logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 31 Desember 2003 Surat Pembaca  
Line

Tolak Hari Jadi Kebumen

Sebagai orang asli Kebumen khususnya trah Keluarga Somalangu dan juga anak seorang patriot AOI yang berjuang bersama masyarakat mengusir penjajah Belanda, saya tidak bisa menerima penetapan Hari Jadi Kebumen 1 Januari 1936, seperti diberitakan Suara Merdeka 8 Desember lalu.

Hal ini mengingat tidak didasarkan pada fakta sejarah. Kecuali itu penetapan tersebut lebih terkesan merupakan keputusan politik yang sarat berbagai kepentingan penguasa saat itu (1989). Tidak dilibatkannya masyarakat secara luas kecuali kalangan DPRD, menjadi alasan kuat lemahnya keputusan ini.

Demi kebenaran saya mengajak kepada para sesepuh, pelaku sejarah, anak cucu keturunan trah Arungbinang, trah Kolopaking, trah Somalangu, tokoh masyarakat, pendidik, dan seluruh elemen masyarakat, untuk menolak Hari Jadi Kebumen 1 Januari 1936 dan menuntut Perda tentang ini dicabut.

Menurut saya penetapan 1 Januari 1936, justru merupakan pemerkosaan sejarah yang harus segera diluruskan. Apalagi diputuskan melalui Perda sebagai keputusan politik. Hari jadi adalah masalah sejarah, biarlah masyarakat Kebumen sendiri yang menentukan kapan tanggal, bulan dan tahun kelahiran kotanya.

Tentu saja dengan mengacu pada sejarah, adat, tradisi dan keyakinan yang selama ini melekat dan hidup di hatinya `wong Kebumen '. Kisah legendaris seperti kedatangan Pangeran Bumidirjo dari Mataram (1670) yang diberi tanah di sebelah utara berbeloknya sungai Luk Ulo yang kemudian menjadi tempat tinggaInya.

Sejak bermukim di situ beliau menamakan dirinya Ki Bumi yang dari nama inilah nama Kebumen itu diambil. Atau tokoh Joko Sangkrip yang sangat Iegendaris dalam Babad Arungbinangan atau Babad Kebumen, yang berhasil menumpas pemberontakan di Gunung Slamet. Kelak akan menjadi cikal bakal para penguasa atau Bupati Kebumen dengan gelar Arungbinang I pada masa Kesunanan Surakarta bisa dijadikan acuan.

Masyarakat Kebumen memiliki banyak pilihan sejak Pangeran Bumidirjo, Joko Sangkrip (Arungbinang I) hingga ke trah Kolopaking (1677) yang lebih menyejarah. Mari selamatkan sejarah, sebelum digugat anak cucu cicit kita kelak, atau menjadi bahan ketertawaan bagi para ahli sejarah, di belakang hari nanti.

Mahmudin SPd
Jl Kusuma 95, Kebumen

***

Bali Invasion Syndrome di Cafe Ventura Menipu

Tanggal 26 Desember 2003 A Mild Live Production bekerja sama dengan Biru Organizer mengadakan acara Bali Invasion Syndrome di Ventura Cafe Semarang. Dari spanduk dan billboard di pertigaan Undip Imam Bardjo, saya membaca acara tersebut akan menampilkan bintang tamu Scratch Crew dari Bali dan band Dimensi Band.

Sebagai penyuka band tersebut, saya putuskan menonton walau dengan pertimbangan harga tiket yang lumayan mahal dan kemungkinan hujan karena di panggung terbuka. Betapa kecewa, ternyata band pembuka bukan Dimensi Band tetapi Genta Band.

Bagaimana penyelenggara, bikin acara kok nggak benar. Kalau memang band tersebut berhalangan hadir, kenapa nggak diganti dengan band yang kualitasnya setara, seperti Castle misalnya. Saya benar-benar kecewa dan tertipu. Selama ini saya selalu berpikir acara yang dibuat A Mild biasanya cukup bagus.

Tapi kali ini kok antara acara dan publikasinya kok nggak sinkron. Terus saya harus protes ke mana. Sekarang baru band dalam kota, jangan-jangan lain kali mereka akan menyebut menghadirkan artis ibu kota tapi yang main lain.

Maaf kalau unek-unek saya terlalu jujur dan tidak tahu harus mengutarakan ke siapa. Saya tidak menuntut apa-apa, hanya berharap tidak terulang lagi kejadian numpang nama. Walau tiket cuma Rp 20.000 tapi itu jumlah yang cukup besar bagi mahasiswi seperti saya.

Faristin
Jl Gribig 44, Kudus

***

Kritik untuk PDAM

Sebagai pelanggan PDAM di Semarang Utara, saya terkejut karena bulan November 2003 mendapat tagihan tunggakan PAM tahun 1996 (terlampir). Mengingat tagihan tersebut sudah terlalu lama sehingga saya tidak ingat lagi apakah memang belum bayar.

Andaikata sudah terbayar pun tidak mungkin mencari lagi bukti kuitansinya. Yang ingin saya tanyakan mengapa PDAM menagih pelanggan yang menunggak sampai bertahun-tahun. Apakah tidak bisa meniru cara pembayaran telepon atau listrik, di mana ada pelanggan yang menunggak sampai 3 bulan langsung diberi peringatan, bahkan dicabut.

Melihat cara penagihan yang berlarut-larut saya jadi berpikir, jangan-jangan setelah tagihan tunggakan ini dilunasi akan muncul lagi tagihan tahun 1985, tahun 1970 atau lainnya. Mohon PDAM memperhatikan keluhan pelanggannya.

Kasmiyati
Jl Brotojoyo Timur IV/I Semarang 50178

***

Tank Vs Angkot dan Sikap Panglima

Terpicu pernyataan WS Pangdam IV/Diponegoro seperti dikutip TV swasta 29 Desember pagi lalu, yang mengatakan kecelakaan antara tank dengan angkot terjadi karena supir angkot mengabaikan isyarat tank terdepan bahwa masih ada tank lain di belakang tapi angkot tetap ngebut, rasanya nalar kita terganggu.

Kalau tank tetap dalam marka apakah mungkin angkot nekat menabrak, padahal posisi tank di deretan tengah atau terakhir. Tidakkah jauh lebih mungkin marka berada di luar marka, apalagi jalan angkot baru menanjak.

Memang ada peraturan, konvoi militer yang akan masuk ke area publik harus didahului voor rijder, menyalakan lampu hazard, mengibarkan bendera depan dan belakang dan sedapat mungkin meminta izin/pemberitahuan lebih dulu petugas sipil/polisi. Kecuali keadaan darurat/perang,

OK, masalahnya masih diteliti, panglima dan saya sama tidak menyaksikan dan sangat mungkin human error. Justru di sinilah duduk masalahnya. Sikap defensif agresif yang akarnya superiority complex.

Panglima TNI AD berulang kali menunjukkan sikap kuat untuk mengubah paradigma salah kaprah ini, penyelesaian peristiwa Binjai misalnya, sangat membesarkan hati dan menimbulkan rasa bangga rakyat banyak,

Sartono Mukadis
Jl Pinang Kalijati 16 Pondok Labu, Jakarta

***

Angkutan Umum

Sering kita merasa sesak napas bila berada di belakang bus atau truk yang mengeluarkan asap pekat bahkan terkadang sulit untuk melihat kondisi di depan. Apalagi kalau sudah berada di tanjakan seperti Tanah Putih dan Gombel Semarang.

Saya yakin sebenarnya para pengusaha angkutan umum maupun pemilik kendaraan yang mengeluarkan asap pekat ingin memperbaikinya atau tidak ingin mengganggu kenyamanan pengguna jalan yang lain dengan asap yang dikeluarkan.

Namun sayang.... masalah klise yang sering dihadapi yaitu dana ternyata kurang atau sangat mahal. Melalui rubrik ini saya mohon kepada pihak terkait agar memikirkan jalan lain yang saling menguntungkan.

Anna M
Jl Jangli Gabeng 8 Semarang


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA