
| Selasa, 6 Januari 2004 | Semarang & Sekitarnya |
Penanganan DB Harus secara KomprehensifSALATIGA - Keberadaan penyakit malaria, demam berdarah dengue, dan penyakit tular vektor lainnya hingga sekarang dirasakan masih tinggi. Untuk itu, pemberantasannya masih perlu ditingkatkan. ''Pemberantasan penyakit-penyakit tersebut tak cukup hanya secara teknis, tetapi juga harus bersifat nonteknis dan komprehensif,'' kata Wali Kota Salatiga H Totok Mintarto Notonagoro dalam sambutannya yang dibacakan Sekda Drs Sutedjo, baru-baru ini. Dia mengatakan hal itu saat membuka acara International Training Course on Comprehensive Vektor Control, di Salatiga. Kegiatan itu diikuti 26 orang yang berasal dari delapan negara, yakni Thailand, Myanmar, Srilanka, Maldives, Buthan, Nepal, Bangladesh, dan Indonesia sendiri. Dikatakannya, kegiatan nonmedis yang menitikberatkan pada aspek sosial sangat diperlukan. Terutama dengan memberikan penyuluhan dan pengertian serta mengubah lingkungan permukiman ataupun perilaku hidup yang semula tidak mendukung syarat-syarat kesehatan, menjadi kondisi yang lebih baik. Mengingat begitu kompleksnya permasalahan penyakit tersebut, untuk penanganannya perlu melibatkan berbagai komponen yang ada dalam masyarakat. Untuk mendukung terwujudnya tujuan tersebut, sangat diperlukan kesamaan persepsi, visi dan misi, baik filosofi maupun aksi. ''Dalam rangka itu, workshop yang diselenggarakan ini diharapkan dapat membahas pendekatan yang lebih komprehensif dan lebih difokuskan pada pengelolaan penyakit-penyakit tersebut. Dengan demikian dapat menghasilkan solusi dan alternatif jalan keluarnya berupa langkah-langkah operasional yang konkret, efektif dan efisien,'' papar Totok. Kepada peserta kursus, Wali Kota memamerkan potensi bidang kesehatan di wilayahnya. Kota Salatiga bependuduk 143.424 jiwa atau 32.654 kepala keluarga (KK). ''Meskipun sebagai kota kecil, fasilitas kesehatan yang dimiliki dirasakan sudah cukup memadai,'' ujarnya. RSUD, RS paru-paru, RSU THT swasta masing-masing ada sebuah. RSU swasta dua buah, puskesmas 6 buah, puskesmas pembantu 15 buah. Selain itu, terdapat posyandu balita 255 buah, posyandu lansia 38 buah, puksesmas keliling 51 buah, balai pengobatan negeri dan swasta 4 buah, RSB 3 buah, laboratorium klinik 4 buah, akupunktur 9 buah, apotek 16 buah serta optik 7 buah. (A2-84k) |