logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 31 Desember 2003 Berita Utama  
Line

Alwi Bersaing di Wilayah Pekalongan

JAKARTA-Ketua Umum Dewan Tanfidziyah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Dr H Alwi Shihab menjadi caleg nomor urut satu di daerah pemilihan Jawa Tengah X yang meliputi Pekalongan, Kota Pekalongan, dan Pemalang. Alokasi kursi di daerah pemilihan Jateng X ini mencapai 7 kursi.

Keputusan menempatkan Alwi di nomor urut satu asal daerah pemilihan Jateng X ini, merupakan hasil rapat Majelis Penetapan (Mantap) DPP PKB yang memang menetapkan beberapa nama pengurus di nomor urut atas.

Sementara artis Rieke Dyah Pitaloka SS yang top dalam sinetron "Bajaj Bajuri" menjadi caleg nomor urut satu Jabar VI/Karawang dan Purwakarta. Sedangkan Sekjen DPP PKB, H Saifullah Yusuf (Gus Ipul), ditempatkan sebagai caleg nomor urut satu untuk DPR-RI dari daerah pemilihan Jatim II. Di daerah pemilihan yang meliputi Pasuruan, Kota Pasuruan, Probolinggo, dan Kota Probolinggo ini, jumlah kursi yang diperebutkan sebanyak 7 kursi.

Dari jajaran Dewan Syura, nama yang juga ditempatkan pada nomor urut satu, antara lain KH M Irfan Zidny, HZ Arifin Junaidi dan Drs KH Yusuf Muhammad Lc. Sementara dari jajaran Dewan Tanfidziyah lain yang juga berada di nomor urut satu, yakni mantan Menteri Pertahanan di zaman Presiden Gus Dur, Prof Dr H Moh Mahfud MD. Kemudian mantan Menteri Ristek Dr H Moh AS Hikam APU dan Wakil Ketua DPR Drs H Muhaimin Iskandar. Sedangkan dari jajaran pengurus departemen, nama yang menjadi caleg nomor urut satu untuk DPR-RI adalah A Effendy Choirie MAg MH.

Sementara itu, Bara Hasibuan akhirnya menerima pinangan PKB untuk dijadikan caleg. Dia mengaku kemungkinan akan ada orang yang menjegalnya sebagai caleg. Namun dia siap melawan. Bara saat ini didaftarkan DPP PKB ke KPU sebagai caleg dari daerah pemilihan Sumatera Utara III dengan nomor urut 1. Atas pencalonan ini, Bara menyadari dirinya telah melangkahi banyak kader senior PKB.

PPP

Sementara itu, nama-nama populer yang menempati nomor urut jadi dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang akan bertarung di daerah pemilihan Jawa Tengah, antara lain HA Muqowam dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah I, Arief Mudatsir Mandan, DP Jawa Tengah II.

Sedangkan KH A Toyffoer, MC menempati nomor urut jadi dari DP Jawa Tengah III, Hj Umi Hasanah DP Jawa Tengah IV, Hj Ermalena, DP Jawa Tengah V, Lukman Hakim Saifuddin Zuhri dari DP Jawa Tengah VI.

Daromi Irdjas menduduki nomor jadi dari DP Jawa Tengah VII dan Munawaroh Nurhadi menempati nomor urut satu dari daerah pemilihan Jawa Tengah VIII. Selanjutnya, Zainut Tauhid Sa'adi menduduki nomor satu dari DP Jawa Tengah IX dan Djuhad Mahja menjadi calon dengan nomor urut satu dari DP Jawa Tengah X.

PPP sendiri menyerahkan 628 nama caleg dari 32 provinsi, dengan 69 daerah pemilihan (DP). Dari jumlah 628 caleg tersebut, 250 orang di antaranya merupakan caleg perempuan.

Berkhianat

Sejumlah tokoh yang kini ''bermukim'' di Partai Golkar sebagai caleg dinilai telah berkhianat. Tindakan pengkhianatan itu dilakukan sejumlah mantan aktivis mahasiswa 1998 yang kini malah menjadi caleg dari Partai Golkar. Para tokoh itu, di antaranya aktivis PMII Nusron Wahid, aktivis Forkot Lutfi Iskandar, dan aktivis Famred Bernard Halomoa.

Padahal tindakan itu, jelas hanya untuk memiliki orientasi jabatan dan uang. "Bagi kami itu pengkhianatan terhadap gagasan-gagasan awal," kata aktivis Forum Kota (Forkot) Adian Napitupulu Selasa (30/12).

Terlebih lagi, lanjut Adian, kendaraan politik yang mereka pilih adalah Golkar. Menurut Adian, aktivis mahasiswa 1998 itu, telah sepakat Golkar adalah bagian dari persoalan bangsa Indonesia. "Bagaimana bisa menuntaskan persoalan, kalau kita menjadi bagian dari persoalan. Ini memang realitas politik, yakni suatu saat kita akan berbeda pilihan. Tapi bagi kami ini pengkhianatan," tegas Adian.

Kekecewaan juga dilontarkan oleh aktivis Front Aksi Mahasiswa untuk Demokrasi (Famred), Masinton. Menurut dia, hal ini menunjukkan mereka tidak konsisten terhadap arah perjuangan. "Lucu sekali. Dulu mereka berteriak bubarkan Golkar yang menjadi mesin politik Orba. Dulu mereka bertekat menebang, tapi kini justru mereka berlindung di dalam 'beringin'," tegasnya.

Masinton sangat tidak percaya kalau mereka yang menjadi caleg Partai Golkar berniat melakukan perubahan. Masinton menilai, tindakan itu hanya untuk mencari keuntungan materi semata. "Mereka tidak lagi memiliki ideologi perjuangan. Orientasi mereka hanya jabatan bukan membawa republik ini ke arah perubahan. Namun sebagai sebuah keputusan politik, hal itu memang sah-sah saja," tutur Masinton.

Baik Adian maupun Masinton percaya, tindakan segelintir orang tersebut tidak akan mempengaruhi gerakan mahasiswa. Keduanya mengatakan, mahasiswa akan tetap galak mengkritisi kebusukan Partai Golkar.

Tersendat-sendat

Sementara itu, meski sangat tersendat-sendat, bahkan berjalan sangat lambat sehingga sempat mengundang cemoohan, akhirnya ke-24 parpol peserta Pemilu 2004 mampu menyerahkan daftar caleg ke KPU Pusat sesuai jadwal. Pendaftaran itu mayoritas dilakukan hanya beberapa menit sebelum waktu pendaftaran berakhir pukul 24.00.

Partai Persatuan Pembangunan (PPP) menjadi parpol yang terakhir mendaftar, di mana mereka datang ke lantai 2 Gedung KPU Jl Imam Bonjol, kurang dari 5 menit, dari batas waktu akhir. PPP sendiri, menyerahkan 628 caleg dari 32 daerah pemilihan.

Sebelumnya, hingga pukul 22.40, baru 7 parpol yang mendaftar ke KPU yakni PDI-P, PKP Indonesia, Partai Perhimpunan Indonesia Baru, Partai Bintang Reformasi, Partai Golkar dan PNI Marhaenisme. Khusus PNI Marhaenisme, walau sudah mendaftar pada pukul 22.40, namun menjelang penutupan pendaftaran, PNI Marhaenisme kembali datang lagi ke KPU untuk menyerahkan daftar caleg tambahan.

Belakangan, khususnya 30 menit menjelang pukul 00.00, secara bergelombang parpol-parpol mulai berdatangan yang membuat tujuh tim pokja yang dibantu sejumlah anggota subpokja menerima penyerahan daftar caleg secara serempak. Parpol-parpol yang datang untuk menyerahkan daftar caleg pukul 23.00 hingga 23.30 tersebut adalah Partai Patriot Pancasila, Partai Persatuat Nahdlatul Ummat, Partai Demokrat.

Disusul Partai Bulan Bintang, Partai Sarikat Indonesia, Partai Nasionalis Banteng Kemerdekaan, dan PNI Marhaenisme. Seterusnya memasuki lima belas menit menjelang waktu akhir, Partai Merdeka, Partai Persatuan Daerah, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai Amanat Nasional.

Selanjutnya, di 10 menit terakhir, mendaftar Partai Keadilan Sejahtera, Partai Buruh Sosial Demokrat, Partai Karya Peduli Bangsa, Partai Pelopor, Partai Penegak Demokrasi Indonesia dan terakhir Partai Persatuan Pembangunan.

Pemantauan Suara Merdeka, saat penyerahan daftar caleg tersebut, sejumlah pimpinan parpol langsung hadir antara lain Ketua Umum PNI Marhaenisme Sukmawati Soekarno Putri, Ketua Umum Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) R Hartono, Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Alwi Shihab, dan Ketua Umum Partai Damai Sejahtera (PDS) Ruyandi Hutasoit. Sedangkan mayoritas parpol lainnya hanya diwakili sekjen atau wakil sekretaris jenderal.

Demo

Sebelumnya, tepat pukul 22.00 di saat anggota KPU masih menunggu parpol yang datang, melintas ratusan massa yang membawa obor dari kelompok yang menamakan diri Kesatuan Warga Ibukota Korban Penggusuran. Entah dengan alasan apa, ratusan warga yang memanjang hampir 500 meter itu sengaja melintas di depan Gedung KPU Pusat. Hanya saja, saat melintas di depan Gedung KPU, mereka sama sekali tidak melakukan tindakan anarkis, namun hanya bernyanyi-nyanyi sambil terus-meneruskan iring-iringan ke arah Jalan Teuku Umar. (bn-78,64)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA