
| Sabtu, 3 Januari 2004 | Kolom |
MetroseksualOleh: Adi Ekopriyono DAVID Beckham tidak lagi hanya terkenal sebagai pemain klub sepakbola Real Madrid yang andal. Kini, ia juga lambang metroseksual. Lambang lelaki yang sangat memperhatikan penampilan sehari-hari. Lelaki yang sangat peduli terhadap kesempurnaan setiap jengkal tubuhnya. Lelaki yang dalam merawat tubuhnya tidak kalah dari perempuan. Memakai parfum, facial, pembersih wajah, pelembap (moisturizer), spa, atau bahkan merawat kuku-kukunya. "Bumi telah menjadi Venus," kata Hermawan Kartajaya. Kaum lelaki telah berubah menjadi perempuan. Tentu bukan secara anatomis, melainkan dalam sikap dan perilaku. Itulah yang diistilahkan sebagai wo-man, woman oriented man, kaum Adam yang berorientasi Hawa. Kaum lelaki yang konon berasal dari Mars telah berubah seperti perempuan-perempuan yang datang dari Venus. Metroseksual adalah tren lelaki masa kini. Bukan lagi pria yang macho, yang berotot dan gagah perkasa. Setidak-tidaknya itulah wacana yang berkembang akhir-akhir ini. Tapi jangan dulu salah sangka, metroseksual bukanlah penggambaran laki-laki yang keperempuan-perempuanan alias banci atau waria. Sama sekali bukan! David Beckham tetaplah lelaki tulen, namun kepeduliannya terhadap penampilan seperti wanita. Dilihat dari sisi marketing, tren itulah yang kemudian dimanfaatkan oleh berbagai perusahaan untuk menghasilkan produk perawatan khusus bagi laki-laki. Meskipun masih bisa dipertanyakan, jangan-jangan justru tren itu diciptakan (atau tercipta) oleh iklan dan promosi yang gencar dan canggih, sebagai bagian dari kapitalisme global. Bukankah kekuatan kapitalisme global telah mengubah segala-galanya, seperti yang ditengarai Francis Fukuyama dalam The End of History and the Last Man? Patut dicurigai, sebenarnya kapitalisme globallah yang menciptakan fenomena metroseksual, bukan metroseksual itu yang muncul lebih dulu kemudian diikuti oleh produk-produk yang mendukungnya. Buktinya, relasi antarmanusia yang makin emosional pun antara lain tercipta oleh kemajuan teknologi telepon selular. Orang menjadi makin emosional dengan short message service (SMS). Bukan sebaliknya, SMS itu muncul karena terdorong oleh relasi antarmanusia yang makin emosional. * * * OKE! Biarlah tren itu tetap berlangsung, toh suatu saat kelak akan berubah lagi. Saya justru ingin mengajak pembaca untuk othak-athik gathuk. Begini, kalau saat ini lelaki berorientasi perempuan, bukankah itu sebenarnya hanya merupakan gejala yang tidak jauh berbeda dari perempuan yang berorientasi lelaki? Dua puluhan tahun silam, tidak ada perempuan yang memakai celana panjang dan berkaus oblong, karena tidak patut. Ketika itu muncul tren kaum Hawa memakai celana panjang, berkaus oblong, dan berambut pendek. Perempuan berorientasi laki-laki (man-wo - man oriented woman). Nah! Kalau sekarang para lelaki berorientasi perempuan, lengkaplah sudah jangka (ramalan) Jayabaya, yang mengatakan bahwa pada suatu saat nanti akan sulit dibedakan antara lelaki dan perempuan. Itu adalah salah satu tanda akhir zaman. Metroseksual hanyalah bagian dari gejala perkembangan peradaban. Hanya bagian dari kecenderungan bahwa dunia ini menjadi makin abu-abu; makin tidak hitam-putih. Abu-abu itu bukan hanya terjadi pada relasi lelaki-perempuan; ketika keduanya sulit dibedakan, ketika lelaki makin feminim dan perempuan makin maskulin. Abu-abu terjadi hampir di semua aspek kehidupan. Lihat saja, misalnya, orang mulai sulit membedakan antara korupsi dan komisi, uang suap dan tali asih, studi banding dan piknik, dan seterusnya. Pendek kata, terjadi kekaburan antara yang benar dan yang salah, yang patut dan yang tidak patut, yang baik dan yang buruk. Persis kekaburan antara yang lelaki dan yang perempuan dalam konteks metroseksual. * * * NILAI-NILAI menjadi kabur. Pedoman nyaris tidak ada lagi. Kalaupun ada, pedoman itu biasanya hanya berada di atas kertas, pada pidato-pidato, atau pada seminar-seminar dan diskusi. Entah pedoman itu berupa undang-undang, peraturan-peraturan pemerintah, atau apa pun, sering tidak dapat diterapkan di lapangan karena yang berlaku di lapangan adalah prinsip abu-abu. Benar bisa disalahkan, salah bisa dibenarkan. Seorang terhukum bisa tetap menjadi pemimpin lembaga negara, wakil rakyat yang seharusnya bertindak demi rakyat pun bisa melakukan tindakan yang justru menyakitkan rakyat. Orang pun mulai tidak percaya diri melihat gejala seperti itu, mulai sulit melihat secara jernih mana yang benar dan mana yang salah. Atau, setidak-tidaknya banyak orang yang mulai apatis, acuh tak acuh, dan tidak peduli terhadap hal-hal yang berkaitan dengan nilai-nilai. Masa transisi. Itu mungkin jawaban yang bisa disampaikan atas pertanyaan seputar kekacauan nilai-nilai itu dalam konteks keindonesiaan. Pertanyaannya, sampai kapan masa transisi tersebut? Bukankah dalam ilmu manajemen masa transisi hanya ditoleransi selama maksimal enam bulan? Dalam perspektif Emile Durkheim, mungkin itulah yang disebut anomie, ketika nilai-nilai lama (yang ada selama pemerintahan Orde Baru) sudah hilang, namun nilai-nilai baru (yang seharusnya ditanamkan pada masa reformasi) belum terbentuk. Terjadilah kekaburan-kekaburan, mirip kekaburan antara penampilan laki-laki dan penampilan perempuan. Kekaburan-kekaburan semacam itulah yang, menurut saya, akan tetap mewarnai berbagai aspek kehidupan pada tahun 2004. Absurd memang. (18c)
- Adi Ekopriyono, wartawan Suara Merdeka di Semarang |