
| Rabu, 31 Desember 2003 | Berita Utama |
Enam Bulan Nyawanya di Ujung SenapanTEWASNYA reporter senior RCTI Sory Ersa Siregar tetap menyisakan kedukaan. Padahal, bagi banyak orang, bahkan mungkin keluarganya, sejak ditawan oleh Gerakan Separatis Aceh/ Gerombolan Aceh Merdeka (GSA/ GAM) pada 29 Juni lalu, nyawa pria yang pada 4 Desember lalu merayakan ulang tahun ke-52 itu boleh dibilang sudah di ujung maut. Karena panasnya konflik di Aceh, setiap saat peluru bisa mengambil nyawanya, apakah itu berasal dari senapan milik GAM atau TNI. Begitulah maut. Tidak seorang pun dapat menduga kapan ajal datang menjemput. Ersa pun boleh jadi tak menyangka dia yang selama ini cukup dikenal--dan karena itu gampang berkomunikasi dengan pimpinan GSA atau GAM--belakangan justru dijadikan sandera oleh mereka. Berita penahanan Ersa bersama dua kru RCTI yang lain, yakni kamerawan Fery Santoro dan sopir Rachmadsyah, terjadi pada Minggu, 29 Juni 2003. Ketiganya dilaporkan kehilangan kontak saat meliput di Kuala Langsa, Aceh Timur. Mereka melakukan kontak terakhir dengan rekan-rekannya di RCTI dua hari sebelumnya. Kabar ini tentu mengejutkan istri Ersa, Tuty Komala Bintang, dan ketiga anaknya, Ridwan Ermalandara, Syawaludin Adesyahfitrah, dan Syarah Meiliani Fauziah. Mereka kaget, karena setahu mereka Ersa pergi ke kampung halamannya di Brastagi, Sumut, tetapi tiba-tiba muncul berita ketiganya ditawan GAM. Kabar ini pun akhirnya sampai ke ibu Ersa di Sipirok. Begitu shock, ibu Ersa, Nurmia boru Harahap (65), mendengar kabar tentang anaknya, sehingga dia jatuh sakit dan meninggal dunia empat hari kemudian. ''Ya, ibu mana yang nggak risau mendengar anak sulungnya disandera pemberontak,'' ujar saudara Ersa, Chaidir Machbuby Siregar. Tak lama setelah mendengar kabar buruk itu, Nurmia stres dan muntah-muntah. Namun, baru beberapa jam dibawa ke rumah sakit, wanita itu meninggal dunia. Sebenarnya keadaan Ersa jauh lebih baik dari yang diduga ibunya. Namun, tak urung berita kematian ibunya menjadi pikirannya selama di tahanan. ''Saya mendengar ibu meninggal. Itu kan jadi pikiran saya juga. Keluarga di rumah juga menjadi beban pikiran saya,'' katanya dalam wawancara dengan Radio Nederland. Berita tertangkapnya Ersa dan kawan-kawan juga mengundang tanggapan dari TNI. Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto pada 2 Juli meminta wartawan yang meliput konflik di Aceh selalu menempel kepada TNI agar pasukannya bisa mengamankan mereka. Sehari kemudian muncul pernyataan dari Panglima Operasi GAM wilayah Pereulak, Aceh, Ishak Dawood yang mengakui bahwa pasukannya telah menahan Ersa dan kawan-kawan, termasuk dua istri perwira TNI AU. Dia menyebutkan, mobil kru teve itu dihentikan kelompok GAM di kawasan Pereulak pada Minggu (29/7) petang. Kabar Pertama Setelah lima hari diberitakan menghilang, untuk kali pertama pada 4 Juli Ersa mengabarkan bahwa mereka dalam keadaan baik di markas GSA/ GAM wilayah Pereulak. Sehari kemudian, pasukan TNI yang berpatroli menemukan mobil Kijang BK-1753-GD yang dipakai Ersa dan kawan-kawan sekitar 8 kilometer dari jalan raya Medan-Banda Aceh di Kecamatan Langsa, Aceh Timur, yang dikenal sebagai basis GAM. Untuk menunjukkan bahwa kru RCTI itu diperlakukan secara baik-baik, pada 6 Juli 2003 GAM mengizinkan sejumlah wartawan menemui Ersa dan kawan-kawan di satu tempat yang dirahasiakan. Keadaan Ersa dan tawanan lain itu pun muncul di tayangan televisi dan koran-koran pada pagi harinya. Ishak Dawood mengatakan, dipertemukannya para wartawan dengan Ersa dan kawan-kawan itu untuk menunjukkan bahwa mereka memperlakukan tawanan dengan baik. Namun, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono tetap meminta GAM menjamin keselamatan kru RCTI dan memberikan ruang kepada mereka agar bisa pulang. TNI bahkan mengultimatum agar GAM membebaskan para sandera itu paling lambat 8 Juli 2003 pukul 18.00. Jika tidak, mereka akan diserbu. Namun, entah mengapa serangan tersebut urung dilancarkan. Untuk membebaskan Ersa dan kawan-kawan pada 14 Juli dibentuk perwira penghubung yang terdiri atas pihak RCTI dan Penguasa Darurat Militer Daerah dan Komando Operasi di Aceh dan Jakarta. Sepuluh hari setelah itu, 24 Juli, Ishak menyatakan akan melepas kru stasiun televisi swasta itu. Namun, mereka meminta syarat agar Palang Merah Internasional (ICRC) dilibatkan sebagai fasilitator untuk mencegah kontak senjata dengan TNI. Janji ini pun tidak dipenuhi. Pada 12 Agustus 2003, GAM menawarkan dua istri perwira TNI AU yang disekap bersama Ersa untuk ditukar dengan beberapa istri perwira GAM yang ditahan TNI. Namun, TNI menolak tawaran tersebut. Belakangan Ishak menjanjikan akan melepas seluruh tawanan sebelum 17 Agustus. Namun, lagi-lagi janji itu tidak dipenuhi. Karena harus terus mengikuti pasukan GAM yang kucing-kucingan dengan pasukan TNI keluar masuk hutan, pada akhir Agustus Ersa dikabarkan menderita sakit karena kelelahan. Kabarnya, pria kelahiran Brastagi, 4 Desember 1951 itu semakin kurus, dan jalannya pincang. Namun, pihak GAM mengaku sudah memanggil tim medis. Pada 17 September 2003 juru bicara GAM wilayah Pereulak Abu Mansur meminta pasukan TNI/Polri tidak melakukan operasi militer di kawasannya selama seminggu bagi pembebasan Ersa dan kawan-kawan. ''Kami minta agar TNI tidak bergerak di wilayah kami selama tujuh hari agar tidak terjadi kontak senjata jika waktu pembebasan Ersa sudah kami tentukan bersama PMI,'' kata Mansur waktu itu. Hal itu diperlukan untuk menyiapkan posisi yang terbaik bagi para tawanan agar pasukan GAM dan TNI/Polri tidak terlibat baku tembak, seperti pada pembebasan William Nessen, wartawan Amerika Serikat yang pernah terjebak di Aceh Utara. Namun, bagi TNI, waktu yang dibutuhkan tersebut cukup lama. ''Kepentingannya apa tujuh hari. Pembebasan itu hanya membutuhkan waktu satu jam jika mereka memang benar-benar berniat membebaskan Ersa dan teman-temannya. Mereka tinggal bilang di mana posisi Ersa dan kawan-kawan akan dibebaskan. Jika kita diberitahu, kita akan bertanggung jawab terhadap keamanan mereka. Termasuk keamanan PMI yang menjemputnya,'' ujar juru bicara Koops TNI Letkol CAJ Ahmad Yani Basuki. Penyelamatan Rachmadsyah Tak juga kunjung dibebaskan, pada 17 Desember 2003, dalam sebuah operasi, TNI berhasil menyelamatkan sopir Rachmadsyah setelah melakukan kontak senjata dengan pasukan GAM di Desa Pante Bayam Simpang Ulim, Aceh Timur, 85 km timur Kota Lhokseumawe. Kepada wartawan, Rachmadsyah yang menuturkan bahwa sejak tiga bulan lalu para tahanan ditempatkan secara terpisah mengaku sangat tegang pada saat terjadi kontak senjata yang akhirnya membebaskannya itu. Melihat pasukan GAM yang bersamanya dipukul mundur TNI, Rachmadsyah berteriak sekeras-kerasnya bahwa dirinya bukanlah anggota GAM. ''Pak, saya bukan GAM, tolong saya menyerah, saya menyerah, saya bukan GAM, saya sopir mobil wartawan RCTI Pak Ersa Serigar,'' ujarnya sambil mengangkat kedua tangannya kepada pasukan TNI yang siap membidikkan senapan mereka. ''Mengerikan. Ngeri sekali,'' kata Rachmadsyah pasrah, jika akhirnya TNI tidak memercayai ucapannya. Dengan diselamatkannya Rachmadsyah, tampaknya TNI punya harapan jalan untuk membebaskan sandera lain, termasuk Elsa, kian terbuka. Namun, siapa sangka akhirnya Elsa justru menjadi korban dalam kontak senjata antara pasukan TNI dari Batalyon 6 Marinir yang tengah berpatroli dan delapan personel GAM di Dusun Juala Manihan Sipang Ulin, Aceh Timur. (Fauzan Jayadi-13e) |