logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 31 Desember 2003 Olahraga  
Line

Catatan Akhir Tahun Bidang Olahraga

Membangun Kembali Olahraga Indonesia (2-Habis)

Oleh: Prof Dr Sugiyanto

PENGEMBANGAN keolahragaan nasional hendaknya menggunakan dua indikator dalam menilai kemajuan atau keberhasilannya, yaitu indikator kuantitatif dan kualitatif.

Indikator kuantitatif adalah penilaian keberhasilan yang didasarkan pada banyaknya masyarakat yang berolahraga secara teratur, termasuk jumlah perkumpulan atau klub olahraga yang ada di masyarakat, yang membina anggotanya secara serius. Indikator kualitatif adalah penilaian keberhasilan yang didasarkan pada tingkat prestasi para atlet.

Sesuai dengan prinsip piramida pengembangan olahraga, banyaknya masyarakat yang berolahraga merupakan bagian bawah piramida yang menjadi dasar pencapaian prestasi tinggi yang tergambar sebagai puncak piramida.

Pengembangan olahraga menggunakan prinsip piramida perlu dilakukan. Kejayaan Indonesia di SEA Games XIX tidak terlepas dari keberhasilan prinsip pembinaan tersebut yang dilakukan melalui Program Memasyarakatkan Olahraga dan Mengolahragakan Masyarakat. Pengibaran panji-panji olahraga dengan slogan tersebut perlu diaktualkan kembali dalam pembangunan keolahragaan nasional.

Melalui program tersebut akan muncul banyak atlet berbakat yang kemudian dibina secara teratur, berlanjut, dan berkesinambungan, menggunakan metode ilmiah yang berlandaskan Ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir.

Penghargaan terhadap prestasi merupakan hal yang sepantasnya diberikan bahkan sebagai suatu keharusan. Yang mencapai prestasi tinggi di bidang apa saja pantas diberi penghargaan.

Di dunia pendidikan dikenal kata reward (hadiah) dan punishment (hukuman) sebagai bentuk perlakuan kepada anak didik untuk membangkitkan motivasi berprestasi. Dalam pendidikan modern, ''hadiah'' lebih diutamakan sebagai perlakuan dibanding menerapkan ''hukuman''. Hal ini sebaiknya secara terprogram digunakan juga dalam memacu motivasi berprestasi atlet. Hadiah penting untuk diberikan kepada atlet berprestasi. Besar-kecil hadiah disesuaikan dengan tingkatan prestasi.

Di dunia keolahragaan kita, penggunaan istilah ''bonus'' (yang arti sebenarnya adalah ''tambahan gaji'') sebagai pengganti kata hadiah merupakan istilah yang ''salah kaprah'' yang merancukan makna dan hakikat hadiah dalam pencapaian prestasi. Kerancuan tersebut tampak dengan adanya kontroversi mengenai ''bonus''. Baik atau tidaknya dijanjikan sebelum bertanding. Bahkan ada yang berpendapat bahwa menjanjikan bonus dinilai tidak mendidik.

Istilah bonus sebaiknya tidak digunakan. Sebaiknya digunakan adalah istilah ''hadiah''. Dengan demikian, kita dapat menyikapinya dengan benar pula. Pemberian hadiah kepada yang berprestasi tinggi seharusnya dilakukan. Hadiah yang akan diberikan justru sebaiknya diberitahukan kepada atlet jauh-jauh hari sebelum berlaga. Dengan demikian, manfaat hadiah sebagai pemacu motivasi berprestasi dapat berfungsi optimal. Jangan sampai terjadi kondisi pada saat berlaga justru atlet berpikir nanti kalau menjadi juara dapat bonus atau tidak.

Pemberian hadiah merupakan salah satu bentuk penghargaan. Ada bentuk lain dari penghargaan, baik yang bernilai ekonomis maupun yang tidak bernilai ekonomis. Dalam kehidupan sekarang yang bernilai ekonomis lebih diminati.

Pengembangan Iptek

Untuk mencapai prestasi internasional kini tidak mungkin lagi tanpa memanfaatkan iptek dengan baik. Sayang, perkembangan iptek olahraga di Indonesia masih tersendat-sendat.

Pengembangan iptek olahraga wajar ditumpukan pada peran lembaga pendidikan tinggi olahraga (LPTO). Sayang, LPTO kita pada umumnya memiliki sumber daya pendukung yang minim. Laboratorium sebagai sarana utama pengembangan iptek juga sangat minim. Beberapa waktu lalu penulis mengunjungi banyak LPTO di Indonesia. Ternyata yang memiliki laboratorium cukup memadai hanya satu LPTO, yaitu Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Surabaya.

FIK Jakarta dan FIK Yogyakarta berada di tingkat di bawahnya. Sedangkan FPOK Bandung, FIK Semarang, FIK Medan hanya memiliki seadanya. Yang lebih minim lagi di FIK Makassar, FIK Padang, FIK Manado. Yang sangat minim di JPOK Solo, JPOK Banjarmasin, JPOK Malang. Apalagi JPOK Singaraja, JPOK Palembang yang belum lama berdiri. LPTO swasta yang juga ada tersebar di berbagai kota bahkan bisa dikata tidak punya laboratorium. Hal tersebut dapat menjadi salah satu indikator perkiraan kondisi perkembangan IPTEK Olahragadi Indonesia.

Sebagai pusat-pusat pengembangan iptek olahraga dan penghasil sumber daya manusia keolahragaan, LPTO harus dilengkapi laboratorium yang memadai. Laboratorium olahraga memang mahal, tetapi kalau ingin maju itu tetap harus diadakan. Karena itu, pemerintah melalui Depdiknas harus memfasilitasi hal tersebut. Pihak-pihak swasta besar dan masyarakat yang mampu dan peduli terhadap perkembangan olahraga nasional juga diharapkan bekerja sama untuk mengadakan laboratorium. LPTO pada umumnya kurang memiliki dana dan daya untuk itu.

Permasalahan keolahragaan nasional sangat kompleks. Paparan di depan merupakan sebagian dari masalah yang memiliki nilai strategis yang perlu diprioritaskan untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi. Diharapkan sekelumit pemikiran tersebut dapat menjadi masukan bagi pihak-pihak terkait. Semoga keolahragaan nasional segera bangkit kembali. (Prof Dr Sugiyanto, Guru Besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret-57e)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA