, Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BBPT) dan pihak terkait di Pemprov Jateng sudah mengadakan hujan buatan di Sragen, Boyolali dan sekitarnya yang menjadi hulu Kedungombo. Hujan buatan itu dikabarkan menelan dana ratusan juta rupiah dari APBN 2003. Namun, karena arah angin selalu tak menentu, BPPT gagal mengarahkan hujan buatan tersebut ke hulu waduk.

Belum Normal

Bahkan sampai Desember lalu elevasi waduk itu tidak didapati tanda-tanda naik. Karena itu, waduk tersebut sampai kemarin masih ditutup untuk pertanian tanaman pangan. Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan tanaman padi terpaksa mengandalkan air hujan dan sebagian kecil disuplai dari sisa-sisa penggelontoran Kedungombo di Bendung Sidorejo, Sedadi dan Klambu.

Pimpro Pemeliharaan Jaringan Irigasi Waduk Kedungombo Dinas PU Bina Marga Jateng H Margono ST MM mengatakan, cuaca di hulu Kedungombo belum normal. Sebab, curah hujannya rata-rata masih di bawah 50 mm. Di daerah Grobogan pun kurang dari angka itu. Akibatnya, elevasi Waduk Kedungombo tidak dapat segera terangkat.

Meski curah hujan kurang dari 50 mm di Grobogan, sempat terjadi banjir di Gubug dan Lusi. Air hujan dari hutan lebih banyak lari ke Sungai Lusi, sehingga menyebabkan sungai itu tidak mampu menampung debit kiriman dalam jumlah besar. Akhirnya, air meluap ke daerah permukiman penduduk dan sawah-sawah petani. (A23-73k)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA