logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 3 Januari 2004 Jawa Tengah - Pantura  
Line

Dari Ketipung Jawa hingga Marwas Malaysia

JIKA Anda penggemar kasidah tentu tak asing dengan rebana atau ketipung yang menjadi alat musik pokok. Bila sewaktu-waktu Anda melihat pementasan grup kasidah, bisa jadi alat musik yang mereka gunakan berasal dari Desa Kaliwadas, Bumiayu, Kabupaten Brebes

Sentra kerajinan rebana adalah julukan desa itu. Namun bukan cuma rebana yang mereka buat. Seiring dengan perkembangan zaman, tuntutan pasar mendorong perajin kreatif.

Tidak mengherankan, toko-toko sepanjang Jalan Raya Kaliwadas menjual alat musik seperti drum, gitar, dan kendang. Bahkan belakangan mereka juga menjajakan ketipung Malaysia, yakni marwas dan tumbuk sribaju yang biasa dipakai sebagai pengirim nasyid. Malaysia memiliki grup nasyid kenamaan, Raihan.

''Kami memang pernah mendapat order ekspor rebana ke Malaysia. Namun karena kami tidak bisa ekspor langsung, keuntungan kami tak banyak. Apalagi risiko terkena klaim juga tinggi,'' ucap H Nurrohman (45), pengusaha rebana di Kaliwadas.Pemilik merek Nurmastas itu pun memilih pasar dalam negeri. Yakni, Jateng, Jabar, Jakarta, dan Kalimantan. ''Permintaan akan alat musik jenis ini kebanyakan dari Jakarta. Kami menjual satu set Rp 750.000.''

Pasar rebana (ada yang menyebutnya ketipung) tetap terbuka. Harga satuan bervariasi dari Rp 5.000 hingga 90.000. Peralatan untuk drum band juga ada. Harga satu set dengan grup beranggota 28 personel berkisar Rp 8 juta.

Nurroahman, yang melanjutkan usaha sang ayah, H Mas'ud, sejak 1981, saat ini tak perlu terjun langsung menangani pembuatan rebana. Sebab, dia mempunyai 30 perajin tetap.

Sebagai pengusaha berskala rumah tangga para perajin biasa bekerja dibantu istri dan anak. Dalam hitungan kasar, kata Nurrohman, penghasilan perajin bisa Rp 1,5 juta/bulan. ''Bahan baku kayu dan kulit dari kami.Perajin setor dalam bentuk barang jadi,'' tutur dia.

Tokonya memiliki empat tenaga pengepak dan finishing. Upah mereka mulai Rp 8.000 hingga Rp 15.000/hari. Karyawannya juga mendapatkan jatah makan tiga kali dan rokok.

Ternyata tidak semua warga Kaliwadas cocok menekuni usaha pembuatan rebana. Dari lima rukun warga (RW), hanya sebagian warga RW 2 yang membuat rebana. Warga menjemur kulit kambing dan kayu mangga, bahan pembuatan rebana, menjadi pemandangan biasa.

Sebagian besar di bagian lain wilayah Kaliwadas terjun ke sektor pertanian. ''Perajin rebana sekitar 70 orang. Sebagian besar di RW 2. Di wilayah lain hanya satu-dua. Tak banyak,'' ujar Sholihin (50), Ketua Paguyuban Rebana Desa Kaliwadas. (Sukardi-17g)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA