logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 31 Desember 2003 Berita Utama  
Line

Anak Ersa Imami Shalat Jenazah

  • KSAD: Terkena Peluru TNI
RIBUAN PELAYAT: Ribuan pelayat kemarin mengantar kepergian Ersa Siregar, dari rumah duka ke pemakaman. Wartawan RCTI tersebut meninggal dalam kontak senjata antara TNI dan GAM di Aceh. Ersa disandera GAM selama kurang lebih enam bulan. (43)

JAKARTA-Jenazah wartawan RCTI Ersa Sory Siregar dimakamkan kemarin sekitar pukul 15.45. Isak tangis istri, anak, kerabat dekat, dan rekan, terdengar ketika jenazah mulai diturunkan ke liang lahat di Taman Pemakaman Umum (TPU) Carang Pulang, Legok, Tangerang, Banten.

Sebelumnya jenazah dishalatkan di Masjid At Taqwa, tak jauh dari rumah almarhum, di Jl Tuntang 25, Perumnas II, Karawaci, Tangerang.

Shalat jenazah diimami anak sulung korban, Ridwan Ermalandra (20). Jenazah kemudian dilepas secara adat Tapanuli. Jenazah tiba di rumah duka dari Bandara Soekarno-Hatta sekitar pukul 13.15, diterima Dirut RCTI Hari Tanusudibyo.

Ridwan, dan dua adiknya, Syawaludin Adesyahfitrah (19), dan Syarah Meiliani Fauziah (17) itu juga menjemput jenazah ayahnya dari bandara.

Saat pemakaman, sepanjang perjalanan dari rumah duka, iring-iringan kendaraan pengantar jenazah menjadi perhatian ribuan penduduk. Panjang iring-iringan kendaraan pengantar mencapai lebih dari 1 km.

Peluru TNI

Secara terpisah, usai sertijab Pangdam IX/ Udayana, di Lapangan Puputan, Denpasar kemarin, KSAD Jenderal Ryamizard Ryacudu kemarin mengatakan peluru yang mengenai Ersa berasal dari prajurit TNI.

Dia meminta agar masyarakat internasional tidak ikut campur dalam kasus itu. "Kenanya dari prajurit TNI dong. Kenapa? Karena TNI kontak dengan GAM sekitar 20 menit. Lama itu."

Dia menjelaskan, saat kontak senjata dengan GAM, prajurit TNI tak bisa mengenali wartawan stasiun televisi swasta itu karena kondisi yang gelap. Kontak senjata terjadi di rawa-rawa dan hutan.

"Tidak kelihatan. Kedengaran cuma suara tembakan. Almarhum kan di situ dengan GAM. Peluru kan tak bisa melihat siapa-siapa. Itu yang pasti terjadi di lapangan. Jangan sampai diputar-putar, dibolak-balik atau adu domba."

Di rumah duka, sejak ada kabar korban tewas Senin malam lalu, pelayat sudah berdatangan. Jumlahnya meningkat mulai kemarin, terutama menjelang saat pemberangkatan jenazah.

Ratusan karangan bunga dari berbagai lapisan masyarakat seperti pejabat tinggi negara, menteri, petinggi TNI/ Polri, LSM, organisasi wartawan (IJTI, PWI, AJI, Forwaka), pengusaha, dan sebagainya terpasang memanjang hampir 500 meter.

Istri almarhum, Ny Tuti Komala Bintang terlihat tabah kendati tidak bisa menutupi kesedihannya.

Wartawan diperbolehkan mengambil foto wanita itu, namun atas permintaan pihak keluarga dan ia sendiri, diminta tidak melakukan wawancara.

''Maaf dia masih berduka, kami mohon jangan diwawancarai,'' kata Aziz Siregar, kerabat almarhum.

Menjelang kedatangan jenazah, terjadi kemacetan luar biasa di sekitar lokasi. Ini disebabkan ada pengalihan dan penutupan beberapa jalan di sekitar lokasi.

Ada pula gangguan akibat sebuah sedan nekat masuk jalan di rumah duka kendati sudah dilarang. Terlebih lagi sedan itu kemudian mogok. Akibatnya pengemudi dicaci-maki sejumlah orang.

Ridwan, anak sulung korban, menolak secara halus pertanyaan sejumlah wartawan yang menanyakan kesan-kesannya terhadap ayahnya. Adapun, si bungsu, mengatakan,'' Kontak terakhir, ayah hanya minta kita tetap rajin belajar,'' kata gadis berjilbab tersebut, yang masih duduk di bangku SMU.

Dalam rombongan penjemput jenazah, tampak Sesmenko Polkam Sudi Silalahi, mantan Pangdam Iskandar Muda Mayjen Djali Yusuf dan jubir Koops TNI Letkol Ahmad Yani Basuki.

Tim Independen

Terkait dengan tewasnya koordinator liputan RCTI itu, Komnas HAM menyerukan kepada pemerintah untuk membentuk tim independen guna menyelidiki kasus itu. Tim terdiri atas Komnas HAM, Komnas Perempuan, dan unsur wartawan.

Ketua Tim Ad Hoc Aceh Komnas HAM MM Billah mengusulkan bahwa penyelidikan tersebut dilakukan sejak Ersa disandera sampai akhirnya ditemukan tewas dalam kontak senjata antara TNI dan GAM.

Dalam jumpa pers di kantor Komnas HAM di Jakarta, Selasa (30/12) dikatakan pihaknya telah mengirim surat dan meminta Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto memberikan klarifikasi seputar tewasnya Ersa.

''Sebab jatuhnya korban warga sipil dalam konflik bersenjata harus dapat dihindari. Berdasarkan hukum humaniter warga sipil, termasuk wartawan, harus dilindungi.''

Pernyataan senada juga dikatakan oleh Pemimpin Redaksi RCTI Derek Manangka. Siregar. "Kami kira perlu dan tidak tertutup kemungkinan untuk membentuk tim untuk memperoleh kejelasan kronologis tewasnya Ersa,'' kata dia, saat menjemput jenazah di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang.

Adapun Kapolri Jenderal Polisi Da'i Bachtiar usai acara HUT Satpam di Lapangan Bhayangkara, Jakarta, kemarin mengakui kegagalan aparat dalam menyelamatkan Ersa. ''Kegagalan kita semua untuk bisa menyelamatkan dia, tentunya itu keprihatinan kita. Tapi itulah yang terjadi.''

Menurut dia, tewasnya Ersa merupakan suatu risiko wartawan dalam melaksanakan profesionalismenya. ''Saya yakin perjuangan dia tidak menyurutkan profesionalisme wartawan.''

Sementara itu, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) siang ini (Selasa, 30/12) pukul 12.00 di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, mengadakan aksi solidaritas atas tewasnya Ersa.

Aksi serupa yang digelar sejumlah wartawan juga berlangsung di Semarang, Solo, Bandung, dan Palembang. Di Semarang, sedikitnya 25 wartawan media cetak dan elektronik menggelar doa bersama di bundaran air muncrat Jl Pahlawan.Semarang.

Mereka menyatakan keprihatinan dan turut berduka cita. Aksi ditandai dengan meletakkan karangan bunga duka dan serta tabur bunga. Mereka juga mengusung poster di antaranya berbunyi ''Wartawan Bukan Sasaran Tembak''.

Beberapa wartawan mewakili media cetak, radio, dan televisi bergantian menggelar orasi.

Mereka menuntut agar kejadian itu tidak menimpa insan pers lainnya saat menjalankan tugas jurnalistik. Karangan bunga disampaikan kepada wartawan RCTI Masturi.

AJI lebih lanjut menyatakan terbunuhnya Ersa adalah antiklimaks yang tragis bagi profesi jurnalis yang meliput darurat militer di Aceh.

Mereka berpendapat terbunuhnya Ersa tak bisa dilepaskan dari tanggung jawab TNI dan GAM. wartawan itu menjadi sandera GAM sejak enam bulan lalu. Upaya pembebasannya telah dilakukan oleh berbagai pihak, tetapi selalu macet karena tak ada titik temu antara TNI dan GAM.

Sementara itu, Direktur Imparsial Munir mengatakan perlu dibentuk tim investigasi independen guna mengusut kasus penembakan terhadap reporter RCTI itu.

''Ersa adalah korban perang TNI dengan GAM. Siapa pun yang membunuh dia harus diusut tuntas. Untuk itu, perlu dibentuk tim investigasi independen dan pelakunya harus diberi hukuman dan sanksi,'' kata dia, dalam orasinya saat aksi solidaritas untuk Ersa di Bundaran Hotel Indonesia, kemarin.

Munir mengharapkan agar korban tidak bertambah. ''Warga sipil dalam Konvensi Jenewa harus dilindungi apalagi dia seorang jurnalis.''

Anggota DPR dari FUD asal Aceh, Hasballah M Saad, yang juga hadir dalam acara di Bundaran Hotel Indonesia juga mengatakan hal senada. ''Bisa jadi TNI sudah bekerja sesuai prosedur, tapi bisa juga salah. Karena itu perlu dibentuk tim pencari fakta untuk mengungkap kasus itu.''

Mabes TNI pun selain menyayangkan peristiwa tertembaknya Ersa, menyesalkan sikap GAM yang mengikutsertakan korban dalam pelarian. Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen TNI Sjafrie Syamsudin mengatakan hal itu kepada wartawan di rumah duka almarhum.

''Sebetulnya, kalau GAM konsisten, Ersa ditinggal di suatu tempat untuk dibebaskan. Tidak dibawa-bawa dan melarikan diri,'' ujar Sjafrie ketika ditanya apakah kasus tertembaknya reporter RCTI itu dijadikan tameng.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menjelaskan kenapa dua warga sipil tertembak mati, termasuk di antaranya Ersa. Menurutnya, peritistiwa kontak tembak memang terjadi di lokasi hutan yang gelap dan rawa-rawa yang dalam.

''Situasinya memang gelap dan hutan. Jadi tidak bisa saling melihat, jarak tembak sendiri diperkirakan sekitar 50 meter.''

Dalam situasi seperti itu terdengar tembakan dari berbagai arah, lalu dilakukan penyebaran. Pasukan TNI terpaksa melakukan pengejaran ke rawa-rawa. Namun, menurut dia, gerak pasukan terhambat karena rawa yang harus dilalui sampai sebatas leher.

''Karena rawa yang tinggi (sedalam-Red) seleher itu, gerakan pasukan terhambat dan memakan waktu juga mempengaruhi ketepatan, jadi tidak bisa dilihat yang mana GAM atau bukan.''

Pernyataannya itu, senada dengan KSAD Jenderal Ryamizard Ryacudu. (dtc,ant,bu,F4,G1,H1-78,13)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA