
| Sabtu, 3 Januari 2004 | Jawa Tengah - Muria |
Cuaca Cerah, Penjual Terompet PanenTRET-tret-tret. Bunyi terompet terdengar di seluruh pelosok Kudus saat malam pergantian tahun. Perayaan pergantian tahun memang kurang lengkap tanpa terompet. Semua orang bergembira. Dan salah satu di antaranya adalah pedagang terompet. Sebab, dagangan mereka laku keras. Tidak sia-sia para pedagang terompet, yang sebagian besar dari Wonogiri, datang ke Kudus untuk menjajakan dagangan. Malam pergantian tahun membawa berkah bagi mereka. Bagaimana tidak? Hanya bermodal Rp 500.000, keuntungan yang bisa mereka bawa pulang bisa dua-tiga kali lipat. Padahal, mereka hanya berjualan sekitar dua minggu. "Saya rutin berjualan terompet di Kudus setiap pergantian tahun. Keuntungan cukup lumayan. Bisa dua-tiga kali lipat dari modal," kata Jampong Riyono (35), warga Desa Tanjung, Kecamatan Bulukerto, Wonogiri. Mengapa memilih Kudus, bukan Semarang, Solo, atau kota besar lain? Kudus menjadi pilihan bagi Jampong bersama 14 pedagang lain dari Wonogiri untuk mengadu nasib. Sebab, mereka menilai penduduk Kudus sudah mapan. Perekonomian penduduk kota ini tidak kalah dari Semarang dan Solo. Mereka tak berbelit menawar dan mengeluarkan uang. Itu keuntungan tersendiri bagi para pedagang terompet. "Rezeki kami lancar bila berjualan di Kudus. Sebab, orang Kudus tidak suka menawar. Jadi gampang membeli," ujar dia. Sehari rata-rata terompet yang terjual antara 40 dan 50 buah. Harga pun cukup bervariasi, dari Rp 1.500 hingga Rp 5.000. Itu tergantung pada model terompet. Jika pembeli pandai menawar, harga bisa turun. "Tahun-tahun silam juga sama dengan malam pergantian tahun kemarin. Rata-rata sehari terompet laku 40-50 buah," kata Jampong, yang membawa 600 terompet. Tahun lalu para pedagang asal Wonogiri membawa terompet hingga 1.000 buah. Namun kemarin mereka mengurangi. Sebab, cuaca di Kudus mendekati akhir tahun 2003 kurang menguntungkan. Hujan mengguyur sehari-hari mereka khawatirkan mengurangi minat pembeli. Namun ternyata, walau hujan turun cukup deras hingga banjir, dagangan mereka tetap laku. Sebab, biasanya hujan turun malam hari dan pagi hingga sore hari tidak. Itu cukup menolong mereka untuk meraup keuntungan. "Kami mengkhawatirkan cuaca karena setiap hari hujan. Itu bisa membuat dagangan kami tidak laku. Untung, hujan sering turun malam hari," kata dia, yang sehari-hari adalah petani di Wonogiri. Jampong dan kawan-kawan berjanji tetap menjadikan Kudus sebagai lahan mencari rezeki. Bahkan mereka sudah berencana membuat model terompet lebih variatif. Model terompet tidak hanya berbentuk klasik dan saksofon. Namun model ular kobra dan buaya juga akan mereka perkenalkan di Kudus. Itu untuk menambah daya tarik dan nilai jual terompet. "Di Bali, model kobra dan buaya sudah ada. Tahun depan model itu kami pasarkan di Kudus," kata dia. (Budi Winarto-49g) |