logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 3 Januari 2004 Surat Pembaca  
Line

''ADA'' Mohon Maaf

Manajemen Pasar Swalayan ADA Majapahit mohon maaf atas kejadian 29 Desember 2003, khususnya kepada Sdr Much Huraira Ar Ridho Firdausy di Jl Bukit Teratai IX/329 Sendangmulyo Semarang di mana Satpam kami telah melakukan kekhilafan yaitu menginterogasi dan pengecekan terhadap diri Sdr di depan umum dan ternyata terbukti tidak bersalah. Kami mengucapkan terima kasih atas kritik, saran dan kepercayaan konsumen terhadap kami.

Swalayan ADA
Majapahit, Semarang

***

Pelayanan TNKB Samsat Purbalingga

Sebagai warga negara yang baik saya taat membayar pajak sepeda motor di Samsat Purbalingga. Pajak dibayar 11 Desember 2003 sebelum jatuh tempo 15 Desember. Pada faktur pajak tertera biaya administrasi TNKB sebesar Rp 10.000, karena STNK habis/lima tahun terakhir.

Tetapi setelah masuk pada loket penyerahan/pengambilan surat-surat beserta plat nomor masih harus bayar Rp 16.000 (tanpa kuitansi) dengan alasan untuk pesan lebih dulu ke Ditlantas Polda Jateng selesai tanggal 15 Desember. Plat nomor saya ambil mundur 16 Desember.

"Sudah diambil orang/petugas dari Purwokerto", kata petugas polisi yang menangani di loket tersebut. Lho... kok bisa terbawa orang tanpa diteliti lebih dulu. Yang mengecewakan, apakah tidak terjadi dobel pembayaran, karena di faktur tertera Rp 10.000, di loket pengambilan Rp 16.000. Bbukankah itu yang namanya pungli?

Sudah dibayar lunas, diambil mundur sehari tapi barangnya tidak ada alasan kurang tepat. Apakah biaya yang tertera di faktur pajak sebesar Rp 10.000 tidak untuk mencetak? Umpama dicetak ternyata tidak diambil pemilik itu toh sudah dibayar, dan yang rugi pemilik karena hak wajib pajak.

Mohon kejujuran dan transparansi aparat baik sipil maupun Polri. Bagi yang menjadi atasan terapkan waskat, bagi personilnya terapkan wasri.

Nartun SIP
Kembaran, Banyumas

***

Les Privat di Rumah

Saya seorang karyawati di salah satu perusahaan swasta, selain itu juga ibu rumah tangga yang diharuskan menangani pekerjaan rumah. Di sini dituntut sebaik mungkin untuk dapat membagi waktu baik untuk kantor, keluarga dan diri sendiri.

Saya ingin berbagi pengalaman/memberi masukan pada pembaca yang ingin pintar komputer tapi tidak mempunyai waktu karena bekerja/sekolah sampai sore. Bagi ibu-ibu yang ingin anaknya belajar tanpa harus keluar rumah dapat mengikuti privat dengan cara mendatangkan guru privat.

Semula saya tidak bisa menjalankan komputer sama sekali, sekarang sudah bisa setelah mengikuti les privat yang mengajari dengan telaten dan sabar cara mengoperasikan komputer. Program yang saya pelajari tidak hanya satu.

Yang pasti saya mendapat bimbingan les privat komputer dan sekaligus pembimbingnya dapat memperbaiki komputer yang rusak. Ini bagi saya yang cukup sibuk dan tidak banyak waktu cukup membantu. Dan biaya yang dikeluarkan lebih sedikit serta waktu untuk les bisa disesuaikan, tidak perlu susah-susah meluangkan waktu untuk kursus di luar.

Sri Setia
Mijen Rt 3/Rw 4 Demak

***

Acara Muri di Sentul

Terima kasih atas pemberitaan upacara penyerahan piagam Muri di sirkuit Sentul (SM, 29 Desember 2003) di rubrik Sosok. Mungkin, akibat suasana lingkungan yang hiruk-pikuk dan tergesa-gesa, maka berita tersebut menjadi kurang lengkap dan kurang akurat.

Pada acara tersebut saya sebagai ketua Muri hadir bukan dengan istri, namun bersama Art Director Balai Bina Budaya, Aylawati Sarwono, yang juga menangani public relations Muri. Sebenarnya juga didampingi manajer Muri, Paulus Pangka SH dan staf Daisy yang mengendarai mobil lain.

Mobil saya terbatas cuma dua tempat duduk, terlalu kecil untuk ditumpangi 4 orang. Perjalanan ke sirkuit Sentul ditempuh bukan langsung dari Semarang, namun semula naik pesawat terbang, baru dari Jakarta melalui darat.

Ketika ditanya apakah senang mengemudikan mobil sendiri, saya membenarkan dengan memberi contoh pernah keliling pulau Inggris dengan mengemudi sendiri. Sementara misi ke sirkuit Sentul bukan nostalgia, namun perjalanan dinas resmi untuk tugas Muri.

Jaya Suprana
Jl Ki Mangunsarkoro 106 Semarang

-Terima kasih penjelasannya-Red

***

Tanggapan dari RS Panti Wilasa ''Dr Cipto''

Terima kasih atas tulisan Sdri Erna Tri Puji Hastuti di Surat Pembaca 30 Desember 2003 tentang istilah ''Gratis''. Kami jelaskan, istilah ''gratis'' adalah untuk biaya operasi katarak saja. Sedang bila pasien menderita penyakit gula (DM), maka biaya pemeriksaan laboratorium dan obat ditanggung sendiri. Juga bila pasien menderita penyakit hipertensi yang perlu pengobatan.

Dalam rangka membantu masyarakat, RS Panti Wilasa Dr Cipto Semarang bekerja sama dengan Perdami hanya dapat membebaskan biaya operasi katarak. Namun bila ada yang memerlukan pemasangan lensa tanam (IOL=Intra Occuli Lens), maka biaya lensa dan pemasangan sebesar Rp 400.000 ditawarkan kepada pasien.

Bila bersedia, operasi katarak dengan IOL dapat dilaksanakan. Sebaliknya bila keberatan, maka hanya dilakukan operasi katarak biasa tanpa dipungut biaya (gratis). Kami mohonkan maaf untuk petugas humas, yang mungkin kurang berkenan dalam memberikan informasi. Untuk ke depan kami akan lebih meningkatkan pelayanan.

Humas
Bayu Nuskantono SSos

***

Dji... Sam... Soe... Nggak Cocok Tuh

Salah satu keunikan Djie Sam Soe adalah cara membuat bungkus dan kegiatan "lanjutan" yaitu memencet-mencet batang rokok untuk sedikit mengurangi kepadatannya. Rasanya memang beda, karena itulah saya beralih dari rokok putih ke rokok ini.

Namun kenikmatan yang didapat sejak membuka bungkus, memencet, dan mengisapnya kini telah hilang. Kekecewaan itu berawal saat tiga kali saya membeli sebungkus Dji Sam Soe dari tiga warung yang berbeda.

Tiap batang rokok di bagian tengahnya sama sekali tidak padat tembakaunya. Bahkan ada sebagian yang kosong sehingga saat dibuka dengan menyobek body tengah, mengakibatkan batang rokok gepeng meski tanpa "ritual" dipencet-pencet dulu.

Ingin bukti? Wah susah... karena meski kecewa saat "rasa" juga ikut berubah, terpaksa tetap saya isap karena budget saya sehari satu bungkus tidak boleh lebih. Gimana tuh quality control-nya. Atau mendingan distop aja iklan TV yang memperagakan (pantomim) memencet-mencet lalu mencium aromanya. Gak cocok tuh...

Erwan Pramono
Jl Barito 49 Rt 4/Rw 9 Kedungsari, Magelang


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA