logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 31 Desember 2003 Budaya  
Line

Malioboro Kembali Jadi Sumber Inspirasi

UNTUK -menyambut tahun baru 2004, sejumlah seniman Yogyakarta Selasa kemarin menggelar demonstrasi lukis di sepanjang Malioboro. Kegiatan yang dikemas dalam "Malioboro Fair 2003" tersebut, mulai terasa grengsengnya Selasa (30/12) kemarin. Ratusan pelajar dan mahasiswa turut menyaksikan kegiatan tersebut, sembari jalan-jalan di ruas jalan jantung kota itu.

Kegiatan itu diawali dengan demonstrasi lukis, yang diikuti seniman-seniman ternama seperti Joko Pekik, Indro Suseno, Mahyar, dan Nasirun. Selain demonstrasi lukis, di depan Malioboro Mall juga digelar pameran foto bertema "Jogya Tempo Doeloe". Sementara itu di Benteng Vredebrug juga digelar "Beber Seni", yang menyajikan pameran kerajinan dan bursa seni lukis.

Puncak kegiatan, akan digelar pada Rabu ( 31/12) malam nanti. Sehubungan kegiatan itu, jalan protokol di jantung kota selama semalam suntuk ditutup untuk arus lalulintas umum. Sebab, disepanjang jalan itu akan digelar berbagai kegiatan kesenian; mulai dari band, orkes melayu, campursari, sampai kesenian tradisional.

Dari pengamatan Suara Merdeka, ada lima panggung berukuran raksasa yang digunakan untuk menggelar event tersebut. Pertama, berupa mobil stage yang ditempatkan di depan Natour Garuda. Kedua, di depan Gedung DPRD DIY. Panggung ketiga di depan Pemda Pemprov DIY, keempat di pertigaan Ngejaman atau selatan Pasar Beringharjo; dan panggung kelima berada di Alun-alun Utara.

Demonstrasi lukis, diikuti oleh sekitar 65 pelukis. Yang menggembirakan pihak panitia, dalam hal itu Knyut Y Kubro selaku entertainment design "Malioboro Fair 2003", adalah hadirnya para pelukis senior seperti Joko Pekik, Mahyar, Godod, Indro Suseno, dan Nasirun.

Keikutsertaan para pelukis senior itu, dirasakan membawa arti tersendiri bagi panitia maupun warga Yogyakarta. Terbukti, demonstrasi yang mereka lakukan di sepanjang Malioboro mendapat sambutan antusias dari warga Yogyakarta dan sekitarnya; bahkan sempat menarik wisatawan mancanegara yang kebetulan singgah di Kota Budaya itu.

Pameran Foto

Sementara para perupa asyik dengan imajinasinya, di Malioboro Mall digelar pameran foto "Jogya Tempo Doeloe". Foto-foto yang dipamerkan berupa wajah Malioboro di zaman kolonial sampai saat ini, juga foto dengan sentuhan kemanusiaan yang menampilkan potret pedagang kakilima, mulai dari zaman dulu hingga sekarang.

Atraksi yang disuguhkan itu, adalah bagian dari upaya mengembalikan semangat berkesenian di Malioboro, sekaligus untuk menunjukkan masih ada ruang yang dapat dimanfaatkan oleh para perupa untuk berdialog dan berdiskusi, berkarya serta berekspresi.

Pada era 1970-an, Malioboro sering menjadi sumber inspirasi para seniman. Terbukti, roh berkesenian Malioboro mampu melahirkan seniman-seniman ternama di negeri ini; antara lain WS Rendra, Teguh Karya, Ebit G Ade, Koesno Sujarwadi, Awang Darmawan, budayawan Umar Kayam, dan Emha Ainun Nadjib. (Sugiarto-41)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA