
| Sabtu, 3 Januari 2004 | Semarang & Sekitarnya |
Kehilangan Air Terbesar akibat PencurianSEMARANG- Untuk mengatasi kehilangan air, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Semarang mengaku masih mengalami kesulitan. Sebab, kebocoran tersebut tak hanya menyangkut masalah teknis, tetapi banyak juga nonteknis. Menurut Direktur Teknik PDAM Kota Ir Kimas Syamsul Qomar, kebocoran nonteknis banyak disebabkan oleh pencurian air. ''Mereka (pelaku) ini tidak terdaftar sebagai pelanggan, tetapi dapat pelayanan,'' katanya. Selain itu bisa juga, meski sebagai pelanggan, melakukan kecurangan. Akibatnya, jumlah air yang keluar dari PDAM tidak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh dari pelanggan itu melalui pembayaran rekening setiap bulannya. Perbaikan fisik penyebab kehilangan air dari sisi teknis, sudah dilakukan. Kehilangan air akibat faktor tersebut, menurut dia, mudah dideteksi dan selanjutnya dilakukan perbaikan.
Meski demikian, bukan berarti pihaknya putus asa untuk mendeteksi tingkat kehilangan air yang sifatnya nonteknis. Dalam hal ini PDAM melakukan pemantauan pada rumah-rumah yang terjadi kejanggalan dalam penyambungan pipa atau pemakaian tiap bulannya. Menyangkut tingkat kehilangan air dia mengatakan, angkanya mencapai 53%. Hal itu antara lain juga terkait dengan belum kontinunya produksi air dari instalasi pengolahan air (IPA) PDAM Kudu. ''Kalau stabil bisa ditekan (tingkat kebocorannya-Red).'' Dia menambahkan, sampai saat ini, PDAM secara rutin melakukan pemantauan dari rumah ke rumah. Sebab, pencurian air dengan pemasangan pipa T ataupun langsung memasang di induk pipa sulit terdeteksi. Hanya melalui pantauan langsung pada pelanggan, pencurian itu bisa diketahui, terutama jika ditemukan kejanggalan di rumah pelanggan. Kejanggalan itu, yakni pemakaian yang tertera pada rekening hanya sedikit, sedangkan jumlah anggota keluarga cukup banyak. Selain itu, dengan menutup meter air pencurian lewat pipa T dapat diketahui. ''Kalau sudah ditutup tetapi ternyata masih mengalir, berarti ada yang tidak beres dan harus segera dibongkar,'' tandasnya. Selama ini, kata dia, persentase kehilangan air hanya dilihat dari produksi air dan jumlah pasokan yang didistribusikan pada pelanggan. Jika saja IPA Kudu dapat menyuplai air kontinu dan dalam jumlah stabil, kehilangan air bisa ditekan. Sayang, hingga saat ini hal itu belum bisa dilakukan. Untuk mendeteksi adanya pencurian dengan pemasangan pipa di luar PDAM, pihaknya sudah memiliki alat berupa metal ataupun non metal detector. Hanya, alat itu sebatas mengetahui adanya instalasi pipa, tidak bisa menerjemahkan pipa T atau pipa legal. Untuk mengatasinya, petugas harus memiliki minimal peta pelanggan. ''Kalau pencurian air dengan pipa cukup bisa dideteksi,'' ujarnya. Selain masalah pencurian dengan pemasangan pipa T, dia mengakui, pelanggan terka-dang nakal memasang magnet di meteran air. Mengetahui hal ini, PDAM segera mengganti meteran nonmagnet. Sistem meteran hampir setengah pelanggan PDAM di Kota Semarang sudah diganti yang baru. Jumlah pelanggan PDAM ada sekitar 130.000, sedangkan yang aktif ada 117.000. Adapun sisanya tidak aktif, karena rumahnya tidak ditempati. Kasus ini biasanya terjadi di kompleks perumahan. (G7-83k) |