logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 31 Desember 2003 Berita Utama  
Line

Akbar: Tunjuk Saja Orangnya

  • Risau soal Antipolitikus Busuk

JAKARTA-Kalangan elite Partai Golkar meminta pihak yang akan mengumumkan daftar 499 politikus busuk atau hitam (tercela) segera memperjelas sikapnya. Jangan setengah-setengah, sebaiknya sebut kriterianya dan tunjuk orangnya.

Harapan itu disampaikan Ketua Umum DPP Partai Golkar Akbar Tandjung, Ketua DPP Golkar Korbid DKK Agung Laksono, dan anggota Bappilu Golkar Poltak Ruhut Sitompul di kantor DPP, di Jakarta, Selasa kemarin. Adapun Ketua Umum DPP PAN Amien Rais menyatakan mendukung gerakan antipolitikus busuk

Agung mengatakan caleg Partai Golkar tidak ada yang busuk, dan tidak ada yang termasuk politikus hitam. ''Semua caleg kami harum, tidak ada baunya. Juga tak ada yang termasuk politikus hitam. Kalau yang hitam manis, banyak.''

Akbar juga meminta mereka agar jangan asal ngomong. Kalau menyebut seseorang sebagai politikus busuk, harus ada ukuran dan tolok ukurnya.

''Apa sih ukurannya menyebut politikus itu busuk? Selama tidak ada kriterianya, ungkapan mereka itu masih sebatas pernyataan politik.''

Gerakan Nasional Jangan Pilih Politikus Busuk (JPPB) didekalarasikan di Tugu Proklamasi, Jakarta, Senin (29/12). Selain aktivis LSM, tampak pula Sartono Mukadis (psilolog), Hendardi, Sarwono Kusumaatmadja, Bambang Warih Koesoema, Franky Sahilatua, Harry Roesli, pengusaha Anton J Supit, mantan pebulutangkis nasional Rosiana Tendean, Bondan Gunawan, Ali Sadikin, Debra Yatim, dan sejarawan Anhar Gonggong.

Ketua panitia gerakan itu, Teten Masduki, saat pendeklarasian mengajak masyarakat untuk mewujudkan Pemilu 2004 yang demokratis, adil dan bebas korupsi. Selain itu, menjelaskan gerakan JPPB menyatakan untuk tidak memilih politikus busuk.

Menurut dia, yang bisa dikategorikan politikus busuk adalah penjarah harta rakyat, pelanggar HAM, pelaku kejahatan lingkungan, pelaku kejahatan seksual, dan serta pengguna narkoba.

''Politikus busuk adalah politikus yang bercokol di kursi kekuasaan dan menghalalkan segala cara untuk tetap berkuasa tanpa pernah peduli nasib rakyat.''

Faisal Basri menambahkan, setelah deklarasi itu, pertengahan Januari atau awal Februari mendatang pihaknya akan segera menyerahkan 499 daftar nama politikus hitam kepada KPU untuk selanjutnya dipublikasikan dan dinilai oleh masyarakat.

"Kami siap untuk mendapat tuntutan hukum dari pihak mana pun, setelah daftar politikus hitam ini dikeluarkan. Silakan menyomasi, kami siap."

Belum Tentu

Akbar lebih lanjut menjelaskan, belum tentu tokoh-tokoh yang ada di dalam gerakan itu lebih bersih atau lebih baik dari tokoh yang dianggap buruk atau busuk. "Kalau soal pernyataan, belum tentu yang menyatakan seperti itu lebih baik," katanya.

Dia menilai, gerakan semacam itu hanya akan menghabiskan energi dan waktu karena berusaha untuk mengungkit-ungkit masa lalu yang tidak perlu. "Sebaiknya kita mulai menatap ke depan. Kalau terus-menerus mengurusi soal-soal seperti itu, tidak selesai-selesai menuntaskan persoalan bangsa."

Karena itu, cara-cara seperti itu sebaiknya ditinggalkan karena memang tidak efektif dan hanya akan menambah beban persoalan bangsa. "Sebaiknya mulailah menatap ke depan. Tidak akan selesai-selesai mengurusi persoalan seperti itu."

Dia mencontohkan Vietnam, Kamboja, dan Malaysia telah begitu maju jauh meninggalkan Indonesia karena seluruh komponen bangsa lebih banyak menatap ke depan ketimbang mengurusi persoalan-persoalan yang kurang penting.

Yang terpenting, kata dia, dalam pemilu nanti semua tergantung rakyat. "Biar rakyat yang memilih mana sebenarnya yang dianggap baik. Kalau mereka (deklarator antipolitikus busuk-Red) mengatakan busuk tetapi rakyat menyatakan tidak busuk, mau apa?."

Karena itu, persoalan pilihan dalam Pemilu 2004 sebaiknya diserahkan sepenuhnya kepada rakyat. Bila rakyat tidak menyukai atau menganggap calegnya tidak baik rakyat tentu tidak akan memilih partainya.

''Jadi, kalau rakyat bilang tidak, dan memilih mereka jadi anggota DPR, mau apa? Kan dalam politik itu suara rakyat sama dengan suara Tuhan.''

Menurut dia, masih banyak masalah yang lebih penting dari hal itu yang seharusnya mereka urus, yakni semakin banyak rakyat yang kini jadi pengemis. ''Kami sudah keliling daerah, naik dan turun gunung, kenapa disebut politikus busuk? Ukurannya apa? Kan lebih baik bila mereka ikut mengurus pengemis. Dulu kami ke Riau tidak ada pengemis, tapi kini banyak.''

Poltak Ruhut Sitompul berpendapat pihak yang bicara soal politikus busuk dan politikus hitam itu bukan malaikat, yang belum tentu bersih. ''Para caleg Golkar nggak ada yang busuk. Ibarat buah mereka matang pohon. Harum semua.''

Bagaimana sikap Amien Rais? Di Sragen kemarin, pada acara halalbihalal yang digelar DPC PAN Kecamatan Kedawung, ia yang juga Ketua MPR menyatakan mendukung pendeklarasian Gerakan Nasional TPPB oleh sejumlah LSM, ormas, politikus, artis, dan sejumlah kalangan di Jakarta, Senin (29/12).

''Saya sangat setuju dan mendukung, sebab yang mereka lakukan itu baik.''

Dia yang tidak lagi dicalonkan sebagai anggota legislatif pada pemilu mendatang mengingatkan, rusaknya bangsa Indonesia selama era reformasi yang lebih kurang lima tahun ini, antara lain disebabkan oleh pemerintahan yang dipegang oleh orang-orang yang tidak tahu menahu arti reformasi.

''Mereka berada di dalam pemerintahan, sedangkan yang paham reformasi justru di luar,'' kata dia yang mengaku mengasingkan diri selama tiga hari di sebuah tempat tersembunyi di Jakarta, sebelum mengatur bakal calon anggota DPR RI.

Di Solo, kedatangan Amien dalam acara halalbihalal DPD PAN Kota Surakarta sore harinya disambut aksi demo kader partainya. Mereka merasa tidak puas atas penyusunan daftar caleg dari KPPD PAN. Mereka meminta penilaian semua daftar bakal caleg itu diserahkan kepada DPRt masing-masing.(ant,G8,G19,nas-13)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA