
| Sabtu, 3 Januari 2004 | Jawa Tengah - Banyumas |
60 Persen Wilayah Desa Luwung KolamBANJARNEGARA - Ada pemandangan berbeda saat memasuki Desa Luwung, Kecamatan Rakit. Di kanan-kiri jalan desa itu tak lagi ada hamparan sawah atau kebun. Yang tampak adalah beberapa kolam. Bahkan halaman rumah pun diubah menjadi tempat pemeliharaan ikan. Kepala Desa Luwung Teguh Hadi Widowo mengatakan, warga beralih dari pertanian ke perikanan saat harga ikan melonjak pada tahun 1996. Sejak itu warga mengubah sawah menjadi kolam sebab harga ikan lebih baik ketimbang padi. ''Ikan yang mereka budidayakan tak cuma gurami (yang secara ekonomi paling tinggi dibandingkan dengan ikan lain), tetapi juga lele, ikan mas, dan ikan hias,'' kata dia. Warga tidak membudidayakan ikan siap konsumsi tetapi membenihkan beberapa jenis ikan untuk memenuhi kebutuhan daerah lain. Cuma sedikit warga yang membudidayakan ikan konsumsi. Air untuk keperluan ikan bukan masalah. Selain wilayah desa itu cukup landai dan hampir sepanjang musim tak pernah kekurangan air. Air yang mengalir sebagian besar dari Waduk Mrica. Air disalurkan lewat saluran sekuder. Produksi benih ikan dari desa itu cukup melimpah. Kendalanya, petani kesulitan memasarkan hasil produksi. Banyak pedagang besar langsung membeli ke petani, sehingga harga lebih banyak dipermainkan pedagang. Juara I Usaha pembenihan itu dapat mengangkat nama desa itu dan Kabupaten Banjarnegara. Beberapa waktu lalu ada kabar dari Jakarta, Desa Luwing menjadi juara I tingkat nasional lomba pembenihan ikan unit perikanan rakyat. ''Kabar itu sudah pasti. Kami tinggal menunggu undangan kapan berangkat ke Jakarta untuk menerima penghargaan dari Presiden,'' kata Sekretaris Desa Karsono. Bupati Drs H Jasri ST MM ketika mengunjungi desa itu mengatakan, lima tahun lalu Desa Luwung termasuk tertinggal. Sejak beralih ke perikanan warga mampu mengangkat perekonomian mereka. Bahkan ada beberapa warga mampu menyekolahkan anak hingga menjadi sarjana. Dia memahami kesulitan petani dalam memasarkan produk ke luar daerah. Karena itu dia memerintah Kepal Subdinas Perikanan dan Perekonomian merancang tata niaga ikan agar harga tak selalu dipengaruhi pedagang. ''Kami sudah membangun pasar ikan di Desa Purwonegoro, Kecamatan Purwonegoro. Dengan maksud, terjadi transaksi dengan harga standar yang tak merugikan petani,'' ujar dia. (A9-74g) |