logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 31 Desember 2003 Jawa Tengah - Pantura  
Line

Makin Banyak Sawerannya, Makin Banyak Suaranya

SUHU politik di Kota Tegal dan Kabupaten Tegal kini makin hangat. Maklum, dalam waktu dekat kedua daerah tersebut akan menggelar hajat besar. Yakni pemilihan wali kota/wakil wali kota dan pemilihan bupati/wakil bupati. Kabupaten Tegal akan menggelar hajat besar itu pada 10 Januari 2004, disusul Kota Tegal yang mengagendakan pada 19 Januari 2004.

Sebuah proses kelumrahan dalam setiap pemilihan adalah bagaimana membuat suasana saling menyadari, bahwa mengko sing dadi mung siji (nantinya yang jadi wali kota/bupati hanya satu). Bahasa cinta akan terdengar indah meski dinyanyikan di suasana hiruk pikuk.

Menurut Pengamat Budaya Drs Atmo Tan Sidik, perang urat syaraf antarcalon di kedua daerah kini makin menunjukkan intensitas tinggi. Sebagai daerah yang keduanya bersimbol kultural banteng loreng binoncengan bocah cilik, warga kedua daerah masih memiliki potensi budaya kearifan lokal. Sekiranya semua pihak menyadari filosofi simbol itu, niscaya gejolak pilwali dan pilbup tak ada artinya.

Setiap individu calon tentu mempunyai pendukung. Para pecut ini terkadang ada yang bersikap tak dewasa dalam menjual calonnya, sehingga dikhawatirkan memperkeruh suasana.

Serangkaian pemikiran yang ingin menggelar debat publik, lesehan bersama calon dengan seniman, wartawan, dan komunitas lain, belakangan ini banyak dikehendaki. Tujuannya hanya satu, bagaimana membuat Tegal terus bersuasana kondusif. Silakan pilwali/pilbup berlanjut, yang penting sing menang ora usah umuk, sing kalah ora usah ngamuk (yang menang tidak usah sombong, yang kalah tak usah ngamuk-Red).

Bersilaturahmi

Atmo menggambarkan, suasananya sangat indah ketika sejumlah calon belum lama ini bersilaturahmi di sebuah rumah makan di Kota Tegal. Di situ mereka ber haha-hihi. Tentu akan lebih indah jika diselenggarakan lebih melebar dengan melibatkan berbagai komponen lain.

''Sebab suasana cemas lebih diembuskan para bagongnya (tim sukses),'' ujar pengamat politik yang juga mantan Kades Pakijangan Kabupaten Brebes itu.

Atmo yang juga pengamat budaya yang kini tinggal di Jl Cereme 49 Kelurahan Mangkukusuman, Kota Tegal tersebut merasa gembira. Sebab, untuk menyambung tali paseduluran, seniman dan budayawan Kota Tegal pada 28 Desember 2004 nanti akan menggelar pertunjukan musik dan wayang. Para cawali/cawawali dan cabup/cawabup diundang pada pertunjukan itu. Mereka akan diajak untuk bersilaturahmi. Sebab dengan perantaraan salaman, hati akan tenang sehingga ketegangan mencair.

Menurutnya, kebeningan politik perlu diiringi musik dan ditebari untaian sajak. Dia yakin, kalau calon memutar lagu nostalgia milik Ahmad Albar berjudul ''Dunia Ini Panggung Sandiwara'' maka suasana tegang menjadi percuma.

Atau mereka tetap bermesraria meski ditingkahi dengan syair lagu ''mabuk lagi...ah, judi lagi...ah''. Atau lagu Goyang Dombret potongan syairnya diplesetkan menjadi ''makin banyak sawerannya, makin banyak suaranya.''(Nuryanto Aji-80s)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA