logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 31 Desember 2003 Sala  
Line

Pro-Kontra Kirab Gethek Jaka Tingkir

"Larung Itu Artinya Dibuang"

KERATON SURAKARTA-Pro-kontra soal istilah dan format prosesi kirab gethek Jaka Tingkir yang telanjur diberi nama Larung Ageng, tidak memengaruhi rencana kirab perahu di Bengawan Solo itu.

Meski GPH Puger selaku kepala perpustakaan atau Pengageng Sana Pustaka Keraton Surakarta sudah berulang-ulang mengingatkan agar panitia berinisiatif meluruskan pengertian yang dijadikan label kegiatan itu.

"Saya tidak bermaksud ngalang-alangi panitia. Tetapi, mbok ada inisiatif mencari tahu sejarah yang benar dan penggunaan istilah secara tepat. Pengertian larung itu artinya dibuang karena jelek. Apa Jaka Tingkir itu jelek, lalu dibuang? Kan tidak. Pengertian seperti itulah yang perlu diluruskan," ungkap putra dalem Sri Susuhunan Paku Buwono XII yang akrab disapa Gusti Puger tersebut ketika ditemui Suara Merdeka di keraton, belum lama ini.

Dia berharap, panitia bisa arif dalam mengadopsi sisi sejarah dan penggunaan istilah-istilah itu, mengingat atraksi tersebut sudah dijadikan kalender tahunan rutin yang akan diselenggarakan. Sebab, banyak sejarah dan pengertian-pengertiannya dikenal betul kalangan masyarakat.

Paling tidak, lanjutnya, kalau prosesi itu dilakukan mengambil start dari Pesanggrahan Langenharjo menuju Desa Butuh, Plupuh, Sragen, bisa disebut napak tilas perjalanan Jaka Tingkir menuju Keraton Demak.

Napak Tilas

Sementara untuk label atau judul, bisa digunakan istilah napak tilas, bukannya larung yang hingga kini tetap dianggap berkonotasi negatif. Yaitu barang buruk, bikin sial yang harus dibuang, atau dilarung.

"Kalau dulu pernah saya dengar menggunakan kata larung untuk membuang sesaji, itu ada benarnya. Karena intinya membuang. Apakah itu dihanyutkan (dilarung) atau dilempar ke lubang (kawah-Red) gunung, dan lain-lain. Jadi, mari kita cari istilah tepat agar tidak membingungkan masyarakat," tuturnya lagi.

Di tempat terpisah, pertemuan beberapa panitia di Pesanggrahan Langenharjo belum lama ini kembali menegaskan atraksi tersebut akan dilaksanakan 1 Januari 2004 dan adik GPH Puger, yaitu GPH Benowo ditetapkan menjadi pemeran Jaka Tingkir.

Acara yang nyaris tanpa publikasi tersebut juga menjadwalkan berlangsungnya pentas wayang kulit semalam suntuk pada 31 Desember malam ini, dengan dalang pemeran Jaka Tingkir itu.

"Dari jadi pro dan kontra yang bisa memengaruhi kredibilitas panitia dan acaranya itu sendiri, menurut saya kok lebih baik mengikuti yang benar. Wajar kalau GPH Puger mengingatkan. Karena selain dia tahu sejarah, Sinuhun kan juga sebagai pelindung dalam kepanitiaan itu," tutur Bendahara Panitia, M Harno AR. (won-17s)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA