logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 31 Desember 2003 Jawa Tengah - Kedu & DIY  
Line

Daya Tarik Lokal untuk Pikat Wisatawan

BOROBUDUR- Gubernur Jateng H Mardiyanto mengemukakan, pariwisata tidak mengenal wilayah administrasi dan bukan milik pemerintah melainkan semua pihak yang peduli dengan bidang tersebut.

''Pengembangan pariwisata Ketep Pass perlu ditingkatkan dengan penyebaran informasi sarana pendukung, seperti air, jalan, dan papan nama,'' kata Gubernur di Ruang Gandok Seni, Hotel Pondok Tingal, Kabupaten Magelang, Senin (29/12) sore. Dia melukiskan, Sungai Mahakam di Kalimantan secara sepintas terlihat kotor. Namun, warga setempat yang mandi di kali itu berkulit kuning. Hal tersebut, lanjut dia, bisa dijadikan sebagai potensi untuk menarik wisatawan.

Untuk pengembangan Ketep Pass, Mardiyanto menekankan agar hal-hal menarik di sana dijadikan potensi untuk memikat wisatawan agar berkunjung ke objek wisata yang terletak di antara Gunung Merbabu dan Gunung Merapi tersebut. Ketua Forum Pengembangan Ekonomi dan Sumber Daya Jateng Prof Dr Miyasto menilai, manajemen pengelolaan objek wisata itu dirasa belum optimal setelah Ketep Pass beroperasi.

''Ketep Pass kurang didukung objek-objek wisata lain yang saling melengkapi,'' ujarnya dalam sarasehan tentang pengelolaan Ketep Pass secara profesional dan pengembangan objek-objek wisata di sekitarnya.

Aset

Dra Rara Sugiarti dari Lemlit Puspari UNS menyebutkan, berbagai sumber daya alam dan budaya di wilayah Cepogo, Selo, Sawangan, Dukun, Mungkid, dan Muntilan merupakan aset yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai objek dan daya tarik wisata pendukung Ketep Pass. Objek wisata tersebut harus dikembangkan berdasarkan konsep pengembangan yang jelas dan terarah agar komponen-komponennya dapat disinergikan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, melestarikan SDA, budaya, dan mengembangan perekonomian wilayah.

Sementara itu Satya Hermawan, aktivis lingkungan hidup dan pariwisata dari Yayasan Patrapala, menilai, Pemprov Jateng belum memiliki rencana pengembangan pariwisata yang terarah dan utuh serta berbasis multikomponen.

''Bila pengembangan pariwisata dilakukan terburu-buru, maka akan menimbulkan dampak negatif yang sulit diperbaiki dan dalam jangka panjang sangat merugikan,'' ungkapnya. Koordinator Yayayasan Ekowisata Halimun, Teguh Hartono, mengungkapkan pengalamannya mengelola Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH) sebagai pembanding pengembangan ekowisata Ketep Pass.

Dia menjelaskan, model pengembangan ekowisata berbasis masyarakat lokal di sekitar TNGH dikembangkan secara tulus melalui proses dari bawah. Masyarakat berperan aktif sejak proses penentuan gagasan, perencanaan kegiatan, anggaran biaya, pembangunan fisik, pelatihan, pengelolaan usaha, pembagian hasil usaha, dan pemilikan aset-aset produksi. (pr-81j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA