logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 3 Januari 2004 Jawa Tengah - Muria  
Line

Pers Mampu Kondisikan Pemerintah yang Bersih

REMBANG -Dalam banyak hal, peran pers masih sering disalahpahami dari konteks kepentingan. Contohnya, ketika merasa terusik oleh pemberitaan, kita segera menuding pers telah melakukan pemberitaan yang menyebabkan situasi tidak kondusif.

Pers dianggap telah melakukan pembunuhan karakter, melakukan pemberitaan tidak berimbang, dan sebagainya. Sebaliknya, ketika ingin memperkenalkan diri, menyosialisasikan kebijakan atau program-program tertentu, kita segera memburu wartawan untuk memuat kegiatan secara besar-besaran.

''Kondisi itu sering terjadi ketika wartawan menjalankan peran kontrol,'' kata Amir Machmud NS dari Suara Merdeka Semarang, pada dialog bertajuk ''Talk Show Akhir Tahun 2003'' di gedung Setwilda lantai IV, kemarin.

Acara yang diprakarsai oleh Bagian Humas itu dibuka oleh Asisten I Gatot Sugiarso SH. Pembicara lainnya Wakil Bupati Drs Nasirul Mahasin.

Wakil Bupati Drs Nasirul Mahasin yang sebelumnya bersedia menjadi pembicara, pada saat acara dialog berlangsung tak dapat hadir karena sakit. Sehingga satu-satunya pembicara cuma Amir Machmud NS.

Padahal, tambah Amir, dalam fungsi kontrol itu terkandung peran pers untuk mendorong pengondisian pemerintah yang bersih (clean government). Untuk itu kita perlu mengetahui dasar-dasar peran media massa dengan memahami apakah informasi, apakah komunikasi, apa pula jurnalistik dan peran-peran transformatikanya.

Dalam paradigma masa kini, jika disepakati ''informasi adalah berita'', bisa ditarik definisi sebagai peristiwa yang dipersepsi oleh pembawa informasi (bisa media massa atau siapa pun) yang kemudian dipersepsi kembali oleh masyarakat.

Pertanyaannya, apakah setiap informasi/berita bisa disebut fakta? Menurut Amir, dalam pandangan positivistik terdapat fakta yang riil, yang diatur oleh kaidah-kaidah tertentu yang berlaku secara universal.

Karena itu, informasi/berita adalah cermin dan refleksi dari suatu kenyataan. Simpulannya, berita harus sama dan sebangun dengan fakta.

Dalam dialog itu Amir juga menjelaskan mengenai definisi komunikasi secara sederhana. Komunikasi adalah interaksi antara satu pihak dengan pihak lainnya.

Atau, suatu pihak menyampaikan pesan dan pihak lainnya menerima pesan. Bentuknya bisa melalui dialog, bisa juga sekedar penyampai dan penerima.

Amir mengatakan pers Amerika Serikat di zaman Presiden Kennedy pernah meneguhkan komitmen: ''Kami tidak mengkritik Presiden, tetapi memberi dukungan kepada Presiden melalui kritik''.

Memang bentuk komitmen seperti itu tidah mudah dijabarkan, terutama ketika kekuasaan cenderung berbicara sedangkan orang dengan semua kepentingannya terusik oleh pers. Namun di balik keterusikan itu sebenarnya terlihat peran besar pers untuk menjalankan fungsinya. (jl-49i)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA