logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 6 Januari 2004 Internasional  
Line

LINGKUNGAN

Dunia Kebingungan Buang Sampah Nuklir

STOCKHOLM - Sejak awal era nuklir, sampah-sampah amat radioaktif telah melintasi benua-benua dan lautan, untuk dicarikan tempat aman bagi peristirahatan terakhirnya.

Banyak negara menghasilkan sampah nuklir. Beberapa jenis sampah itu akan terus bersifat radioaktif selama ribuan tahun, namun sejauh ini belum ditemukan cara paling tepat untuk menyimpan dengan aman sampah-sampah itu.

Pada saat ini, sampah yang sangat radioaktif diamankan dalam gudang penyimpanan sementara. Selama 30 sampai 40 tahun, barulah tingkat keradioaktifan dan emisi panasnya berkurang.

Namun, setelah itu, ia tetap saja berbahaya dan harus disimpan di suatu tempat permanen yang benar-benar aman bagi lingkungan dan makhluk hidup. Di banyak negara, tidak jelas siapa yang harus membayar ongkos pemeliharaan sampah nuklir untuk jangka waktu ratusan bahkan ribuan tahun.

Kebanyakan sampah radioaktif level tinggi - jenis yang paling berbahaya - adalah bahan bakar bekas pakai di 400 lebih PLTN di sekitar 30 negara seluruh dunia.

Dimusnahkannya stok senjata nuklir pasca-Perang Dingin, menambah banyak jumlah sampah nuklir yang amat berbahaya tersebut. Bahkan negara-negara nonnuklir sekalipun, menghasilkan sampah radioaktif (dari RS-RS yang mempunyai fasilitas terapi radioaktif dan pusat-pusat riset).

Para pakar mengatakan, teknologi membuka peluang untuk menyimpan sampah nuklir jauh di bawah permukaan tanah selama jutaan tahun. Kebanyakan negara berencana menyegel sampah nuklir dalam kontainer, dan selanjutnya menyimpan kontainer itu 500 meter sampai 1.000 meter di dalam tanah.

Namun mereka yang skeptis mengatakan, cara itu mungkin aman untuk puluhan bahkan ratusan tahun, tetapi kelemahannya adalah kontainer tersebut bisa saja bocor atau diincar teroris.

''Bila tidak ada pemecahan yang dapat dipertanggungjawabkan untuk mengatasi sampah nuklir, mungkin lebih baik menyimpannya di permukaan tanah untuk waktu cukup lama, sambil kita mencari teknologi yang lebih aman,'' kata Martina Krueger, yang bekerja untuk organisasi lingkungan Greenpeace di Swedia.

Untung Ruginya

Sejumlah politikus telah menuntut agar dibuat gudang penyimpanan di permukaan tanah, sehingga generasi masa depan dapat membukanya dan menghilangkan keradioaktifan sampah nuklir dalam gudang itu dengan teknologi baru.

Yang lain mengatakan cara tersebut juga dapat menimbulkan bahaya, sebab sampah yang disimpan di gudang seperti itu amat rentan terhadap kekacauan politik potensial, ribuan tahun ke depan kelak.

Kalau sampah nuklir sungguh aman di dalam gudang penyimpanan sementara, mengapa tidak diwujudkan saja?

''Sungguh, ini cara yang aman. Tetapi, yang harus kita bicarakan adalah untung ruginya,'' kata Thomas Sanders dari Sandia National Laboratories, sebuah laboratorium milik Pemerintah AS.

Beberapa PLTN (pembangkit listrik tenaga nuklir) sekarang sudah mencapai batas kemampuan untuk menyimpan sampah radioaktifnya. Dan sejak aksi kamikaze 11 September 2001 di AS, perhatian orang teralihkan pada PLTN-PLTN, dan apakah PLTN-PLTN itu terlindungi dari kemungkinan serangan teroris.

Negara-negara Uni Eropa (UE) berencana membangun gudang-gudang penyimpanan khusus pada 2020. Tetapi, beberapa di antaranya punya gambaran pun belum tentang di mana gudang itu akan dibangun.

Pada 2001 lalu, Finlandia menjadi negara pertama dan sejauh ini satu-satunya anggota UE yang telah memutuskan letak bakal gudang penyimpanan final sampah-sampah nuklir miliknya.

Amerika Serikat berencana menyimpan sampah nuklir dari 103 PLTN-nya jauh di bawah permukaan tanah Pegunungan Yucca di Negara Bagian Nevada. Tempat itu diharapkan mulai dapat diisi pada 2010, tetapi menghadapi protes dari warga lokal.

Para pengkritik mengatakan gudang-gudang sentral yang besar, sekali lagi akan meningkatkan risiko kecelakaan, atau dicuri orang, pada saat sampah-sampah nuklir diangkuti dari PLTN-PLTN seluruh AS ke gudang penyimpanan final itu.

Siapa Tanggung Biaya?

Dalam banyak kasus, tidak jelas berapa lama sampah nuklir harus menjadi tanggung jawab perusahaan atau organisasi yang menghasilkannya, dan kapan negara mengambil tanggung jawab itu.

Ini membuat sulit bagi pihak-pihak yang berkepentingan untuk menghitung-hitung biaya, utamanya kalau gudang-gudang penyimpanan dibangun dengan cara memperhitungkan risiko-risiko keamanan.

''Contoh kasus adalah Prancis. Amat sulit menghadirkan biaya yang pasti, sebab pemerintah belum memutuskan strategi jangka panjang bagi pengelolaan sampah nuklir untuk waktu lama,'' kata Yves le Bars, pimpian ANDRA.

ANDRA adalah lembaga pengelola sampah nuklir di Prancis, yang juga PLTN terbesar di Uni Eropa.

''Bisa kami katakan, perlu 15 miliar sampai 25 miliar euro untuk membangun sebuah saja gudang penyimpanan, mengoperasikanya, dan menutup segala fasilitas yang ada,'' katanya.

Gudang tersebut dapat menampung semua sampah nuklir level tinggi dari 58 PLTN Prancis, itu pun dengan asumsi sejumlah bahan bakar nuklir bekas diproses kembali.

Mencari lokasi merupakan faktor tersulit. Di Korsel, negara selama bertahun-tahun mencoba mencari sebuah kabupaten yang bersedia ketempatan bagi gudang penyimpanan sampah nuklir level rendah dan menengah.

Pada akhirnya, tahun 2003 lalu, Kabupaten Buan mengajukan diri dan menyarankan Pulau Wi-do sebagai tempat dibangunnya gudang penyimpanan sampah nuklir. Pulau itu didiami 1.000 orang, kebanyakan nelayan.

''Mereka bersedia ketempatan, karena pemerintah menjanjikan imbalan finansial yang besar sekali,'' kata Myung Jae-Song, manajer umum Korea Hydro and Nuclear Power Company, PLTN terbesar kelima di dunia. (rtr-ed-30)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA