logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 3 Januari 2004 Jawa Tengah - Kedu & DIY  
Line

Indonesia Termasuk Rawan Gempa Bumi

YOGYAKARTA-Gempa bumi merupakan fenomena alam yang tidak dapat dicegah/ditunda dan sampai saat ini belum dapat diprediksi secara akurat kapan akan terjadi.

Akibat yang ditimbulkan gempa bisa sangat fatal. Yakni berupa porak porandanya infrastruktur, tidak berfungsinya berbagai fasilitas umum dan fasilitas penting, serta sering membawa korban jiwa yang berjumlah tidak sedikit, sehingga dapat memengaruhi stabilitas sosial, ekonomi, politik, dan keamanan, terutama di wilayah bencana.

Menurut Kepala Pusat Studi Ilmu Teknik UGM Yogyakarta, Dr Ir H Nizam MSc, mengingat sebagian besar wilayah Indonesia terletak cukup dekat dengan batas lempeng-lempeng tektonik Eurasia, Australia, dan Filipina yang merupakan sumber-sumber gempa dangkal, sebagian besar wilayah Indonesia sangat rawan terhadap gempa bumi.

Upaya konkret yang dapat dilakukan untuk meminimalkan dampak negatif bencana gempa yang akan terjadi di masa datang di suatu wilayah tertentu adalah mitigasi bencana, yang dapat bersifat sunamial atau pun non-struktural. Dasarnya pengalaman masa lalu yang dinilai jauh lebih efektif dari respons baik pada saat maupun pascabencana.

Catatan Gempa

Dia mencontohkan, gempa bumi Bengkulu (4 Juni 2000) mengakibatkan 85 orang tewas, 600 orang terluka, dan 24.500 bangunan rusak. Gempa bumi yang melanda empat kabupaten di Jawa Barat (28 Juni 2001) mengakibatkan lebih kurang 7.300 bangunan rusak berat.

Adapun gempa di wilayah Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah (4 Mei 2001) mengakibatkan 10 desa pesisir porak poranda dilanda gempa bumi dan Tsunami dengan korban jiwa 18 orang meninggal. ''Beberapa contoh kejadian gempa yang terjadi di wilayah Indonesia tersebut sangat berpeluang menimbulkan kerugian tidak sedikit.''

Berdasarkan hal tersebut maka Asosiasi Ahli Rekayasa Kegempaan Indonesia (AARGI) dan Pusat Studi Ilmu Teknik UGM akan menyelenggarakan Konferensi Nasional Rekayasa Kegempaan II dengan tema ''Perkembangan Terbaru Rekayasa Kegempaan dan Mitigasi Bencana Gempa Bumi di Indonesia'', bertempat di Gedung Pascasarjana UGM, pada 20 Januari 2004.

Konferensi akan menghadirkan Menteri Kimpraswil Dr Ir Soenarno Dip HE dan praktisi serta pakar gempa Prof Dr Ir Wiratman Wangsadinata sebagai keynote speaker serta menghadirkan pula 29 pembicara yang akan mempresentasikan makalahnya.

Konferensi yang diketuai Prof Dr Ir Bambang Suhendro MSc tersebut melibatkan banyak pakar kegempaan dan analisis dinamik tidak hanya dari UGM tapi juga UII, ITB, Unibraw, UNS, dan UMS. Kegiatan itu terbuka bagi siapa saja yang berminat untuk menjadi peserta dengan menghubungi sekretariat panitia di Laboratorium Struktur dan Mekanika Bahan, Pusat Studi Ilmu Teknik UGM Jalan Teknika Utara (Barek) Yogyakarta, telepon/faks (0274) 565834. (P12-76s)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA