logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 3 Januari 2004 Semarang & Sekitarnya  
Line

2004 Bencana Masih Berlanjut

SEMARANG- Ada beberapa orang yang beranggapan tahun 2003 merupakan tahun bencana dan kemungkinan bencana itu masih akan berlanjut hingga tahun ini, 2004.

Hampir semua pihak menyatakan keprihatinan dan berpendapat bencana tersebut disebabkan oleh pengelolaan lingkungan yang tidak benar. Namun demikian, tidak ada langkah konkret yang ditujukan agar bencana serupa tidak terjadi pada masa yang akan datang.

''Kambing hitam pada setiap bencana lingkungan pada tiga tahun terakhir ini tidak lagi hanya ditimpakan pada pengusaha. Masyarakat sekitar pun menyumbang melalui perambahan hutan.

Meski demikian, praktik illegal logging ini bisa terjadi juga karena ada backing dari berbagai pihak, mulai dari pemilik modal sampai dengan pihak yang seharusnya menjaga keamanan dan kelestarian hutan,'' kata Pembantu Rektor I Universitas Diponegoro (Undip) Prof Dr Sudharto P Hadi MES dalam ''Diskusi tentang Refleksi 2003 dan Proyeksi 2004'' yang diselenggarakan oleh Forum Diskusi Intelektual Undip, Selasa (30/12).

Pembicara lainnya adalah Wakil Gubernur Jateng Drs H Ali Mufiz MPA, Sekretaris Program Doktor Ilmu Hukum Undip Prof Dr Moempoeni Moelatiningsih Maemoenah SH, Kepala Bappeda Prof Dr H Miyasto SU, seniman Lengkong Cilik Drs Agus Maladi Irianto MHum, budayawan Drs Darmanto Jatman SU, Dekan FPBS Unnes Prof Dr Rustono MHum, dan Direktur Pogram Pascasarjana IAIN Walisongo Prof Dr Abdurrahman Mas'ud MA.

Sudharto menyoroti tentang bergesernya pendulum dari sentralistis ke desentralistis yang ternyata tidak mengubah pola pengambilan keputusan di tingkat daerah. ''Keputusan-keputusan yang menyangkut hajat hidup orang banyak, ternyata dilakukan sepihak oleh eksekutif,'' katanya.

Dia mencontohkan, tentang kasus tukar bangun Semarang Golf Club (SGC).

Sulit Optimistis

Jika menyimak fenomena tahun 2003, lanjut dia, agaknya sulit untuk optimistis nasib lingkungan akan lebih baik pada tahun 2004.

Keputusan yang menyangkut kepentingan publik akan semakin meninggalkan pertimbangan-pertimbangan sosial dan lingkungan.

Adapun di bidang kesenian, Agus Maladi Irianto menyoroti perngaruh televisi terhadap budaya massa.

''Siaran televisi seolah membentuk gerakan arus besar bernama kekuasaan dalam arti yang luas. Segala peristiwa seolah cepat bergulir. Ruang dan waktu tak lagi menjadi pembatas dan kendala terjadinya perubahan. Teknologi komunikasi seolah menelusup ke setiap individu hingga ruang privasi,'' katanya.

Dari situlah, menurut dia, lahir budaya massa yang cepat dan penuh perubahan. Di tengah budaya massa yang sangat cepat itulah kesenian sebagai ekspresi nilai, pengetahuan, norma, dan simbol menandai dinamika masyarakat.

Adapun di bidang agama, Direktur Program Pascasarjana IAIN Walisongo Prof Dr Abdul Rahman Mas'ud MA mengatakan, keberagamaan di Indonesia itu terlalu teosentris atau habluminallah saja, sedangkan habluminannas-nya sedikit atau bahkan terlupakan. (H3-83k)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA