
| Sabtu, 3 Januari 2004 | Jawa Tengah - Banyumas |
Pedagang Beras di Perempatan ''Roda Emas''
Menjual Dagangan Tetap di Atas SepedaMELINTAS di perempatan Kejawar Jalan Martadirja Purwokerto setiap pagi antara pukul 5.30-08.00, mata kita pasti tertuju oleh pemandangan deretan puluhan penjual beras kelilingan yang berjejer secara rapi di tepi jalan. Pagi itu, dari sudut perempatan sebelah selatan, terlihat mereka begitu serius melirik atau mengawasi setiap orang yang melintas di perempatan yang terkenal dengan sebutan ''Roda Emas'' tersebut. Tatapan-tatapan mata itu tampak penuh harap, siapa tahu mereka yang lewat di jalan tersebut akan menjadi calon pembeli beras. Itulah bagian dari aktivitas para pedagang beras golangan atau borongan, yang sehari-harinya menawarkan beras yang mereka bawa dari desa masing-masing. Mereka datang dari daerah pinggiran Kabupaten Banyumas dan Kota Purwokerto, antara lain Kecamatan Sumbang, Kembaran, dan Sokaraja. Bahkan ada juga yang datang dari kabupaten tetangga, yakni Kecamatan Padamara, Purbalingga. Desa-desa di kecamatan tersebut merupakan sebagian dari daerah sentra beras di Kabupaten Banyumas dan eks Karesidenan Banyumas. Setiap pedagang maksimal bisa membawa 60-80 kg. Beras itu dimasukkan kandi, lalu dinaikkan sepeda onthel. Satu sepada bisa membawa 1,5 kandi (karung plastik) beras. Yang menarik, dalam menawarkan kepada pembeli atau pedagang besar, mereka tetap menaruh beras di atas sepeda. Untuk mengetahui kualitas dan jenis berasnya seperti apa, sudah disiapkan contoh. Bila harganya cocok, beras tersebut dibawa ke penyewa timbangan, tidak jauh dari lokasi mangkal. Sekali menimbang, banyak atau sedikit tetap dipungut biaya Rp 1.000. Dari kurang lebih 50 orang yang tergabung dalam paguyuban pedagang beras pasar kaget ''perempatan Roda Emas'', begitu sering kali disebut, kebanyakan sudah mempunyai pelanggan tetap. Dengan mangkal di lokasi itu, para pembeli baru atau pelanggan pasti mendatanginya. Keliling Kendati demikian, seperti diungkapkan Suhemi (40) asal Desa Linggasari, Kecamatan Kembaran, mereka tetap menawarkan secara berkeliling. Itu dilakukan untuk mengantispasi barang yang tidak laku. Sebab, penjualan hari itu belum tentu barang yang mereka bawa langsung laku semua. Ceritanya kalau nasib lagi mujur, kadang baru datang sudah langsung dibeli, tetapi ada kalanya sama sekali tidak laku. Suhemi menuturkan, di perempatan ''Roda Emas'' hanya sebagai tempat transit. Kalau barang habis terjual mereka langsung kembali ke rumah. Tetapi bila tidak, mereka tawarkan keliling dulu. Pertama akan mendatangi para pelanggan yang kebetulan hari itu tidak datang. Setelah itu mencari pembeli baru dari rumah ke rumah. ''Tetapi bila tidak habis ya terpaksa kita simpan dulu, baru kita tawarkan besok lagi, begitu seterusnya,'' ungkapnya, saat ditemui barang bawaanya baru laku separo (40 kg). Kegiatan dagang di jalanan tersebut sudah berlangsung puluhan tahun. Kapan dimulainya dan siapa yang merintis, kata sejumlah pedagang, tidak diketahui secara pasti. ''Yang jelas sudah lama, wong saya ikut berjualan dari 1975. Kata pendahulu saya, kegiatan seperti itu sudah ada,'' ujar Tarsudi (52) seorang pedagang asal Karangjegak, Kecamatan Sumbang, kemarin pagi. Para pembeli tidak hanya komsumen aceran tetapi juga para pedagang, baik besar maupun grosir. Namun umumnya mereka melayani para pemilik toko sembako, kelontong, dan pembeli borongan seperti yang sedang punya acara atau hajat. Beras yang ditawarkan sebenarnya tidak kalah dengan yang dijual di pasar-pasar umum, toko beras, dan supermarket. Yaitu seperti beras Cisadane, Cimalaya, Membramo, Wangi, Kerawang, IR 64, dan beras Ketan. Harganya rata-rata di bawah harga pasaran (eceran). Misalnya, beras Cisadane dan Cinalaya per kilogram Rp 2.200, IR 64 2.400, dan beras Ketan Rp 3.000. Yang jelas masih ada selisih Rp 50-100/kilogramnya. Harga itu pun bisa ditawar, selagi ada kecocokan harga dan diborong. Kadang yang tidak bawa angkutan, mereka bersedia mengantar satu tempat tujuan. (Agus Wahyudi-34s) |