logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 3 Januari 2004 Ekonomi  
Line

Pasar Elektronik Lesu meski Harga Turun

  • Pabrik Terapkan Sistem Cepat Habis

SOLO- Meski sejak akhir Desember 2003 harga barang-barang elektronik turun lebih kurang 5%, pasar menanggapi biasa-biasa saja. Kenaikan omzet penjualan hanya berkisar 10% dibandingkan dengan penjualan pada saat normal.

''Dibandingkan dengan Lebaran lalu, kenaikan omzet penjualan akhir tahun tidak ada apa-apanya,'' ujar Libranis Suhoko Kimianata, pemilik Toko Elektronik Satelit di Jalan Slamet Riyadi Solo, kemarin.

Dia mengemukakan, pada Lebaran lalu omzet penjualannya bisa meningkat hingga 50%. Pasar berlangsung ramai selama dua pekan. Setelah itu berjalan normal lagi dan penjualan pada Desember hanya naik sedikit, tidak lebih dari 10%.

''Saya tidak tahu persis, apa alasan pabrik menurunkan harga. Biasanya bila satu pabrik sudah menurunkan harga, yang lain pasti mengikuti,'' tuturnya.

Dia mencontohkan harga TV merek Sharp 14 inci yang sebelumnya Rp 700.000 kini turun menjadi Rp 650.000 per buah.

TV Toshiba 14 inci turun dari Rp 825.000 menjadi Rp 750.000 per buah.

''Pabrik merek LG juga sudah memberitahu, Januari ini mereka akan menurunkan harga,'' kata dia.

Tes Pasar

Budi Wijaya, pemilik Toko Aphrodite di Jalan Diponegoro Solo, menjelaskan sebetulnya yang terjadi bukan penurunan harga melainkan semacam tes pasar oleh marketing atau pemasaran produsen elektronik.

Kepada dealer pabrik menjual barang sistem paket. Misalnya membeli 10 buah diberi gratis satu buah, sehingga dealer memperoleh keuntungan lumayan.

''Nah selanjutnya terserah dealer, mau menurunkan harga atau tidak. Biasanya dealer ikut menurunkan harga karena mengejar target penjualan,'' paparnya.

Dengan sistem itu, kata dia, potongan sebenarnya tidak 5% tetapi bisa 10%. Namun, hal tersebut tidak berlaku pada semua merek.

Sistem itu terutama berlaku pada merek-merek yang dahulu ngetop tetapi akhir-akhir ini kurang diminati pasar.

Sementara itu, Yan Hartanto, pemilik Toko Elektronik Handayani di Jalan Slamet Riyadi Solo mengemukakan, dalam menjual produknya pabrik-pabrik elektronik cenderung menerapkan sistem penjualan cepat habis.

Untuk itu, lanjut dia, pabrik mencari dealer yang bisa membeli dalam jumlah besar. Dengan pembelian banyak, potongannya juga besar sehingga harga pada tingkat konsumen bisa diturunkan. ''Akhirnya banyak dealer yang melakukan pembelian dalam jumlah besar untuk merek-merek tertentu supaya bisa menjual dengan harga murah,'' tuturnya.

Akibat keterbatasan dana, tetapi agar barang yang dijual di toko lengkap, antara dealer satu dan yang lain saling tukar barang.

Yan memperkirakan, penurunan harga barang-barang elektronik akhir-akhir ini terjadi juga karena kestabilan nilai rupiah terhadap dolar AS.(bt-53j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA