logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 6 Januari 2004 Jawa Tengah - Kedu & DIY  
Line

"Kapolres" Minta Uang Rp 25 Juta pada Korban

  • Kasus Oknum Guru Merampok

KEBUMEN - Pada saat polisi sibuk memeriksa tiga tersangka perampokan di rumah pengusaha Ong Kim Tiong (71) di Jl Yos Sudarso 275 Gombong, ada yang memanfaatkan kesempatan. Seseorang mengaku kapolres meminta uang ke korban Rp 25 juta.

''Orang tersebut juga memberikan nomor rekening, setelah saya lacak pelaku ternyata menghubungi dari Jakarta,'' tegas Kapolres Kebumen AKBP Drs Lilik Purwanto SH.

Menurut Kapolres, pihaknya saat ini sudah mengusut kejadian tersebut. Bahkan dia telah meminta pengusaha Ong Kim Tiong agar untuk sementara tidak usah menerima telepon dari siapa pun.

Kapolres menyatakan telah menjenguk korban guna menenangkannya. Saat ini kondisi mental pengusaha burung walet di Gombong itu masih trauma atas kejadian perampokan tersebut. Tangan kirinya masih memar, sedangkan istrinya, Ny Kim Tiong, juga masih sakit.

Seperti diberitakan, kawanan perampok Jumat malam lalu mendatangi rumah Ong Kim Tiong. Dua pelaku masuk rumah mengambil uang Rp 4 juta, handphone dan jam.

Namun, sial bagi penjahat itu saat hendak menyalakan lampu, keliru memencet alarm. Warga berdatangan dan bersama petugas Polsek Gombong berhasil meringkus satu pelaku, Bero Effendi (49) yang ternyata pensiunan TNI.

Dua pelaku lainnya, Haryono (55), seorang guru SD di Grabag, Magelang, dan Anton Saputra alias Han (42) ditangkap di daerah Grabag. Satu tersangka, lolos.

Tak Ada Toleransi

Sampai kemarin ketiga tersangka masih mendekam di Mapolres. Kapolres menegaskan, tiga pelaku, termasuk oknum guru dan pensiunan TNI tetap diproses sesuai dengan hukum.

Kapolres membenarkan, saat ini ada perwira polisi yang kerabat guru tersebut menghubungi Polres. Namun, terhadap pelaku perampokan di Gombong itu pihaknya tidak akan menoleransi. ''Mereka berbuat kejahatan, tentu kami proses sesuai dengan aturan hukum,'' tegasnya.

Dari pengakuan tiga pelaku, yang mempunyai ide merampok rumah Kim Tiong adalah Han. Setelah beberapa kali mengetuk pintu tak dibuka, Han berinisiatif menelepon dari wartel dan mengaku dirinya dari KPU.

Sementara itu, sewaktu tersangka Harsono mau ditangkap, banyak tetangga dan pamong desa setempat tidak percaya kalau oknum guru SD tersebut ikut terlibat kejahatan. Namun, warga sekitar mengakui selama ini rumah Harsono sering dimanfaatkan untuk kumpul-kumpul orang tak dikenal.

Harsono sendiri mengaku kenal Bero Effendi yang telah menjadi residivis sejak setahun lalu. Hanya, dia mengaku selama ini tugasnya hanya mengantar alias menjadi sopir dari kawanan tersebut.(B3-76k)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA