
| Rabu, 31 Desember 2003 | Semarang & Sekitarnya |
Komplotan Copet DitangkapSEMARANG- Komplotan pencopet yang beraksi dengan cara pura-pura muntah di angkutan umum diringkus aparat Poltabes Semarang, kemarin. Polisi juga mengamankan uang Rp 30.000 sebagai barang bukti. Komplotan itu terdiri atas Wijanarko (18) alias Ayen warga Plosokulon, Ngluwar, Magelang, Roji Gunawan (22) warga Kota Ageng RT 1 RW 2, Lampung, dan Yuda Prastama (25) warga Kampung Glindingan RT 2 RW 3, Cirebon. Mereka menjalankan aksinya dengan cara berpura-pura muntah di dalam angkutan umum. Ketika korbannya lengah, mereka mencopet barang-barang berharga yang bisa diambil. Kebanyakan korbanya baru sadar barangnya hilang setelah mereka turun dari angkutan atau ketika pelaku turun lebih dulu. Masing memiliki tugas sendiri. Wijanarko berpura-pura muntah, Roji Gunawan yang menjual Hp sekaligus bendaharanya, dan Yuda yang berperan mencopet barang milik korban. Penangkapan ketiganya berawal ketika Tika (19), mahasiswi sebuah PTS di Semarang, yang kos di Jl Bulustalan naik angkot di Jalan Pandaran. Tiba-tiba satu dari tiga tersangka itu pura-pura muntah di sampingnya. Tidak terasa Hp miliknya hilang ketika turun dari angkot. Korban kemudian melaporkan kasus itu ke aparat Satlantas di ujung Jl Thamrin. Bersama polisi korban mencari angkot yang baru saja ditumpanginya. Begitu ditemukan, dia melihat tersangka Wijanarko masih berada di dalam angkot, sedangkan dua pelaku lainnya sudah kabur. Wijanarko kemudian diamankan di Mapolsekta Semarang Tengah. Dua tersangka lainnya akhirnya bisa ditangkap.
Roji mengaku, bersama dua temanya sudah mencopet di angkutan umum sejak tiga bulan lalu. Selama menjalankan aksinya, mereka tidak pernah gagal. Bila mendapatkan Hp, dia menjualnya kepada salah serang temannya yang kos di kawasan Karanganyar Tugu, Tambakaji. ''Kalau Hp bagus saya jual Rp 400.000. Hasil jualan Hp curian itu saya bagi bertiga,'' katanya. Wijanarko mengaku bertugas pura-pura muntah. Saat korban lengah, Yuda yang bertugas menggasak barang milik korban. Dia mengaku melakukan perbuatan itu karena mengganggur. ''Saya ikut kakak di Karanganyar Tambak Aji, selama ini saya menganggur. Uang itu untuk makan sehari-hari,'' katanya. (G5,G3-83) |