
| Sabtu, 3 Januari 2004 | Ekonomi |
Peredaran Uang Meningkat Saat PemiluYOGYAKARTA - Pemilu 2004 mendatang akan berpengaruh bagi perekonomian Yogyakarta. Prediksi Bank Indonesia Cabang Yogyakarta jika pemilu berjalan lancar maka perekonomian akan baik, demikian juga sebaliknya. Kepala Bank Indonesia Cabang Yogyakarta Amril Arief mengatakan bahwa saat ini tidak ada partai yang dominan sehingga tidak menimbulkan kecemburuan seperti pada pemilu yang sebelumnya. Amril memprediksikan pada pelaksanaan pemilu yang akan datang jumlah uang yang beredar di Yogyakarta akan meningkat. Peningkatan itu bisa mencapai 40%, yang digunakan untuk keperluan kampanye seperti pembuatan atribut dan lainnya. ''Kami prediksikan jumlah uang beredar di tahun 2004 akan meningkat karena untuk keperluan pemilu,'' ujarnya. Tahun 2003 lalu, jumlah uang beredar mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun 2002. Pada tahun 2003 jumlah uang beredar sebesar Rp 1,25 triliun. Naik 22,55% dari sebelumnya yaitu Rp 1,02 triliun. Mengenai laju inflasi, dia mengungkapkan selama 11 bulan pertama tahun 2003 tercatat 5,13% dan sampai akhir tahun diperkirakan hanya mencapai 5,63% hingga 6,13%. Laju inflasi di DIY diperkirakan lebih tinggi dibandingkan laju inflasi nasional yang berada pada kisaran 5,15% hingga 5,08%. Laju inflasi tersebut jauh lebih rendah dibandingkan tahun 2002 lalu yang tercatat 12,01%. Perkembangan Menggembirakan Pada sektor perbankan dia menyatakan juga menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Penghimpunan dana dari pihak ketiga juga mengalami peningkatan dari Rp 8,77 triliun menjadi Rp 9,21 triliun, atau naik 3,03%. Demikian juga untuk penyaluran kredit perbankan mengalami kenaikan sebesar 26,33% menjadi Rp 3,51 triliun. Penyaluran kredit bank umum dan BPR masing-masing naik 26,46% dan 47,75% dibandingkan tahun 2002, sehingga jumlah kredit yang disalurkan tercatat sebesar Rp 3,14 triliun untuk bank umum dan Rp 436 miliar untuk BPR. Amril juga menjelaskan mengenai uang palsu, tercatat 79 lembar dengan nilai nominal Rp 3.660.000. Paling banyak uang palsu yang ditemukan adalah pecahan Rp 50.000 sebanyak 52 lembar, diikuti pecahan Rp 10.000 sebanyak 12 lembar, Rp 20.000 sebanyak 7 lembar dan pecahan Rp 100.000 sebanyak 3 lembar. Jumlah tersebut jauh lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2002 yang mencapai Rp 122.285.000.(D19-82) |