logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 3 Januari 2004 Tajuk Rencana  
Line

Kewaspadaan Singapura terhadap Isu Bom

- Ikut lega juga hati kita mendengar Mentin Gunarto telah kembali ke Solo. Lepas dari ketegangan dan keruwetan di Singapura, berada kembali di tengah keluarga dalam suasana Tahun Baru. Namun, bagaimanapun, pengalamannya di negeri tetangga itu memberikan pelajaran sangat penting bagi kita. Terutama di tengah kekhawatiran ancaman bom yang bagaimanapun masih sangat terasa. Kita bersyukur, malam-malam panjang hari besar Idul Fitri, Natal, dan tahun baru telah berlalu dengan aman. Masyarakat menyambut dengan meriah. Tak ada bom kecuali di Peureulak, Aceh.

- Sedikitnya ada dua hal penting untuk kita cermati dari pengalaman warga Solo di negara pulau itu. Yaitu tentang kewaspadaan masyarakat terhadap tiap isu tentang bom dan wajah bangsa ini di lingkungan negara tetangga dan antarbangsa pada umumnya. Kewaspadaan terhadap isu bom tampaknya menjadi perhatian semua warga negara itu. Khususnya mereka yang sangat mungkin dalam tugasnya harus berhubungan dengan orang asing. Sikap pramugari pesawat SQ 166 satu contoh. Ia bertindak cepat ketika salah seorang penumpang pesawatnya menyebut-nyebut tentang bom. Ia segera lapor polisi sehingga terjadilah serangkaian pemeriksaan yang bagi kita tentu tak terduga sama sekali.

- Dalam rangkaian peristiwa itu terdengar ''soal bom itu dikemukakan oleh orang Indonesia''. Orang Indonesia di sana mendapat tekanan. Bahwa di sana ada kewaspadaan khusus pun ada alasannya. Negara ini oleh Barat, khususnya AS, sudah telanjur dicap sebagai sarang dan gudang teroris. Fakta objektif pun mendukung. Betapa negara dan bangsa ini telah sangat menderita akibat bom Bali, bom Marriott, dan lain-lain yang lebih kecil. Sederet pelakunya yang dicap sebagai teroris telah ditangkap dan dihukum. Kalau bangsa lain mewaspadai kita, kita tak bisa mencegah.

- Singapura memiliki pengalamannya tentang teroris-teroris itu. Beberapa orang di antaranya, yang justru berkewarganegaraan Indonesia, tertangkap di sana. Kemudian kita ingat reaksi keras Menteri Senior Lee Kuan Yew pada awal isu teroris dilemparkan oleh Washington dan menuduh negeri ini sarangnya. Kita bisa memahami kekawatiran negara pulau itu jika terorisme di negeri ini tak teratasi. Sekali ada bom meledak di negara pulau itu, bisa habis segalanya. Sementara ancaman teroris terhadap objek-objek AS yang ada di sana sangat keras.

- Kewaspadaan seluruh warga masyarakat, siapa pun dia dan di mana pun berada atau bertugas, itulah yang sangat perlu kita contoh. Kenyataannya kita sudah berkali-kali kecolongan. Lihatlah, misalnya, aktivitas Amrozi cs ketika mempersiapkan bom Bali. Mereka membaur tinggal di kampung di Solo, mengadakan pertemuan di warung, semua berjalan mulus. Hal sama terjadi di Semarang, sebelum sarang mereka disergap polisi di sebuah kampung di kawasan Kalibanteng. Gembong bom Dr Azahari dan Nurdin Moh Top lolos dari sergapan di rumah kontrakan di sebuah kampung di Bandung.

- Tampaknya kita belum terlatih untuk bersikap waspada, cermat terhadap perkembangan lingkungan. Terkadang kita malah terlalu sopan dan ewuh untuk menegur seseorang tamu di rumah tetangga. Hal itu perlu diubah. Tahun 2004 bangsa ini bakal sangat disibukkan oleh peristiwa politik pemilu. Iklim politik bakal sangat panas akibat persaingan dan konflik antarparpol. Di tengah-tengah suasana panas seperti itu, segalanya bisa terjadi. Termasuk teroris yang masih dikejar untuk nimbrung. Di sanalah kewaspadaan semua pihak sangat penting. Sewaspada pramugari SQ.


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA