logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 3 Januari 2004 Ekonomi  
Line

Dirut: Struktur Tarif Telepon Tak Menarik untuk Berinvestasi

SURABAYA- Direktur Utama PT Telkom Tbk, Ir Kristiono, mengatakan struktur tarif telepon, khususnya tarif telepon tetap (fixed phone), saat ini kurang memberikan rangsangan bagi investor untuk berinvestasi mengembangkan layanan tersebut.

"Dengan struktur tarif seperti sekarang ini, tidak menarik investor untuk mengembangkan. Tidak hanya Telkom, tapi juga operator lain," katanya di sela-sela peresmian Anjungan Internet Mandiri (AIM) di Bandara Juanda, Surabaya, Jumat (2/1).

Menurut dia, struktur tarif telepon nasional yang berlaku saat ini sudah tidak selaras dengan perkembangan dunia pertelekomunikasian.

Tarif telepon tetap di Indonesia paling murah seluruh Asia, sedangkan tarif seluler paling mahal di kawasan tersebut. Murahnya tarif telepon tetap di Indonesia karena selama ini disubsidi. Contohnya, telepon lokal selama ini disubsidi oleh Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ).

Karena itu, ia menilai, rencana kenaikan tarif telepon yang sempat tertunda-tunda, sudah sangat terlambat. "Kalau toh rencana kenaikan itu direalisasikan saat ini, sudah sangat terlambat," kata Kristiono.

Pemerintah pernah menyetujui dinaikkannya tarif telepon secara bertahap. Namun, rencana tersebut kemudian mengalami penundaan karena mendapat reaksi keras dari masyarakat.

Pertumbuhan

Jajaran Telkom semula berharap kenaikan tarif tersebut akan dapat me-rebalancing tarif telepon. Selain itu, kenaikan tarif bisa merangsang pertumbuhan layanan telepon tetap oleh para operator menyusul dibukanya duopoli atau lebih.

Dengan tertundanya kenaikan tarif telepon tetap maka para operator enggan untuk berinvestasi. Akibatnya, penetrasi pasar dan layanan kepada masyarakat menjadi terhambat.

"Jadi, TelkomFlexi lahir sebenarnya karena 'accident', akibat struktur tarif yang nggak bener," katanya. Meski kenaikan tarif telepon sempat tertunda-tunda, Telkom tetap akan berinvestasi untuk mengembangkan layanannya kepada masyarakat. Telkom diperkirakan akan menginvestasikan dananya sekitar Rp 5 triliun pada 2004 untuk mempertajam lima pilar bisnisnya seperti pengembangan telepon tetap, seluler, data, jaringan maupun TelkomFlexi.

Kristiono dalam kesempatan itu juga berharap Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) yang baru saja terbentuk bisa bekerja secara komprehensif dalam mengatur pertelekomunikasian, tidak sepotong-potong.

"Jadi, harus melihat telekomunikasi secara menyeluruh, tidak hanya masalah TelkomFlexi," katanya menambahkan. Telkom Divisi Regional (Divre) V Jatim, telah meluncurkan layanan masyarakat berupa dua Anjungan Internet Mandiri (AIM) dengan kecepatan tinggi 512 kilo bit per second) di Bandara Juanda, Surabaya, dengan tarif murah. Fasilitas internet yang diresmikan Dirut Telkom, Kristiono, itu merupakan hasil kerja sama dengan PT Angkasa Pura I Juanda dan ditempatkan di lokasi check-in keberangkatan dan di-gate-4 keberangkatan Bandara Juanda. (ant-82)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA