
| Sabtu, 3 Januari 2004 | Jawa Tengah - Kedu & DIY |
Disambut Meriah, Bupati Kirab Naik Kereta Kencana
PERAYAAN hari jadi ke-68 Kabupaten Kebumen pada 1 Januari 2004 lalu mendapat sambutan antusias dari segenap masyarakat. Tepat pada pukul 10.00, dimulai kirab pusaka yang diikuti para pejabat yang naik andong dari alun-alun. Yang tidak kalah menarik adalah kehadiran sekitar 150 pasukan cabe rawit abdi dalem Keraton Yogyakarta. Anggota pasukan yang rata-rata sudah berusia lanjut itu tetap bersemangat berjalan sekitar 4,8 km menelusuri jalan protokol di Kebumen. Di depan pasukan cabe rawit ada pasukan berkuda dan lambang daerah. Di belakang abdi dalem yang mengenakan kostum merah putih, seragam kebesaran Keraton Yogyakarta itu, berjalan berurutan para pejabat Kebumen. Urutan paling depan Bupati Dra Rustriningsih MSi. Kali ini Bupati mengenakan busana kebaya warna kuning dan naik kereta kencana yang dipinjam dari Keraton Yogyakarta. Sepanjang kirab itu Bupati duduk sendirian di dalam kereta. ''Sang Ratu'' Kebumen itu selama perjalanan melewati Jl Pahlawan, Jl Pramuka, Jl Pemuda, Jl Kusuma, dan Jl HM Sarbini, terus dielu-elukan masyarakat. Sambutan paling meriah terjadi di jantung kota Tugu Walet. Ribuan warga tumpah ruah memadati perempatan jalan sehingga arus lalu lintas macet total. Namun Bupati dengan sabar melayani warga yang berebut bersalaman. Di belakang Bupati, ada Ketua DPRD H Budi Utomo dan Wakil Bupati KH M Nasiruddin AM dalam satu kereta. Pakaiannya kontras. Ketua DPRD mengenakan beskap merah, sedangkan Wakil Bupati mengenakan baju hitam ala keraton. Di Belakang Ketua DPRD, ada satu rombongan dengan pasangan masing-masing. Tak lain adalah Kapolres AKBP Drs Lilik Purwanto SH dan Dandim 0709 Letkol Kav Herman Kusuma, serta Kajari Kebumen. Penampilan Kapolres dan Dandim yang mengenakan beskap merah dipadu baju dalam kuning dan bawahan kain batik kuning itu begitu serasi dan gagah. Bahkan kedua anggota Muspida Kebumen itu seperti senopati yang terus mengumbar senyum kepada masyarakat. Di belakangan Muspida, berturut-turut para pejabat, kepala dinas, instansi, kepala bagian, dan para camat dari 26 kecamatan. Namun, rata-rata pejabat itu berombongan dalam satu andong. Jumlah rombongan 68, seperti usia Kabupaten Kebumen. Kepala Bappeda H Budi Utomo SH misalnya, satu rombongan dengan para kepala bidang. Namun Pemimpin Cabang BPD Kebumen Sugito Wonoboyo terlihat naik andong bersama istrinya. Selama kirab hampir satu jam itu, jalan-jalan protokol dipenuhi warga. Banyak pula warga dari pelosok desa berjalan kaki menyempatkan diri melihat kirab. Acara itu juga disiarkan langsung reporter radio In FM, Omar Sara. Dia naik kuda berpakaian ala pangeran. Upacara Pagi harinya, di Alun-alun digelar Upacara Hari Jadi. Bertepatan dengan malam tahun baru diadakan pesta kembang api yang dihadiri ribuan warga. Bupati Rustriningsih mengakui, masih ada polemik seputar penetapan Hari Jadi Kota Kebumen 1 Januari 1936. Namun ia berpendapat, keputusan yang ada saat ini menjadi pegangan. Dia juga merespons tuntutan untuk meninjau hari jadi 1 Januari 1936. Bupati menandaskan, dia akan melibatkan para pakar, para tokoh masyarakat, dan pihak yang berkompeten untuk membahas hari jadi pada tahun depan. Tahun ini diperingati dengan melakukan kirab dengan dana swadaya dari instansi dan bagian. Bupati mengatakan, hal itu menjadi momentum awal untuk membangun kesadaran dan karakter masyarakat Kebumen. Dia menyatakan, selama ini sudah banyak perhatian diberikan pada pembangunan berbagai sektor. Namun untuk bidang budaya, belum dimulai secara serius. Padahal, banyak aspek terkait dengan karakter dan kultur masyarakat yang sebenarnya memiliki potensi sebagai modal dasar membangun masa depan. ''Kami ingin hari jadi ini bisa dimengerti seluruh masyarakat. Saya baru tahu hari jadi 1 Januari setelah jadi bupati, apalagi bagi masyarakat umum yang berjumlah 1,2 juta,'' tandasnya. Memang, soal hari jadi Kebumen itu masih menjadi pro-kontra. Sebagian pemerhati menilai, 1 Januari 1936 berbau kolonial karena keputusan Gubernur Hindia Belanda tentang Penyatuan Kabupaten Kebumen dan Karanganyar yang jadi patokan. Adapun daerah Kebumen sudah ada sejak sekitar tahun 1670-an, ketika Pangeran Bumidirdjo dari Mataram tiba di Kebumen. Kebumen juga memiliki trah Kolopaking dan trah Arungbinang yang selama beberapa abad lampau menjadi dinasti penguasa di daerah itu. Lalu, apakah hari jadi 1 Januari 2004 ini akan menjadi hari jadi yang terakhir diperingati Kebumen? Waktu yang akan menjawab. Bukankan sebenarnya hari jadi hanyalah simbol. Lebih penting sebenarnya justru bagimana masyarakat Kebumen selama ini berkiprah. Sejauh mana pula Pemkab sebagai pelayan masyarakat mampu mendorong kesejahteraan rakyat. Mengutip pendapat Kepala Bappeda H Budi Utomo SH, ada beberapa indikator positif selama setahun terakhir. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) selama 2003 menunjukkan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Angka IPM Kebumen 2003 sebesar 68,08 atau naik dibanding dengan IPM 2001 sebesar 64,03. Adapun yang memengaruhi naiknya angka IPM adalah aspek kesehatan dan pendidikan. Aspek kesehatan misalnya, ada peningkatan angka harapan hidup dari 62,84 menjadi 68,63, sedangkan angka rata-rata lama sekolah dari 6,03 pada 2001 menjadi 7,25 pada 2003. Pada 2004, beberapa program telah dirancang. Mulai pemberdayaan masyarakat pesisir, pembinaan nelayan, sampai peningkatan sarana laut. Sektor lain adalah pembangunan RSU Tipe B senilai Rp 25 miliar di Desa Muktisari Kebumen. (Komper Wardopo-81n) |