logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 23 Desember 2003 Semarang & Sekitarnya  
Line

Melihat Gereja-gereja Tua di Semarang (3-Habis)

Patung Tahun 1880 Masih Berdiri Megah

GEREJA Santo Yusuf (Gedangan) di Jalan Ronggowarsito merupakan cikal bakal gereja Katolik di Indonesia. Sebelumnya, sekitar tahun 1808, Gubernur Jenderal Deandels yang saat itu menjadi penguasa di Hindia Belanda (Indonesia) mendapat dua orang imam praja dari Belanda untuk melayani umat Katolik bangsa Eropa di Indonesia.

Salah seorang di antaranya, Pastur L Prinsen Pr yang ditempatkan di Semarang. Ketika itu, umat Katolik belum memiliki tempat ibadah sendiri dan melakukan ibadah di Gereja Protestan Indonesia di bagian Barat (GPIB) atau Gereja Blenduk di dekat Taman Srigunting (Kota Lama).

Gereja Katolik memiliki tempat ibadah sendiri tahun 1815, yakni Paroki Santo Yusup Semarang (Gereja Gedangan). Wilayah paroki meliputi Jateng, Jatim, dam Jabar.

Namun, perjalanan Gereja Katolik sempat mengalami hambatan. Selama 1845-1847 semua pastor Belanda di Indonesia diusir termasuk Uskup Groff, oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu, Rochussen. Berkat perundingan dengan takhta suci (Vatikan) pada 1848, campur tangan Pemerintah Belanda diperlunak dan Gereja Katolik di Indonesia bisa terus berkembang.

Setelah melalui perjuangan panjang, pada 1875 akhirnya Pastor J Lijnen Pr mendirikan gedung Gereja Santo Yusuf Gedangan yang indah dan anggun hingga saat ini. Dari gereja inilah para imam Yesuit mencari jalan untuk mendobrak dinding pemisah yang mengotakkan antara masyarakat Eropa dan pribumi.

Gereja Gedangan kini masih tampak sangat artistik dan anggun dengan warna gedung didominasi oleh warna bata merah alami. Menurut pengurus gereja, bentuk gereja seperti ini masih sama dengan awal berdiri. "Kalaupun ada renovasi hanya memperbarui catnya," kata seorang pengurus gereja.

Bagian dalam gereja seluruhnya juga masih asli dan sangat terawat. Patung Empat Tokoh Agung dari Perjanjian Lama dan Baru, yakni Abraham, St Petrus, St Paulus, dan Imam Melkisedek menghiasi altar lama di atas Tabernakel (tempat penyembahan). Patung ini didatangkan dari Jerman pada tahun 1880.

Orgel pipa (alat musik gerejawi) yang menunjang Liturgi (upacara) juga masih terlihat kukuh. Kualitas suara dari alat musik ini sangat khas, yakni sendu dan merdu, serta tidak banyak gereja yang memilikinya.

Alat musik itu pernah diperbaiki pada tahun 1993, namun tidak dapat difungsikan maksimal karena telah dimakan usia.

Patung Hati Kudus

Yang cukup menarik, di salah satu sudut ruangan gereja terdapat Patung Hati Kudus Yesus, terbuat dari kayu berdiri di atas nisan Mgr Lijnen (pendiri gereja) yang konon berhasil diselamatkan dari pekuburan Kobong yang tidak terawat. Di tempat itu dahulu bejana baptis terletak.

Ukiran 14 stasi Jalan Salib Tuhan menghiasi dinding kanan dan kiri gedung menjadi sebuah karya seni yang indah. Ukiran itu menceritakan bagaimana perjalanan Yesus mulai diadili oleh Raja Pilatus, disiksa, terjatuh hingga disalib.

Di sisi atas altar ruang gereja terdapat art-glass yang sudah berusia ratusan tahun, menekankan pada figur St Yusuf sebagai pelindung Gereja Katolik Gedangan.

Secara urut dari sisi kanan altar, gambar di jendela tersebut menggambarkan Keluarga Kudus (Yesus Kristus, Bunda Maria, dan Yusup) dalam perjalanan ke Mesir, kehidupan sehari-hari Keluarga Kudus dan wafat St Yusuf.

Gereja ini memiliki dua buah lonceng yang dibunyikan setiap setengah jam sebelum misa dimulai.

Kedua lonceng itu memiliki ukuran yang berbeda. Lonceng besar (tinggi 93,5 cm dan diameter lubang bawah 90 cm) dan lonceng kecil (tinggi 75 cm, diamater lubang bawah 70 cm). Keduanya terbuat dari bahan besi cetak atau cor dengan ketebalan 7-8 cm untuk lonceng besar dan 5-6 cm untuk lonceng kecil.

Di dalam lonceng tersebut terdapat tahun pembuatan, yakni April 1882 dan dibuat oleh perusahaan Petit en Fritsen di Aaerle Riktel dan dikapalkan dari Rotterdam.

Dari lonceng tersebut juga tertera nama Joseph Andrieux, yang dalam buku sejarah gereja, dia adalah anak dari Ludovicus A Andrieux dan Catharina FE Marquise yang lahir pada 27 Maret 1823 dan sudah dibabtis di Semarang.

"Dari catatan itu dapat disimpulkan, mereka berasal dari Prancis yang tinggal di Semarang pada zaman itu," ujar tim penulis buku Sejarah St Yusuf.

Pada waktu itu, di menara gereja terdapat jam menara yang bisa terlihat setiap orang yang melewati gereja. Sistem mesin jam menara tersebut tersambung dengan lonceng kecil, sehingga dapat berbunyi setiap setengah jam.

Namun, jam tersebut kini harus diturunkan karena sistem mesin dan jarum-jarum jam digantikan dengan tulisan IHS seperti sekarang ini.

Adapun penggantian jam menara tersebut dilakukan sekitar tahun 1978 oleh Romo J Van Waijenburg SJ. Huruf IHS tersebut sebenarnya merupakan tiga huruf pertama dari nama Yesus seperti tertulis dalam abjad Yunani.

Dalam bahasa Latin diartikan Iesus Hominum Salvator yang berarti Yesus Penyelamat Manusia. (Arie Widiarto-83k)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA