
| Sabtu, 3 Januari 2004 | Berita Utama |
Gempa Guncang Palu, Mataram, dan Denpasar
JAKARTA-Gempa mengguncang beberapa di daerah di kawasan Indonesia timur, yaitu di Palu, Mataram, dan Denpasar. Bahkan akibat guncangan gempa di Karangasem, Bali kemarin pagi, sebanyak 250 rumah, beberapa kantor pemerintah, 11 tempat ibadah, dan 3 gedung sekolah rusak. Gempa itu juga menyebabkan 10 orang luka-luka. Menurut pantauan di lokasi terjadinya bencana, Jumat (2/1), rumah warga sebagian besar mengalami kerusakan pada bagian atas dan dinding. Kerusakan terberat terjadi Desa Tenganan, Dauh Tukat, Kecamatan Manggis. Di lokasi itu beberapa rumah rata dengan tanah. Kemudian 11 tempat ibadah yang mengalami kerusakan, terdiri dari 3 masjid dan 11 pura. Sementara untuk sekolah, masing-masing SMUN I Amlapura, SMPN I Amlapura, dan SMU Parisada Amlapura. Gempa juga merusak sejumlah kantor atau instansi pemerintah, seperti, Pengadilan Negeri Amlapura, kantor Bapeda Amlapura, kantor Dispenda Amlapura, dan kantor Bupati Karangasem. Kerusakan terparah dialami bangunan RS Amlapura, khususnya pada bagian Radiologi, Rongent, kamar operasi, dan 5 bangsal. Kejadian itu membuat 26 pasien yang sedang dirawat terpaksa dipulangkan. "Sebagian alat yang kami miliki rusak karena tertimpa genting. Untuk itu, dari 28 pasien, 26 kami pulangkan. Sedangkan 2 lainnya dipindahkan ke ruang VIP," kata Direktur RS Amlapura dr I Gusti Made Tirtayana. Dari 10 orang korban luka akibat peristiwa itu, 2 di antaranya mengalami patah tulang. Sedangkan 8 lainnya hanya luka ringan dan sudah diperbolehkan pulang. "Pengobatan mereka akan kami tanggung," ungkap Bupati Karangasem I Gede Sumantara. Menurut informasi, gempa yang mengguncang Bali tersebut berpusat di laut dekat Kabupaten Karangasem. Gempa tersebut berkekuatan 6,1 Skala Richter. Kerusakan terparah akibat gempa itu terjadi di Desa Seraya, Kecamatan Karangasem. Desa Tenganan, Kecamatan Manggis. Desa Culik, Kecamatan Abang. Di sana banyak bangunan yang roboh. Sementara di wilayah lain, seperti di kabupaten Bali bagian timur, daerah kota, dan wilayah lainnya, hanya atap rumah yang rusak. Menurut Kepala Seksi Operasional Badan Meteorologi dan Geofisika Wilayah III Budi Sunarso, kerusakan lebih banyak terjadi di desa-desa, karena pondasi rumah penduduk di sana umumnya tidak terlalu kuat dibanding daerah perkotaan.
Gempa itu, kata Budi, juga dirasakan di wilayah Jawa Timur, sampai Lombok. Gempa itu terjadi akibat adanya aktivitas tektonik di bawah laut Karangasem. Di Ampenan, Lombok, guncangan gempa mencapai 4 sampai 5 Modificated Mercally Intensity (MMI), di Karangasem 4-6 MMI, dan Denpasar 4-5 MMI. Di Lombok belum diketahui adanya kerusakan. Namun hotel-hotel di Lombok barat sudah mengabarkan ke BMG tentang adanya keretakan bangunan. Pusat gempa berada di laut kurang lebih 27 km arah timur Kota Karangasem. Tepatnya di 8,34 lintang selatan, 115,87 bujur timur, serta kedalaman 33 km. Sedang waktu gempa pukul 04.59 plus 31,1 detik WITA. Lebih lanjut dijelaskan Budi, gempa itu terjadi akibat ada suatu pergeseran lempengan yang arahnya dari Euro Asia bergerak ke Indo Australia. Sehingga terjadi patahan pada kedalaman 33 km. Gempa itu merupakan yang terbesar kedua di Karangasem sejak 1979. Dan kalau di Bali sendiri yang terbesar terjadi di Buleleng pada tahun 1976. Sementara di Palu, Ibu Kota Sulawesi Tengah, yang juga diguncang gempa berkekuatan 4,7 pada Skala Richter, sekitar pukul 21.53 WITA itu, merupakan guncangan yang ketiga kalinya dalam kurun lima hari terakhir. Getaran gempa itu dirasakan penduduk Kota Palu dan warga Kecamatan Marawola di Kabupaten Donggala. Gempa yang terjadi sekitar 10 detik itu membuat banyak warga berlarian keluar rumah untuk menghindari terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan. Sebelumnya gempa juga terjadi pada Minggu lalu (28/12/2003). Gempa berkekuatan 5,4 pada Skala Richter itu berpusat di Teluk Tomini, atau sekitar 241 km arah barat daya Kota Manado. Kemudian pada Rabu (31/12/2003) yang merupakan gempa lokal dengan kekuatan berkisar 4 pada Skala Richter. Sementara di Kota Mataram, Ibu Kota Nusa Tenggara Barat (NTB), dilanda gempa sekitar pukul 05.05 WITA, Jumat (2/1/2004). Guncangan gempa yang cukup keras itu membuat banyak warga berhamburan keluar rumah untuk menghindari kemungkinan robohnya bangunan. Rawan Gempa Beberapa kali gempa yang melanda Kota Palu itu, ternyata tidak perlu diherankan. Pasalnya, menurut data Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), Kota Palu dan sekitarnya memang merupakan daerah rawan gempa. "Kota Palu, khususnya daerah di sekitar Teluk Palu adalah daerah patahan lempengan bumi. Di kalangan peneliti daerah ini disebut sebagai Palu Koro. Jadi jangan heran kalau di sini kerap terjadi gempa tektonik," ujar Kepala BMG Balai Wilayah IV Stasiun Palu S Prayitno Adi, kemarin. Prayitno menyatakan, sampai saat ini pihaknya terus memantau perkembangan situasi pascagempa tektonik dengan ke dalaman sekitar 35 km pada Kamis malam (1/1). Dari data pemantauan gempa, menurut dia, pusat gempa berada sekitar 41 km arah barat daya Kota Palu. Berdasarkan pemetaan yang dilakukan BMG, ke dalaman gempa di Palu berkisar antara 0 sampai 100 km, dan kekuatan mencapai 6 sampai 6,5 Skala Richter. Sampai saat ini, Stasiun BMG Palu terus memantau perkembangan situasi pascagempa tektonik denganm ke dalaman sekitar 35 km itu. Dari data pemantauan gempa, pusat gempa berada sekitar 41 km arah barat daya Kota Palu. Gempa Susulan Takut terjadi gempa susulan di Kabupaten Karangasem, Bali. Sebagian besar warga di Kota Amlapura dan beberapa desa lainnya memilih berada di luar rumah untuk bercengkrama dengan keluarga, tetangga, dan juga tidur. Rasa was-was dan ketakutan akan terjadinya gempa susulan itu terlihat dari pantauan di beberapa desa atau dusun, serta beberapa kota di wilayah Kabupaten Karangasem, Bali, Jumat malam (2/1). Contohnya, di Ibu Kota Karangasem, Amlapura, Desa Susuan, Desa Culik, dan lain-lain. Dari pantauan, seluruh jalan-jalan di pusat kota dan balai desa dipenuhi warga, baik anak-anak sampai orang tua berada di luar rumah untuk bercengkrama bersama tetangga dan keluarga. Suasana serupa tampak di beberapa desa yang mengalami kondisi parah dalam peristiwa gempa kemarin. Balai Desa di Desa Culik, Kecamatan Abang, dan beberapa posko partai berubah menjadi tempat pengungsian untuk bercengrkama para pemuda desa. Salah seorang warga Dusun Penaban, Kecamatan Karangasem bernama Gede Budiasa, memilih berada di jalan bersama lima orang keluarganya ketimbang di luar rumah. "Kami masih trauma dengan kejadian gempa tadi (kemarin-Red). Lebih baik berada di luar menahan dingin, ketimbang di dalam rumah tapi pikiran tak karuan," ujar Gede yang atap rumahnya hancur terkena gempa. Putu Sutarmini, warga Jalan Untung Surapati, Amlapura, Karangasem mengaku, melarang suami dan kedua anaknya di dalam rumah. "Rasa panik saya saat gempa tadi pagi (kemarin-Red) belum hilang. Ketimbang menyelamatkan harta benda, lebih baik kami berada di sini bersama tetangga, karena was-was adanya gempa susulan," katanya. Demikian pula Senada Wayan Puja Astawa, warga Desa Susuan, Kecamatan Karangasem mengaku, berada di balai desa bersama beberapa kerabat. "Kami mengikuti himbauan Kepala Dusun untuk tidak berada di dalam ruangan. Jika terjadi gempa lagi, kami bisa cepat keluar dari bangunan. Mudah-mudah malam ini dan seterusnya tidak terjadi gempa susulan," ujarnya setengah berharap. Seperti diketahui, Jumat pagi (2/1/2003) telah terjadi gempa di Kabupaten Karangasem dan merusak sejumlah rumah. Kejadian gempa di wilayah itu merupakan kejadian yang kedua setelah hal serupa terjadi pada tahun 1979, yaitu di Desa Culik Kecamatan Abang, Karangasem. Sedangkan gempa yang pertama terjadi di Kelurahan Seririt, Kecamatan Seririt, Buleleng tahun 1976 silam.(dtc-69) | |||||