
| Rabu, 31 Desember 2003 | Budaya |
Pernik2004Oleh: Yant Mujiyanto KITA masuki 2004, dan meninggalkan 2003. Lalu apakah yang akan kita lakukan? Berpesta-pora menyambut pergantian tahun dengan tiupan trompet tet tet tet tettt, musik ingar-bingar, ataun makan-minum yang lezat-segar? Silakan, Sayang, asal cukup punya dana untuk itu dan tidak berlebihan. Jangan lupa bersyukur ke hadirat Allah yang Mahakasih Mahasayang. Mensyukuri rahmat-karunia-Nya, bahwa kita masih dilimpahi-Nya anugerah untuk menikmati hidup di dunia hingga detik ini. Bersyukur itu penting. Itulah sikap profetik yang mengendalikan manusia agar tidak kebablasan. Tidak lalai dan hanyut di arus deras ke samudra nikmat dunia penuh gebyar yang menenggelarnkan, yang sejatinya hanya fana, semu dan menipu. Bersyukur seraya berzikir itu, artinya kita selalu ingat dan waspada (eling lan waspada), berpegang teguh pada MQ (manajemen qolbu) yang prima. Dengan MQ, inner beauty dan akhlak elok, akan kita jelang kebahagiaan melebihi mereka yang terbuai gemuruh ombak tuak kemabukan pesta-pora duniawi. Dalam bertahun baru, marilah kita berkontemplasi merenungkan arti perjalanan yang pernah kita tempuh. Kita baca kembali perjalanan penuh liku-deru dan batu sandung, deru campur debu serta kerikil tajam bercuatan di hari-hari bersaput mendung. Marilah kita jadikan semua itu sebagai hikmah dan ibrah (pengajaran) untuk lebih mendewasakan langkah-langkah kita di masa depan. Berbahagialah mereka yang arif membaca sejarah diri sendiri, Sayang! Membaca dan belajar untuk insyaf, untuk bertaubat sebenar-benar taubat, untuk tidak bakal mengulang membubuhkan flek-flek noda di hati. Sangatlah sayang, sekiranya dulu pernah berani-beraninya kita rnenikamkan pisau-pisau dosa dan khianat di tubuh sesama, menjadi insan yang kehilangan cinta dan setia, kasih-sayang dan kelembutan.
***
KALENDER 2004 telah kita pasang, penanggalan 2003 kita turunkan. Artinya, harus ada reformasi dan renaisans, pembaruan dan pencerahan, meninggalkan yang gelap-gelap dan remang-remang, menuju cahaya terang-benderang. Itulah, obsesi elok menyambut pergantian tahun, dekade, abad, milenium. maka terjemahannya adalah, kita perjuangkan esok harus lebih baik daripada kemarin dan hari ini. Di perjalanan mendatang, kita luruskan langkah meniti jalan cahaya-cahaya. Istigomah (konsekuen)-lah memegang teguh amanat hati nurani, untuk tak hentinya berwasiat tentang kebenaran dan keadilan (menegakkan HAM) dengan penuh kesabaran, dengan menunaikan kebenaran dan sikap demokratis egaliter. itu semua harus kita mulai dari diri sendiri. Jangan menyuruh-nyuruh, kalau kita sendiri cuma jadi petualang yang mengembara dari lembah ke lembah, yang tidak mengerjakan sendiri apa yang kita katakan. Tidak usah bernyiyir-nyinyir, kalem saja, tapi memberikan keteladanan. Khusyuk tawaduk, baik hati, entengan, pandai memanusiawikan, serta menghargai sesama dan karya-karya mereka. Iman yang mendarah daging, menulang sumsurn, dan amal saleh yang ngrernbaka (subur merimbun), biarlah menjadi ruh yang menghidupkan tubuh, memberi makna pada hidup dan kehidupan ini. Penuh rasa syukur tanpa keluh kesah, cahayailah hidup dengan imtak (iman dan takwa) sebagai dian nan tak kunjung padam, agar hidup kita tak terjeblos ke gua-gua gelap gulita. Memasuki 2004, sangat seyogyanya kita sadari peran kita sebagai pemimpin, sebagai khalifah (wakil Tuhan) di muka bumi, yang membawa misi menanamkan dan menyebarluaskan cinta kasih, cinta damai di jagad raya, serta menjadi rahmat bagi semesta alam. Untuk itu, kita harus mengisi atom-atom waktu yang sangat berharga dengan hal-hal bermakna, seraya meninggalkan hal-hal yang remeh-temeh dan sia-sia. Kapan dan di mana saja, marilah kita menata dan menatar diri, tekun mencari yang tersembunyi, gigih menggali yang terpendam. Pantang membubuhkan titik noda dan menempuh dosa; maka jangan ada dusta dan khianat di antara kita. Dengan mengimani dan mencintasayangi Allah dengan cinta dan iman yang tak lekang oleh panas tak lapuk oleh hujan, mari kita obsesikan dan wujudkan diri kita sebagai insan kamil yang humanistis religius. Insya Allah.(41)
Yant Mujianto, dosen PBS FKIP Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta. |