logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 31 Desember 2003 Jawa Tengah - Pantura  
Line

12 Desa di Siwalan Dikepung Air

  • Aktivitas Warga Terhenti

KAJEN- Meski hujan berhenti mengguyur, 12 desa di Kecamatan Siwalan, Kabupaten Pekalongan, hingga kemarin masih dikepung air. Sedikitnya 1.567 rumah, 543 ha sawah, 16 sekolah, dan 6,25 km jalan desa masih terendam air.

Ke-12 desa yang masih terendam air adalah Blacanan, Tengeng Kulon, Tengeng Wetan, Wonosari, Mejasem, Pait, Rembun, Yosorejo, Depok, Tanjungsari, Blimbingwuluh, dan Siwalan. Catatan dari Pos Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana (Satlak PB) Kecamatan Siwalan menyebutkan, ketinggian air 40-100 cm atau menyusut rata-rata 10 cm dari hari sebelumnya.

Banjir yang melanda Kecamatan Siwalan tersebut mengakibatkan kemandekan beberapa aktivitas masyarakat. Seperti yang dialami 144 keluarga di Dusun Babadan Tugurejo, Desa Pait yang sudah dikepung air tiga hari. ''Ketika desa lain belum banjir, kami sudah kebanjiran duluan. Ketika desa lain sudah surut, kami tetap saja kebanjiran. Karena itu, aktivitas warga seperti bekerja, bersekolah atau yang lain otomatis terhenti,'' ujar S Ratman, warga yang juga Ketua Badan Perwakilan Desa (BPD) Pait.

Hingga kemarin, ungkap dia, belum ada satu pun petugas baik dari Kecamatan Siwalan maupun Kabupaten Pekalongan yang meninjau ke desa tersebut. Dia berharap, pemerintah segera meninjau dan memperhatikan warganya. Jangan sampai seperti tahun lalu, banjirnya parah tapi bantuannya nyasar ke desa lain. ''Air di dusun kami tak bisa keluar sehingga banjirnya paling lama. Kami minta pemerintah segera meninjau dan memikirkan bagaimana membuang air,'' tandasnya.

Sementara itu di Desa Blacanan yang merupakan salah satu lokasi yang parah, SDN 2 Blacanan terpaksa libur total karena air yang merendam sekolah itu relatif tinggi dan deras.

Camat Siwalan Drs Subiyanto ketika ditemui membenarkan musibah yang dialami warganya. Seperti tahun lalu, banjir yang menimpa daerahnya disebabkan oleh pendangkalan dan penyempitan sungai serta saluran air.

Bergeser

Meski lokasinya hampir sama, ada pergeseran area banjir. Bila tahun lalu desa-desa di timur yang parah, maka tahun ini desa di barat lebih parah lagi. Hal itu, jelas Subiyanto, karena beberapa sungai di Sragi yang melalui desa-desa wilayah Kecamatan Siwalan bagian timur sudah dinormalisasi.

Di wilayahnya, proyek tersebut baru mulai tahun depan, sehingga diharapkan tak ada lagi banjir pada tahun mendatang. ''Setiap musim hujan di sini selalu banjir dan kami akan berusaha menanganinya. Tahun depan beberapa proyek normalisasi akan segera dimulai,'' ujarnya.

Soal penyempitan saluran air di beberapa tempat baik karena pendangkalan maupun pembangunan pabrik, Subiyanto tak bisa menjawab detail sebab hal itu sudah menyangkut soal teknis.

Hingga berita ini diturunkan, ketinggian air di beberapa sungai besar di Siwalan masih rata dengan permukaan. Meski terlihat cerah, kiriman air dari daerah atas bisa terjadi sewaktu-waktu, sebab beberapa daerah khususnya di Pekalongan bagian selatan masih terlihat awan mendung yang menggumpal.(G16-74j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA