logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 31 Desember 2003 Budaya  
Line

Sejumlah Sinetron Dinilai Merusak Budaya Betawi

JAKARTA-Sutradara senior yang juga tokoh Betawi, H Ali Shahab, menyayangkan munculnya sejumlah sinetron komedi dengan setting budaya Betawi yang belakangan ini banyak ditayangkan di stasiun televisi swasta. Sebab, cerita dalam sinetron-sinetron tersebut jauh dari realita kultur Betawi.

Tayangan-tayangan tersebut, katanya, memberikan stigma bahwa masyarakat Betawi terbelakang. Yang muncul ke permukaan adalah hal-hal negatif, yang sebenarnya bukan representasi dari masyarakat Betawi yang sesungguhnya.

Ali Shahab menilai, model sinetron produksi PT Tripar Multivison Plus milik Raam Punjabi, secara subtansial juga telah ikut merusak kebudayaan Betawi. Menurutnya, hampir rata-rata sinetron ber-setting etnis Betawi -yang kini ditayangkan di stasiun teve swasta- jauh dari kenyataan masyarakat Betawi yang ramah dan islami.

"Beberapa sinetron produksi Raam Punjabi, jelas-jelas tidak sesuai dengan realitas orang Betawi. Hal itu sangat merusak citra masyarakat Betawi," kata H Ali Shahab, saat ditemui Suara Merdeka di acara pemberian penghargaan kepada budayawan Betawi, H SM Ardan, di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, baru-baru ini.

Sebagai gambaran, President Director PT Centra Vocus Audio Visual itu menyebut sejumlah sinetron yang menggambarkan kehidupan masyarakat Betawi secara tidak proporsional. Di antaranya sinetron Norak Tapi Beken, Kecil-Kecil Jadi Manten, Ganteng Ganteng Kok Monyet, dan beberapa sinetron lainnya.

"Tidak pernah ada orang Betawi, apalagi anak perempuan yang sampai digunduli, berperilaku seperti di sinetron Kecil Kecil Jadi Menten. Anak-anak Betawi, umumnya sangat terdidik secara islami. Tapi, di sinetron itu seolah-olah orang Betawi sangat primitif, tidak berbudaya," ungkapnya senada prihatin.

Perilaku anak-anak muda Betawi yang tercermin di sinetron tersebut, kata Sutradara Komedi Terbaik dalam Festival Sinetron Indonesia (FSI) 1996 itu, telah memprihatinkan kalangan masyarakat dan budayawan Betawi. Sebab, penempatan karakter orang Betawi sama-sekali tidak masuk akal.

"Bagaimana mungkin, istri berani menantang dan membentak-bentak suaminya. Juga digambarkan dalam sinetron, anak perempuan Betawi hamil dulu baru menikah. Ada juga sosok laki-laki orang Betawi yang doyan kawin. Itu jelas sangat memberikan stigma yang buruk," ujarnya.

Tabiat orang Betawi sangat sederhana dan terbuka. "Jadi, ketika di dalam sinetron digambarkan orang-orang Betawi berperilaku kasar, tidak berbudaya dan anti pendatang atau tamu, jelas penggambaran itu tidak relevan," kata sutradara serial legendaris Rumah Masa Depan yang pernah ditayangkan TVRI itu.

Ali Shahab tampaknya serius akan melakukan class action melalui institusi Lembaga Kebudayaan Betawi. Warga Betawi, katanya, sekarang berjumlah sekitar empat juta orang. Melalui lembaga itu, mereka akan bertemu dan mengajak bicara dengan para pengelola stasiun televisi. "Televisi punya andil besar atas rusaknnya citra masyarakat Betawi. Padahal, ada upaya-upaya masyarakat seniman Betawi yang mencoba meng-counter jenis sinetron seperti itu, tapi selalu mandek. (tn-41)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA