logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 31 Desember 2003 Berita Utama  
Line

Ditahan Gara-gara Guyonan soal Bom

MENANTI: Para atlet dan official Tim Indonesia berada di dalam pesawat Singapura Airlines. Mereka menantikan tiga anggota tim yang ditahan. (43)

SINGAPURA-Mungkin Mentin Gunarto, pelatih angkat berat ASEAN Para Games II dari Indonesia tidak pernah menyangka bakal ditahan aparat hanya gara-gara guyon bilang bom. Senin malam (29/12) sekitar pukul 00.00 dia ditahan kepolisian Singapura.

Dia ditahan sesaat menjelang pesawat Singapura Air SQ Line 166 akan take off, setelah transit dua jam di Bandara Changi Singapura. Mentin diduga mengatakan ''bom'' sesaat memasukkan barang ke tempat bagasi (di atas kepala) nomor 55. Ucapan ''bom'' tersebut didengar Christin, salah seorang pramugari yang paham bahasa Indonesia. Akibatnya, pesawat yang sudah bergerak untuk take off pukul 20.20 (WIB) mendadak berhenti. Empat polisi Singapura berseragam hijau dan beberapa petugas security, langsung menuju bangku nomor 55. Mereka menanyakan ucapan ''bom'' tersebut.

Beberapa atlet dan ofisial yang duduk paling belakang diam. Lalu mendadak Mentin berdiri dan berkata kepada petugas, ''Saya yang bertanggung jawab. Namun, saya tidak mengatakan bom. Saya mengatakan, barang ini isinya telur, jika jatuh pecah.''

Kontingen atlet cacat Indonesia yang berlaga di ASEAN Para Games II Hanoi, Vietnam 22-27 Desember 2003, yang berjumlah 39 atlet dan 12 ofisial kembali ke Tanah Air pada 29 Desember (28 Desember tidak ada pesawat).

Rombongan yang dipimpin Chief de Mission DR H Husein Argasasmita MA, Ketua Pusat Pelatnas KONI, berangkat dari lapangan terbang Noi Bai Hanoi Vietnam dengan pesawat Singapura Air Line SQ 175 pukul 14.00 WIB. Pesawat tiba di bandara Changi Singapura pada pukul 18.00 WIB dan harus transit dua jam. Kemudian, mereka ganti pesawat dengan penerbangan yang sama hanya nomor pesawatnya berbeda (SQ 166).

Pada saat naik pesawat untuk kembali ke Indonesia itulah terjadi kasus ''bom''

Mobil-mobilan

Sudah menjadi kebiasaan bila para atlet pulang dari luar negeri pasti membawa oleh-oleh. Veronika Niniek Umardiyani, atlet lempar lembing asal Yogya membeli mobil-mobilan ukuran besar (kotak 1,25 X 25 cm). Telur ayam Vietnam, khususnya ayam jago yang populer di Indonesia juga dibeli untuk oleh-oleh. Agar telur tidak pecah, yang empunya memasukkan telur itu ke kotak mobil-mobilan.

Nonik Umardiyani mempunyai kelainan cacat kaki. Barang bawaanya di jinjing oleh Rachmad, komandan pelatnas (Solo). Karena tempat duduk Niniek penuh, oleh Rachmad kotak diserahkan kepada Mentin untuk ditempatkan di atas tempat duduknya. Pada saat itulah terjadi kasus tersebut.

Karena tidak ada kejelasan siapa yang mengatakan bom, lalu petugas melakukan pemeriksaan. Beberapa orang yang duduk di dekat Mentin diinterogasi. Anehnya, polisi dan petugas keamanan tidak memeriksa isi mobil-mobilan, tetapi terus menanyakan siapa yang mengucapkan kata ''bom''.

Meski situasi tidak kacau, ketegangan meliputi sekitar 300 penumpang yang akan kembali ke Jakarta. Sebab, semua penumpang diminta keluar dari pesawat dan menunggu di ruang tunggu.

Lima orang kembali diinterogasi, yakni Mentin, Veronica Niniek Umardiani, Tjayeng Wibowo, Rachman, dan Bambang Seto dari Suara Merdeka.

Pada pukul 24.00 seluruh penumpang dipersilakan masuk pesawat, tapi Mentin, Tjayeng, dan Rachmad untuk sementara ditahan. Hal itu membuat seluruh kontingen Indonesia panik dan sedikit marah. ''Kami datang bersama-sama, pulang juga harus bersama-sama,'' kata mereka serentak yang mengejutkan penumpang lain.

Pemimpin perjalanan Singapura Air Line (bukan pilot) Wong Hin Wan masuk menemui Ketua Badan Olahraga Pembina Cacat (BPOC) Senny Marbun. Dia mengatakan, kasus bom sangat rawan di Singapura, apalagi diucapkan oleh orang Indonesia. Kasus ini sudah ditangani polisi setempat dan pihaknya tidak bisa berbuat apa-apa. ''Tiga orang itu untuk sementara ditahan. Mungkin baru besok pulang,'' katanya tanpa mau mendengarkan penjelasan Senny Marbun.

Ketegangan masih berlanjut ketika datang lagi seorang petugas kepala bagian penumpang menemui Senny. Kedatangannya langsung disambut Senny dengan meminta tiga orang yang ditahan bisa dibebaskan. ''Saya sebagai pimpinan BPOC siap menggantikannya ditahan. Setelah berunding, akhirnya Rachmad dan Tjayeng dibebaskan dengan status sebagai saksi. Mentin tetap tidak bisa pulang dan ditahan.

Rombongan tetap saja tidak mau mengerti. Bahkan, mereka serentak akan turun semua. Namun, keburu petugas dari Singapura Airlines mengatakan, ''Silakan kalau mau turun. Hanya, kalau ingin minta ganti pesawat besoknya (30/12), sudah tidak ada tempat.''

Bahkan, kata dia, tidur di bandara juga tidak diizinkan. Akhirnya kontingen Indonesia hanya minta jaminan agar Mentin Gunarso besok (30/12) bisa pulang ke Indonesia. Petugas pun menjamin, pelatih angkat berat asal Solo yang pernah membawa tim Jateng ke PON Surabaya akan naik pesawat pada pukul 08.00. (P44-64e)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA