logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 6 Januari 2004 Jawa Tengah - Kedu & DIY  
Line

Predikat Kota Pelajar Nyaris Rusak oleh Narkoba

BERBAGAI predikat Yogyakarta, baik sebagai kota pelajar, budaya, maupun pariwisata, tentu merupakan anugerah tersendiri yang tak boleh dilupakan begitu saja. Karena, berbagai predikat itu membanggakan warga Yogyakarta.

Cukup berat bagi instansi pemerintah dan masyarakat untuk menjaga predikat itu. Namun berkat kesadaran semua pihak, predikat itu kini belum bergeser. Sebaliknya, justru makin berkibar.

Semua itu bisa terjaga berkat kesadaran warga Yogyakarta dan berbagai pihak, termasuk pemerintah. Karena, warga Yogyakarta sadar predikat itu diberikan sebagai bentuk penghargaan dari masyarakat nasional atas potensi Yogyakarta.

Tak mudah menjaga dan melestarikan predikat itu. Karena, perlu pengertian dan pengorbanan semua pihak. Jika kini tetap terjaga, semua berkat kesadaran masyarakat Yogyakarta.

Apalagi mayoritas penduduk daerah di selatan Provinsi Jawa Tengah itu generasi muda dan dari berbagai suku atau etnis di seantero Nusantara. Mereka tengah studi atau mencari nafkah di kota itu.

Yogyakarta sebagai kota pelajar akhir tahun lalu nyaris rusak dan tercemar akibat ulah orang tak bertangung jawab yang menjadikan salah satu rantai peredaran narkoba. Bahkan tahun 2001 menjadi daerah nomor tiga setelah DKI Jakarta dan Medan dalam peredaran dan penyalahgunaan narkoba.

Data Polda DIY ini membuat pejabat Pemerintah Provinsi DIY dan para pamong guru kebakaran jenggot. Sejak itu Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X beserta jajaran instansi terkait, khususnya kepolisian, membuat strategi dengan memotong rantai peredaran narkoba melalui penegakan hukum cukup keras.

Penyalahgunaan Narkoba

Berdasar data kepolisian DIY, tahun 2001 tersangka peredaran dan penyalahgunaan narkoba 199 orang, tahun 2002 menjadi 208, tahun 2003 turun menjadi 130 tersangka. Mayoritas mereka masih usia.

Yang sudah diselesaikan dan mendapat hukuman antara empat dan 15 tahun pada tahun 2001 sebanyak 66 orang, 2002 sebanyak 68 orang, dan 2003 sebanyak 33 orang.

Yang terkena hukuman 20 tahun hingga seumur hidup pada tahun 2001 ada 104 orang, 2002 ada 118 orang, dan 2003 ada 74 orang.

Kini generasi muda salah jalan itu terpaksa menghabiskan sebagian umur di dalam LP Wirogunan. ''Mereka rata-rata pemakai,'' kata sebuah sumber di Mapoltabes Yogyakarta.

Pemerintah Provinsi DIY akhir tahun 2003 meresmikan Rumah Sakit Grasia, Pakem, Kabupaten Sleman, sebagai salah satu rumah sakit khusus untuk menangani pencandu narkoba akut.

Yogyakarta pun dilanda kasus cybercrime. Karena, berdasar catatan Federal Bureau of Investigation (FBI), tahun 2002 ada 159 kasus kejahatan lewat internet di Yogyakarta. Menurut pendapat pakar telematika Roy Suryo, itu merupakan fenomena gunung es. Bisa jadi kejahatan lewat internet bisa lebih banyak. Namun tidak dilaporkan.

Berkat kerja keras aparat kepolisian antara tahun 2002 dan 2003 Mapolda DIY berhasil meringkus 20 orang tersangka. Secara tidak langsung kasus ini membuat citra Yogyakarta tercela.

Muncul pula kasus kriminal yang mengganggu kenyamanan dan keamanan wisatawan mancanegara dan Nusantara. Untuk menjaga keamanan dan kenyamanan, pemerintah dan kepolisian tak bisa bekerja sendirian. Perlu kepedulian semua pihak, termasuk warga Yogyakarta.

Bisnis Kepercayaan

Kenyataan itu diakui Sekretaris Daerah Istimewa Yogyakarta, Ir Bambang Susanto Priyohadi MPA. Di Bali, isu narkoba atau seks bebas barangkali tak begitu menggemparkan karena ada penanganan dan masyarakat tidak ngotot seperti di Yogyakarta.

Itu wajar karena bisnis di Bali dan Yogyakarta sangat berbeda. Bisnis di Yogyakarta adalah bisnis kepercayaan, yakni menitipkan anak untuk belajar. Jadi saat isu tak sedap itu muncul ke permukaan, pelajar dan mahasiswa dari luar Yogyakarta menurun.

Apabila beban dan berbagai permasalahan itu tetap terus menggerogoti dikhawatirkan kredibilitas Yogyakarta sebagai kota pelajar, budaya, dan pariwisata bisa runtuh. Akibatnya, semua pihak pun merugi.

Padahal, predikat sebagai kota pelajar, budaya, dan pariwisata telah menggeliatkan perekonomian masyarakat berskala mikro menjadi sangat tinggi. Menurut survei Bank Indonesia, aktivitas pelajar dan mahasiswa yang kuliah di Yogyakarta menyumbang ke produk domestik regional bruto (PDRB) DIY 17,11%.

Tahun 2003 sumbangan pelajar dan mahasiswa ke PDRB DIY diperkirakan sekitar Rp 2,94 triliun atau rata-rata Rp 244,86 miliar/bulan. Jumlah ini cukup menggiurkan, meski masih kalah dari daerah lain.

Itu belum termasuk sumbangan dari berbagai kegiatan budaya, misalnya gelar budaya seperti Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) dan dari pariwisata. Tentu dua kegiatan itu memberikan sumbangan cukup berharga ke pemerintah dan masyarakat Yogyakarta.

Pemerintah Provinsi DIY mencanangkan brand "Yogya Never Ending Asia". Visi ini menjadikan Yogyakarta sebagai pelopor daerah-daerah di Asia dalam perdagangan pariwisata dan investasi lima tahun ke depan.

Karena itu Badan Informasi Daerah (BID) mengajak semua pihak menjaga daerah kesayangan ini agar berbagai predikat tersebut lestari. (Sugiarto-76g)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA