
| Sabtu, 3 Januari 2004 | Ekonomi |
Pegadaian Didominasi Permintaan DanaSEMARANG- Hari pertama buka pada 2004, kemarin sejumlah kantor cabang pegadaian di Semarang diserbu nasabah. Transaksi yang terjadi didominasi oleh pengajuan kredit atau permintaan dana. Pantauan Suara Merdeka di beberapa kantor cabang, seperti Poncol, Depok, dan Karangturi menunjukkan terjadi antrean panjang masyarakat yang membutuhkan dana. ''Peningkatan kebutuhan masyarakat dan proses yang mudah menjadi salah satu faktor penyebab pegadaian menjadi alternatif sumber pendanaan,'' kata Prijanto SH, Humas Perum Pegadaian Kantor Wilayah Semarang. Dia mengingatkan masyarakat, berapa pun jumlah dana yang mereka butuhkan, pegadaian akan menyediakan sehingga tidak perlu khawatir. Selama ini, lanjut dia, belum ada keluhan tentang kantor cabang di bawah Kantor Wilayah Semarang kekurangan dana. ''Kami bekerja sama dengan perbankan dalam hal penyediaan dana apabila sewaktu-waktu kekurangan,'' jelasnya. Kepala Cabang Pegadaian Karangturi Sugeng Arianto mengungkapkan, pelayanan di tempatnya didominasi oleh permintaan kredit atau dana. Pelunasan kredit lebih rendah 10% dibandingkan dengan permintaan kredit. Perbandingan jenis jaminan yang digadaikan nasabah di kantornya, ujar dia, adalah 82% perhiasan emas dan 18% nonemas seperti barang elektronik dan motor. Target omzet Cabang Karangturi pada 2003 adalah Rp 23 miliar dan hingga akhir tahun tercapai Rp 22 miliar. ''Namun, pencapaian Rp 22 miliar tersebut telah meningkat dibandingkan dengan tahun lalu. Pada 2004, kami menargetkan omzet akan mencapai Rp 24 miliar,'' katanya. Suku bunga pinjaman yang diterapkan ke nasabah 1,125% (15 hari) atau maksimal 9% (empat bulan) dengan pinjaman mulai Rp 20.000 sampai Rp 150.000 (golongan A). Untuk pinjaman mulai Rp 151.000 hingga Rp 200 juta (golongan B, C, dan D), suku bunga yang diterapkan 1,625% (15 hari) atau maksimal 13% (empat bulan). (H2-53j) Program gadai gabah yang telah dicanangkan Perum Pegadaian Kantor Wilayah Semarang tahun lalu, diharapkan terealisasi pada tahun ini. Program yang bertujuan membantu petani dalam penyediaan dana lewat pembelian gabah itu dirasakan sudah sangat mendesak.
Demikian dikemukakan oleh Prijanto SH, Humas Perum Pegadaian Kantor Wilayah Semarang kepada Suara Merdeka, di ruang kerjanya, kemarin. ''Masalah utama yang saat ini kami hadapi adalah belum ada hubungan sinergis antara pegadaian sebagai pemberi dana dan agen sebagai pengumpul dana serta petani sendiri,'' ujar dia. Agen sebagai pelaksana di lapangan, kata dia, belum memiliki agunan yang dikuatkan oleh kepastian hukum sebagai bentuk jaminan kepada pegadaian. Dia mengemukakan, jaminan yang diberikan antara lain kepemilikan lumbung atau gudang sebagai tempat penyimpanan gabah, termasuk di dalamnya tanah dan penggilingan yang dimiliki agen. ''Jaminan yang akan diminta oleh pegadaian adalah wajar, karena kami akan menyerahkan dana yang lumayan besar untuk dikelola agen di lapangan,'' tandasnya. Pihaknya mempersilakan anggota masyarakat atau lembaga untuk mengajukan diri menjadi agen pelaksana program gadai gabah. Apalagi, daerah di bawah Kantor Wilayah Semarang mulai pantura barat hingga timur dan ke selatan sampai Salatiga adalah lumbung beras. Peluang menjadi agen sangat terbuka, tentu dengan memenuhi beberapa persyaratan teknis dan nonteknis. ''Kami juga mensyaratkan agen yang dipilih adalah yang berpihak kepada petani, bukan tengkulak yang selalu merugikan para petani,'' tegas dia.(Surya Yuli P -53j) |