
| Sabtu, 3 Januari 2004 | Semarang & Sekitarnya |
Dari Lontong Capgome sampai Jamu Jun
''Pasar Imlek Semawis'' di PecinanSEMARANG-Menyambut tahun baru Cina (Imlek 25555) di kawasan pecinan, khususnya Jalan Wotgandul (Cap Kao King), antara perempatan Jalan Sebandaran dan pertigaan Jalan Beteng akan digelar ''Pasar Imlek Semawis 2003''. Kegiatan pada 19-21 Januari 2004 itu akan kembali mengangkat aktivitas budaya pecinan Semarang pada masa lalu setiap kali menyambut tahun baru Cina. ''Pasar malam di pecinan adalah bagian dari tradisi yang masih terpelihara. Saat itu warga pecinan dan masyarakat sekitar berbelanja berbagai keperluan untuk menyambutnya. Nah, tradisi itulah yang akan kami kemas menjadi sebuah wisata budaya yang unik,'' kata Harjanto Halim, Ketua Panitia pelaksana Pasar Imlek Semawis 2003, kemarin. Acara itu diprakarsai Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata (Kopi Semawis). "Semawis" dulu lazim digunakan sebagai pengkramaan (dalam bahasa Jawa) kata "Semarang". Haryanto menyatakan pasar malam yang juga disebut ji kao meh (ji kao atau 29 menunjukkan tanggal ketika peristiwa ini berlangsung dan meh berarti malam. Acara berupa pameran, bazar makanan, dan berbagai macam atraksi kesenian. ''Pokoknya kami ingin suasana pecinan pada zaman dulu bisa kita uri-uri kembali dengan kemasan entertaiment,'' kata dia. Harjanto menegaskan acara itu akan melibatkan masyarakat sekitar. Dengan maksud, kegiatan tampak seperti ''aslinya''. Sebab, sebenarnya suasana malam menjelang Imlek di pecinan masih berlangsung. Namun belum semarak karena masyarakat di sana masih trauma lantaran kegiatan itu pernah dibatasi pada masa Orde Baru. ''Dengan kemasan baru, peristiwa budaya di pecinan ini bisa dijual sebagai pariwisata dan tentu bermanfaat bagi masyarakat sekitar.'' Kegiatan yang akan digelar antara lain pameran dan penjualan pernak-pernik keperluan Imlek dan pameran karya sastra Melayu Tionghoa. Juga bazar makanan khas pecinan dan semarangan seperti onde-onde, bakpao aneka masakan nyonya (masakan hasil percampuran budaya-budaya Hok Kian, Melayu, Indies, dan lokal seperti lontong capgome dan nasi bakmoy). Paling tidak akan ada 80 stan dalam kegiatan itu. Yang menarik, akan ditampilkan makanan dan minuman khas yang sulit didapat seperti jamu jun, jolobilo, dan wedang tahu. Juga atraksi kesenian tradisional seperti wayang potehi, wushu, tan sin, seni meramal, konsultasi sinshe, dan gambang semarang. Acara ini juga akan dimeriahkan pembuatan cakwee terpanjang dan hio tertinggi yang akan dicatat Museum Rekor Indonesia (Muri).
Harjanto mengatakan, berbagai pihak yang ingin terlibat dalam kegiatan itu bisa menghubungi telepon (024) 3515379-3542573. Sebenarnya keramaian pasar sudah lama berlangsung di Pasar Gang Baru setiap kali menyambut Imlek. Namun selama ini kegiatan itu tidak diberi nama. Kali ini tradisi itu akan digelar dengan nama ''Pasar Imlek Semawis''. Lokasi tetap di Pasar Gang Baru dan dijadwalkan berlangsung 19-21 Januari 2004. Seperti biasa, selama tiga hari itu pasar yang menyuguhkan barang-barang pilihan tersebut akan buka semalam suntuk. Kwa Tong Hay alias Hendrawan dari bagian acara mengakui, Pasar Imlek tidak terlepas dari kegiatan yang telah berlangsung di Pasar Gang Baru. Banyak pedagang yang memeriahkan pasar itu bakal membuat perayaan Imlek bertambah meriah. Hingga kemarin di sejumlah kelenteng di kawasan pecinan belum tampak aktivitas menonjol untuk memeriahkan Sin Cia. Pengurus salah satu kelenteng terbesar di Semarang, Tay Kak Sie di Gang Lombok, baru menggelar rapat untuk menyambut Imlek. Hiasan lampion merah yang biasanya menghiasi gang-gang di pecinan belum banyak dipasang. Hanya di toko-toko yang menyediakan pernik-pernik perayaan keagamaan umat Tri Dharma yang kelihatan mencolok. Toko-toko itu sudah ramai dikunjungi calon pembeli. Hendrawan menambahkan, perayaan tahun baru Sin Cia tidak jauh berbeda dari kondisi di Tiongkok. ''Umat akan bersembahyang di kelenteng untuk arwah leluhur. Rangkaian sembahyang itu dimulai sejak Toa Pe Kong naik (seminggu sebelum Imlek) hingga capgome atau 15 hari setelah tahun baru,'' tutur dia. (G2,G1-63g) |