logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 3 Januari 2004 Ekonomi  
Line

Harga Gabah Petani Masih di Bawah HPP

JAKARTA- Badan Pusat Statistik (BPS) selama Desember 2003 masih menemukan harga gabah yang berada di bawah harga pembelian pemerintah (HPP), yakni untuk gabah kering simpan (GKS) dan gabah kering giling (GKG), meskipun untuk gabah kering panen (GKP) berada di atas HPP. "Ketika melakukan 599 observasi di 12 provinsi kami masih menemukan ada gabah yang dijual di bawah HPP karena memang kualitasnya tidak sesuai standar," kata Direktur Statistik Keuangan dan Harga BPS Ali Rosidi, kepada pers, di Jakarta, Jumat.

Sesuai ketentuan Deptan dan Bulog, HPP GKS adalah Rp 1.500 per kg, GKG Rp1.700 per kg dan GKP sebesar Rp1.230 per kg.

''Dari 599 observasi di 12 provinsi terdapat 57,43% kasus harga ditingkat petani dan 45,91 persen kasus harga di tingkat penggilingan yang berada di bawah HPP.''

Kasus harga di tingkat petani terdapat di 11 provinsi, yaitu Sumut, Sumbar, Lampung, Jabar, Jateng, DI Yogyakarta, Jatim, Banten, Kalteng, Kalsel, dan Sulsel.

Sementara kasus di luar kelompok kualitas terdapat 6,01% ditemui di tiga provinsi yaitu Jabar, Jateng, dan Jatim. Menurutnya, selama Desember 2003 dari 599 observasi diperoleh harga gabah terendah di tingkat petani sebesar Rp 750 per kg dan ditingkat penggilingan Rp800 per kg. "Semua harga terendah di temui di Sulsel untuk varietas Cingkuang, IR-64 dan Ciliwung kualitas GKP," katanya. Harga tertinggi di tingkat petani sebesar Rp 1.695 per kg dan di tingkat penggilingan sebesar Rp1.725 per kg dijumpai di Jabar untuk varietas Cisadane kualitas GKS.

Kesejahteraan Petani

Ia mengatakan pula, pada Oktober 2003 kesejahteraan petani naik 3,93% dibanding September 2003 karena indeks Nilai Tukar Petani (NTP) naik dari 114,78 jadi 119,29. "Hal ini disebabkan petani mampu menjual hasil produksinya 2,79 persen lebih tinggi dibanding September 2003. Pada saat sama harga rata-rata barang dan jasa untuk konsumsi rumah tangga pedesaan maupun keperluan produksi pertanian turun 1,09 persen," katanya.

Dari 15 provinsi yang diamati selama Oktober 2003, kenaikan NTP tertinggi terjadi di Nanggroe Aceh Darussalam 10,06% sebagai akibat harga cabai merah di tingkat petani naik 22,34 persen. Sedangkan penurunan NTP terjadi di Sulawesi Tenggara (Sultra) sebesar 1,13% akibat petani terpaksa menurunkan harga jual coklat hingga 3,07%. (ant-82)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA