
| Sabtu, 3 Januari 2004 | Ekonomi |
BI Perbanyak Euro pada Cadangan Devisa NegaraJAKARTA- Seiring terus menguatnya mata uang Euro, Bank Indonesia (BI) mulai mengubah komposisi cadangan devisa milik pemerintah dengan memperbanyak porsi Euro sebagai salah satu strategi pengelolaan cadangan devisa. Namun demikian BI akan terus melakukan penyesuaian atas menguatnya Euro dan sejumlah mata uang lainnya. "Kalau melihat prospeknya bagus, Euro akan kita tambah. Itu pasti, tidak mungkin tetap," kata Deputi Gubernur BI Aslim Tadjudin di Gedung BI, Jakarta, Jumat (2/1). Menurut Aslim, BI masih perlu mencermati perkembangan masing-masing mata uang asing, terutama Euro. "Kita lihat apakah ini stabil atau tidak. Soalnya bahaya dari Euro ini adalah sangat heterogen," katanya. Dijelaskan Taslim, untuk jangka pendek posisi Euro memang lebih baik karena posisi mata uang jangka pendek dipengaruhi aspek psikologis dan teknis. Namun secara jangka panjang, katanya, dolar AS masih memiliki kemungkinan untuk menguat. Pasalnya meskipun perkembangan ekonomi AS belum sesuai seperti yang diharapkan, tapi sudah banyak faktor yang menunjukkan perekonomian AS akan membaik. Sementara itu untuk posisi Yen Jepang, menurun Aslim, saat ini terus menguat karena banyak permintaan dari sejumlah negara atas Yen tersebut. Hal ini disebabkan oleh Jepang merupakan negara industri yang melakukan ekspor di 10 negara. Selain itu suku bunga di Jepang tergolong rendah di bawah 1%, demikian pula dengan inflasinya. Tadjuddin juga mengatakan, BI akan mempertahankan kebijakan moneter yang akomodatif terhadap sektor riil. "Kita akan menekan suku bunga sehingga sektor riil bisa berkembang." Kebijakan pada akhir 2003 bunganya sudah 8% sehingga suku bunga SBI yang Rabu lalu sebesar 8,31% diperkirakan akan mengikuti kebijakan penurunan suku bunga tersebut. Dikatakannya, penurunan suku bunga SBI diharapkan memberikan suasana yang kondusif pada sektor riil sehingga bisa berkembang dan menciptakan lapangan kerja baru. Ketika ditanya lambatnya penurunan suku bunga kredit perbankan dibanding penurunan SBI, ia mengatakan, hal itu terjadi karena perbankan masih khawatir akan tingkat risiko sektor riil. (dtc,ant-82) |