logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 6 Januari 2004 Internasional  
Line

Jinakkan Bom, Dua Polisi Thailand Tewas

BANGKOK - Dua polisi Thailand, kemarin, tewas akibat ledakan bom di bagian selatan negara itu yang sebagian besar penduduknya muslim. Ledakan tersebut terjadi tak lama setelah pemerintah menyatakan negara dalam keadaan perang di tiga provinsi di dekat perbatasan Malaysia, menyusul serangan-serangan oleh penyelundup senjata.

Kedua petugas naas tersebut tewas ketika berusaha menjinakkan bom yang tersembunyi di bawah kendaraan di sebuah ruang pamer sepeda motor di Provinsi Pattani, Thailand selatan, kata polisi kepada Reuters.

''Mereka tewas sewaktu berusaha menjinakkan bom yang tersembunyi di tanki sebuah sepeda motor yang diparkir di depan ruang pamer sepeda motor,'' kata seorang petugas di Kantor Polisi Pattani.

Dua petugas polisi lain terluka akibat bom waktu yang meledak di dekat telepon umum tempat mereka bekerja, kata Kepolisian Pattani.

Serangan-serangan tersebut menyusul penyerbuan maut oleh orang-orang bersenjata yang menewaskan empat prajurit. Mereka juga mencuri banyak senjata selama penyerbuan ke sebuah gudang senjata Angkatan Darat Thailand Minggu lalu, dan 21 sekolah dibakar di Provinsi Narathiwat, sekitar 1.150 kilometer di selatan Bangkok.

Para pejabat menyalahkan serangan-serangan tersebut pada para penyelundup senjata Thailand dan Malaysia, yang dibantu oleh ''orang-orang dalam''. Para penyelundup senjata tersebut tampaknya berusaha mengisi kembali cadangan senjata mereka yang hilang akibat perang Pemerintah Thailand terhadap perdagangan senjata ilegal. Para penyerang tersebut melarikan diri bersama ratusan senjata curian.

Pemerintah Thailand menyatakan negara dalam keadaan perang, yang memungkinkan militer menggeledah rumah-rumah dan menahan para tersangka tanpa dakwaan apa pun, di Provinsi Narathiwat, Yala, dan Pattani.

''Kami dulu enggan memberlakukan keadaan tersebut lantaran khawatir akan memengaruhi kebebasan rakyat,'' kata PM Thaksin Shinawatra kemarin tentang keadaan darurat perang itu.

Thaksin mengatakan, Pemerintah Thailand akan menjelaskan perlunya deklarasi keadaan itu di daerah tersebut dan menerapkannya sehati-hati mungkin.

Para pejabat membantah serangan-serangan Minggu lalu berkaitan dengan para ekstremis muslim di kawasan Asia Tenggara.

Penangkapan Hambali, tersangka kepala operasi Jamaah Islamiyah (JI) di Thailand pada Agustus lalu, meningkatkan kekhawatiran bahwa negara itu telah digunakan sebagai tempat persembunyian untuk merencanakan serangan-serangan terorisme. Hambali dituding sebagai perencana pengeboman Bali pada Oktober 2002.

Di Saudi

Sementara itu, pasukan keamanan Arab Saudi, yang memerangi gelombang kekerasan oleh kaum militan, berpatroli di daerah permukiman di pinggiran Riyadh kemarin, tempat polisi menjinakkan sebuah granat, kata sumber-sumber keamanan Saudi.

Granat tersebut ditempatkan di sebuah toko telepon genggam di distrik Saudi Sultana yang terutama dihuni kelas menengah di dekat Suweidi, tempat polisi sebelumnya bentrok dengan kaum militan.

Para militan tersebut diduga punya kaitan dengan jaringan Al Qaedah pimpinan Usamah bin Ladin. Sedikitnya 50 orang tewas dalam serangan bom jibaku di kompleks perumahan di Riyadh, sejak Mei 2003.

Televisi Al Arabiya yang berkantor pusat di Dubai, yang sebagian sahamnya dimiliki Saudi, mengatakan polisi membongkar rencana serangan bom di sebuah unit distribusi listrik di daerah tersebut. Koran al-Riyadh yang terbit di Saudi melaporkan, polisi menemukan granat tersebut di dalam kotak power supply di sebuah gedung.

''Salah seorang penghuni gedung mencurigai kotak tersebut. Begitu datang, para petugas polisi langsung mengevakuasi seluruh blok tersebut sampai mereka berhasil menjinakkan granat itu,'' kata koran tersebut, yang punya hubungan kuat dengan pemerintah. Pasukan keamanan kemudian melakukan patroli di daerah tersebut.

Arab Saudi adalah tempat kelahiran Usamah. Televisi berbahasa Arab Al Jazeera Minggu lalu menayangkan rekaman suara yang diklaim suara pemimpin Al Qaedah tersebut. Suara tersebut mengecam para penguasa Kerajaan Saudi dan menyebut mereka tidak mampu membela Islam.(rtr-ben-46)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA